Budaya Asli Indonesia

Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil ,dsb. Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, Agama Asli Nusantara semakin punah dan menghilang, kalaupun ada yang menganutnya, biasanya berada didaerah pedalaman seperti contohnya pedalaman Sumatra dan pedalaman Irian Jaya.
Di Indonesia, aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang. Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan. Data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih.
Daftar Agama Asli Nusantara (kepercayaan)
• Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)
• Agama Jawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)
• Buhun (Jawa Barat)
• Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)
• Parmalim (Sumatera Utara)
• Kaharingan (Kalimantan)
• Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)
• Tolottang (Sulawesi Selatan)
• Wetu telu (Lombok)
• Naurus (pulau Seram, Maluku)
• Aliran Mulajadi Nabolon
• Marapu (Sumba)
• Purwaduksina
• Budi Luhur
• Pahkampetan
• Bolim
• Basora
• Samawi
• Sirnagalih
1. Sunda Wiwitan

Sunda Wiwitan (Bahasa Sunda : “Sunda permulaan”, “Sunda sejati”, atau “Sunda asli”) adalah agama atau kepercayaan asli masyarakat Sunda yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu.
Berdasarkan keterangan kokolot (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut Hindu atau Buddha, melainkan penganut ajaran leluhur, yaitu kepercayaan asli nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran Hindu, dan hingga batas tertentu, ajaran Islam Dalam Carita Parahyangan kepercayaan ini disebut sebagai ajaran “Jatisunda“.
Mitologi dan sistem kepercayaan
Kekuasaan tertinggi berada pada Sang Hyang Kersa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Dia juga disebut sebagai Batara Tunggal (Tuhan yang Mahaesa),Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib). Dia bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep Hindu (Brahma, Wishnu, Shiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala.
Ada tiga macam alam dalam kepercayaan Sunda Wiwitan seperti disebutkan dalam pantun mengenai mitologi orang Kanekes:
1. Buana Nyungcung: tempat bersemayam Sang Hyang Kersa, yang letaknya paling atas
2. Buana Panca Tengah: tempat berdiam manusia dan makhluk lainnya, letaknya di tengah
3. Buana Larang: neraka, letaknya paling bawah
Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapis alam yang tersusun dari atas ke bawah. Lapisan teratas bernama Bumi Suci Alam Padang atau menurut kropak 630 bernama Alam Kahyangan atau Mandala Hyang. Lapisan alam kedua tertinggi itu merupakan alam tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghyang Asri dan Sunan Ambu.
Sang Hyang Kersa menurunkan tujuh batara di Sasaka Pusaka Buana. Salah satu dari tujuh batara itu adalah Batara Cikal, paling tua yang dianggap sebagai leluhur orang Kanekes. Keturunan lainnya merupakan batara-batara yang memerintah di berbagai wilayah lainnya di tanah Sunda. Pengertian nurunkeun (menurunkan) batara ini bukan melahirkan tetapi mengadakan atau menciptakan.

Filosofi

Paham atau ajaran dari suatu agama senantiasa mengandung unsur-unsur yang tersurat dan yang tersirat. Unsur yang tersurat adalah apa yang secara jelas dinyatakan sebagai pola hidup yang harus dijalani, sedangkan yang tersirat adalah pemahaman yang komprehensif atas ajaran tersebut. Ajaran Sunda Wiwitan pada dasarnya berangkat dari dua prinsip, yaitu Cara Ciri Manusia dan Cara Ciri Bangsa.
Cara Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada lima unsur yang termasuk di dalamnya:
• Welas asih: cinta kasih
• Undak usuk: tatanan dalam kekeluargaan
• Tata krama: tatanan perilaku
• Budi bahasa dan budaya
• Wiwaha yudha naradha: sifat dasar manusia yang selalu memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya
Kalau satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka manusia pasti tidak akan melakukannya.
Prinsip yang kedua adalah Cara Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memang mempunyai kesamaan di dalam hal Cara Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antar manusia tersebut didasarkan pada Cara Ciri Bangsa yang terdiri dari:
• Rupa
• Adat
• Bahasa
• Aksara
• Budaya
Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Sunda Wiwitan, yang bernama Siksa Kanda-ng karesian. Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa yang tersirat. Apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan.
Awalnya, Sunda Wiwitan tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Tabu utama yang diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua.
• Yang tidak disenangi orang lain dan yang membahayakan orang lain
• Yang bisa membahayakan diri sendiri
Akan tetapi karena perkembangannya, untuk menghormati tempat suci dan keramat (Kabuyutan, yang disebut Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas) serta menaati serangkaian aturan mengenai tradisi bercocok tanam dan panen, maka ajaran Sunda Wiwitan mengenal banyak larangan dan tabu. Tabu (dalam bahasa orang Kanekes disebut “Buyut”) paling banyak diamalkan oleh mereka yang tinggal di kawasan inti atau paling suci, mereka dikenal sebagai orang Baduy Dalam.

Tradisi
Dalam ajaran Sunda Wiwitan terdapat tradisi nyanyian pantun dan kidung serta gerak tarian. Tradisi ini dapat dilihat dari upacara syukuran panen padi dan perayaan pergantian tahun yang berdasarkan pada penanggalan Sunda yang dikenal dengan nama Perayaan Seren Taun. Di berbagai tempat di Jawa Barat, Seren Taun selalu berlangsung meriah dan dihadiri oleh ribuan orang. Perayaan Seren Taun dapat ditemukan di beberapa desa seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Di Cigugur, Kuningan sendiri, satu daerah yang masih memegang teguh budaya Sunda, mereka yang ikut merayakan Seren Taun ini datang dari berbagai penjuru negeri.
Meskipun sudah terjadi inkulturasi dan banyak orang Sunda yang memeluk agama-agama di luar Sunda Wiwitan, paham dan adat yang telah diajarkan oleh agama ini masih tetap dijadikan penuntun di dalam kehidupan orang-orang Sunda. Secara budaya, orang Sunda belum meninggalkan agama Sunda ini.

2. Agama Djawa Sunda
Agama Djawa Sunda (sering disingkat menjadi ADS) adalah nama yang diberikan oleh pihak antropolog Belanda terhadap kepercayaan sejumlah masyarakat yang tersebar di daerah Kecamatan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Agama ini juga dikenal sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang), agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur. Abdul Rozak, seorang peneliti kepercayaan Sunda, menyebutkan bahwa agama ini adalah bagian dari agama Buhun, yaitu kepercayaan tradisional masyarakat Sunda yang tidak hanya terbatas pada masyarakat Cigugur di Kabupaten Kuningan, tetapi juga masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak, para pemeluk “Agama Kuring” di daerah Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dll.
Jumlah pemeluknya di daerah Cigugur sekitar 3.000 orang. Bila para pemeluk di daerah-daerah lain ikut dihitung, maka jumlah pemeluk agama Buhun ini, menurut Abdul Rozak, mencapai 100.000 orang, sehingga agama Buhun termasuk salah satu kelompok yang terbesar di kalangan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Agama Djawa Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Oleh pemerintah Belanda, Madrais belakangan ditangkap dan dibuang ke Ternate, dan baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya.
Madrais — yang biasa juga dipanggil Kiai Madrais — adalah keturunan dari Kesultanan Gebang, sebuah kesultanan di wilayah Cirebon Timur. Ketika pemerintah Hindia Belanda menyerang kesultanan ini, Madrais diungsikan ke daerah Cigugur. Sang pangeran yang juga dikenal sebagai Pangeran Sadewa Alibasa, dibesarkan dalam tradisi Islam dan tumbuh sebagai seorang spiritualis. Ia mendirikan pesantren sebagai pusat pengajaran agama Islam, namun kemudian mengembangkan pemahaman yang digalinya dari tradisi pra-Islam masyarakat Sunda yang agraris. Ia mengajarkan pentingnya menghargai cara dan ciri kebangsaan sendiri, yaitu Jawa-Sunda.

Ajaran dan ritual dalam ADS
Madrais menetapkan tanggal 22 Rayagung menurut kalender Sunda sebagai hari raya Seren Taun yang diperingati secara besar-besaran. Upacara ini dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, rumah peninggalan Kiai Madrais yang didirikan pada 1860, dan yang kini dihuni oleh Pangeran Djatikusuma.
Dalam upacara ini, berbagai rombongan dari masyarakat datang membawa bermacam-macam hasil bumi. Padi-padian yang dibawa, kemudian ditumbuk beramai-ramai dalam lesung sambil bernyanyi (ngagondang). Upacara ini dirayakan sebagai ungkapan syukur untuk hasil bumi yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Upacara “Seren Taun” yang biasanya berlangsung hingga tiga hari dan diwarnai oleh berbagai kesenian daerah ini, pernah dilarang oleh pemerintah Orde Baru selama 17 tahun, namun kini upacara ini dihidupkan kembali. Salah satu upacara “Seren Taun” pernah dihadiri oleh Menteri Perindustrian, Andung A Nitimiharja, mantan Presiden RI, Abdurrahman Wahid, dan istri, serta sejumlah pejabat pemerintah lainnya.
Madrais juga mengajarkan penghormatan terhadap Dewi Sri (Sanghyang Sri) melalui upacara-upacara keagamaan penanaman padi.
Selain itu karena non muslim Agama Djawa Sunda atau ajaran Madrais ini tidak mewajibkan khitanan. Jenazah orang yang meninggal harus dikuburkan dalam sebuah peti mati.

Masa depan ADS

Di masa pemerintahan Orde Baru, para pemeluk agama ini mengalami kesulitan karena pemerintah hanya mengakui keberadaan lima agama, hingga akhirnya banyak pengikutnya yang kemudian memilih untuk memeluk Islam atau Katolik.
Kiai Madrais wafat pada tahun 1939, dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh anaknya, Pangeran Tedjabuana, dan kemudian oleh cucunya, Pangeran Djatikusuma yang 11 juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU).
Pangeran Djatikusuma telah mempersiapkan anak laki-laki satu-satunya, yaitu Gumirat Barna Alam, untuk meneruskan ajaran ini. Menurut ajaran Kiai Madrais, anak lelaki harus bersikap netral, dan dapat mengerti semua agama. Sementara anak-anak Pangeran Djatikusuma lainnya, bebas memilih agama ataupun kepercayaan lain.

3. Kejawen
Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa, sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yg berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama asli Nusantara. Seorang ahli anthropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang agama ini dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut “Agami Jawi”.
Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofii orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa.
Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku. Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat, dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Dalam pandangan demikian, kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya. Hampir tidak ada kegiatan perluasan ajaran (misi) namun pembinaan dilakukan secara rutin.
Simbol-simbol “laku” biasanya melibatkan benda-benda yang diambil dari tradisi yang dianggap asli Jawa, seperti keris, wayang, ritual, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Akibatnya banyak orang yang tidak memahami yang dengan mudah mengasosiasikan kejawen dengan praktek klenik dan perdukunan.
Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

Beberapa aliran kejawen

Terdapat ratusan aliran kejawen dengan penekanan ajaran yang berbeda-beda. Beberapa jelas-jelas sinkretik, yang lainnya bersifat reaktif terhadap ajaran agama tertentu. Namun biasanya ajaran yang banyak anggotanya lebih menekankan pada cara mencapai keseimbangan hidup dan tidak melarang anggotanya mempraktekkan ajaran agama (lain) tertentu.
Beberapa aliran dengan anggota besar
• Padepokan Cakrakembang
• Sumarah
• Budi Dharma
• Maneges
Aliran yang bersifat reaktif misalnya aliran yang mengikuti ajaran Sabdopalon, atau penghayat ajaran Syekh Siti Jenar.

4. Parmalim
Parmalim, adalah nama sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dibilang agama yang terutama dianut di Propinsi Sumatra Utara. Agama Parmalim adalah agama asli suku Batak.
Pimpinan Parmalim saat ini adalah Raja marnangkok Naipospos.
Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak dahulu kala. “Tuhan Debata Mulajadi Nabolon” adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh “Umat Ugamo Malim” (“Parmalim”).

5. Kaharingan

Kaharingan/Hindu Kaharingan adalah kepercayaan/agama lokal suku Dayak di Kalimantan Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Karena Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui Pemerintah, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tolottang (Hindu Tolottang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu sejak 20 April 1980, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut Yadnya. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa, hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut Ranying.
Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat Ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.
Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yang dinamakan Balai Basarah atau BALAI KAHARINGAN. Kitab suci agama mereka adalah Panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.
Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam Kartu Tanda Penduduk. Dengan demikian, suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara. Hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik Kalteng mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan di Indonesia.
Tetapi di Malaysia Timur ( Sarawak dan Sabah ), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama Hindu, jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) pusatnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah

6. Wetu Telu
Wetu Telu (Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam di masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.

Sejarah
Konon, sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinemisme kemudian Hindu. Islam pertama kali masuk melalui para wali dari pulau Jawa yakni sunan Prapen pada sekitar abad XVI, setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit. Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah Bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja.
Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan “Waktu Telu” sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme, dinamisme dan kerpercayaan Hindu. Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan “Waktu Lima” karena menjalankan kewajiban salat Lima Waktu).Yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian,kelahiran,penyembelihan hewan,selamatan dsb) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.

Lokasi

Lokasi yang terkenal dengan praktik Wetu Telu di Lombok adalah daerah Bayan, yang terletak di Kabupaten Lombok Barat. Pada lokasi ini masih dapat ditemukan masjid yang digunakan oleh para penganut Wetu Telu. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa. Namanya Kemaliq yang artinya tabu, suci dan sakral.terletak di desa Lingsar Kabupaten Lombok Barat, yang setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama Upacara Pujawali Dan Perang Topat“ sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Tuhan YME pada umat manusia.

7. Marapu
Marapu adalah sebuah agama lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Agama ini merupakan kepercayaan peninggalan nenek moyang dan leluhur. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini.
Pemeluk agama ini percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu.
upacara keagamaan marapu ( seperti upacara kematian dsb) selalu diikuti dengan pemotongan hewan seperti kerbau dan kuda swebagai korban sembelihan, dan hal itu sudah menjadi tradisi turun – temurun yang terus di jaga di Sumba.

AGAMA MARAPU

Agama Marapu adalah “agama asli” yang masih hidup dan dianut oleh orang Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dalam bahasa Sumba arwah-arwah leluhur disebut Marapu , berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Karena itu agama yang mereka anut disebut Marapu pula. Marapu ini banyak sekali jumlahnya dan ada susunannya secara hirarki yang dibedakan menjadi dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu Ratu. Marapu ialah arwah leluhur yang didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas, clan), sedangkan Marapu Ratu ialahmarapu yang dianggap turun dari langit dan merupakan leluhur dari para marapu lainnya, jadi merupakan marapu yang mempunyai kedudukan yang tertinggi. Kehadiran para marapu di dunia nyata diwakili dan dilambangkan dengan lambang-lambang suci yang berupa perhiasan mas atau perak (ada pula berupa patung atau guci) yang disebut Tanggu Marapu. Lambang-lambang suci itu disimpan di Pangiangu Marapu, yaitu di bagian atas dalam menara uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) suatu kabihu. Walaupun mempunyai banyak Marapu yang sering disebut namanya, dipuja dan dimohon pertolongan, tetapi hal itu sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Yang Maha Pencipta. Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para leluhur itu sendiri, tetapi kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Pencipta dan Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa. Pengakuan adanya Yang Maha Pencipta biasanya dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat kiasan, itu pun hanya dalam upacara-upacara tertentu atau peristiwa-peristiwa penting saja. Dalam keyakinanMarapu, Yang Maha Pencipta tidak campur tangan dalam urusan duniawi dan dianggap tidak mungkin diketahui hakekatnya sehingga untuk menyebut nama-Nya pun dipantangkan. Sedangkan para Marapu itu sendiri dianggap sebagai media atau perantara untuk menghubungkan manusia dengan Penciptanya. Kedudukan dan peran para Marapu itu dimuliakan dan dipercaya sebagai lindi papakalangu – ketu papajolangu (titian yang menyeberangkan dan kaitan yang menjulurkan, sebagai perantara) antara manusia dengan Tuhannya. Selain memuja arwah leluhur, juga percaya bahwa benda-benda dan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya berjiwa dan berperasaan seperti manusia, dan percaya tentang adanya kekuatan gaib pada segala hal atau benda yang luar biasa. Untuk mengadakan hubungan dengan para arwah leluhur dan arwah-arwah lainnya, orang Sumba melakukan berbagai upacara keagamaan yang dipimpin oleh ratu (pendeta) dan didasarkan pada suatu kalender adat yang disebut Tanda Wulangu. Kalender adat itu tidak boleh diubah atau ditiadakan karena telah ditetapkan berdasarkan nuku-hara (hukum dan tata cara) dari para leluhur. Bila diubah dianggap akan menimbulkan kemarahan para leluhur dan akan berakibat buruk pada kehidupan manusia. Dalam kepercayaan agama Marapu, roh ditempatkan sebagai komponen yang paling utama, karena roh inilah yang harus kembali kepada Mawulu Tau-Majii Tau. Roh dari orang yang sudah mati akan menjadi penghuni Parai Marapu (negeri arwah, surga) dan dimuliakan sebagai Marapu bila semasa hidupnya di dunia memenuhi segala nuku-hara yang telah ditetapkan oleh para leluhur. Menurut kepercayaan tersebut ada dua macam roh, yaitu hamangu (jiwa, semangat) dan ndiawa atau ndewa (roh suci, dewa). Hamangu ialah roh manusia selama hidupnya yang menjadi inti dan sumber kekuatan dirinya. Berkat hamangu itulah manusia dapat berpikir, berperasaan dan bertindak. Hamangu akan bertambah kuat dalam pertumbuhan hidup, dan menjadi lemah ketika manusia sakit dan tua. Hamangu yang telah meninggalkan tubuh manusia akan menjadi makhluk halus dengan kepribadian tersendiri dan disebut ndiawa. Ndiawa ini ada dalam semua makhluk hidup, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan, yang kelak menjadi penghuni parai marapu pula. Hampir seluruh segi-segi kehidupan masyarakat Sumba diliputi oleh rasa keagamaan. Bisa dikatakan agama Marapu sebagai inti dari kebudayaan mereka, sebagai sumber nilai-nilai dan pandangan hidup serta mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Karena itu tidak terlalu mudah mereka melepaskan keagamaannya untuk menjadi penganut agama lain. Walaupun dalam budaya Sumba tidak dikenal bahasa tulisan, orang Sumba mempunyai kesusasteraan suci yang hidup dalam ingatan para ahli atau pemuka-pemuka agama mereka. Kesusasteraan suci ini disebut Lii Ndai atau Lii Marapu yang diucapkan atau diceriterakan pada upacara-upacara keagamaan diiringi nyanyian adat. Kesusasteraan suci dianggap bertuah dan dapat mendatangkan kemakmuran pada warga komunitas dan kesuburan bagi tanaman serta binatang ternak. Upacara-upacara keagamaan dan lingkaran hidup yang mereka laksanakan, terutama upacara kematian, diselenggarakan secara relatif mewah sehingga memberi kesan pemborosan. Namun bagi orang Sumba, hal tersebut mereka lakukan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Yang Maha Esa, tanda hormat dan bakti pada para leluhur, serta menjalin rasa solidaritas kekerabatan diantara mereka. Pada setiap upacara keagamaan berbagai bentuk kesenian biasanya ditampilkan pula. Dapat dikatakan bahwa kesenian merupakan pengiring bagi religi mereka. Upacara-upacara keagamaan di Sumba selalu dianggap keramat, karena itu tempat-tempat upacara, saat-saat upacara, benda-benda yang merupakan alat-alat dalam upacara serta orang-orang yang menjalankan upacara dianggap keramat pula. Mereka menyembah Mawulu Tau — Majii Tau dengan perantaraan para marapu yang merupakan media antara manusia dengan Penciptanya. Setiap kabihu mempunyai marapu sendiri yang dipujanya agar segala doa dan kehendaknya disampaikan kepada Maha Pencipta. Para marapu itu diupacarakan dan dipuja di dalam rumah-rumah yang didiami oleh warga suatu kabihuterutama di rumah yang disebut uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) atau uma bungguru (rumah persekutuan). Di dalam rumah itulah dilakukan upacara-upacara keagamaan yang menyangkut kepentingan seluruh warga kabihu, misalnya upacara kelahiran, perkawinan, kematian, menanam, memungut hasil dan sebagainya. Tempat upacara pemujaan kepada paramarapu bukan hanya di dalam rumah saja, tetapi juga di luar rumah, yaitu di katoda, tempat upacara pamujaan di luar rumah berupa tugu (semacam lingga-yoni) yang dibuat dari sebatang kayu kunjuru atau kayu kanawa yang pada sisi-sisinya diletakkan batu pipih. Di atas batu pipih inilah bermacam-macam sesaji, seperti pahapa (sirih pinang), kawadaku(keratan mas) dan uhu mangejingu (nasi kebuli) diletakkan untuk dipersembahkan kepada Umbu-Rambu (dewa-dewi) yang berada di tempat itu. Di dalam suatu paraingu biasanya terdapat pemujaan kepada satu marapu ratu (maha leluhur). Misalnya, maha leluhur di Umalulu ialah Umbu Endalu dan dipuja dalam suatu rumah kecil yang tidak dihuni manusia, karena itu rumah pemujaan tersebut bernama Uma Ndapataungu (rumah yang tak berorang) yang dalam luluku (bahasa puitis, berbait)disebut sebagai Uma Ndapataungu — Panongu Ndapakelangu (rumah yang tak berorang dan tangga yang tak berpijak). Menurut kepercayaan orang Umalulu, Umbu Endalu mendiami rumah tersebut secara gaib. Secara lahir rumah itu tampak kecil saja, tetapi secara gaib rumah itu sebenarnya merupakan rumah besar. Mereka menganggap Umbu Endalu senantiasa berada di dalam rumah tersebut, karena itu tangga untuk naik turun ke rumah selalu disandarkan. Rumah permujaan Uma Ndapataungu disebut juga Uma Ruu Kalamaku (rumah daun keIapa) karena atapnya dibuat dari daun kelapa; dan Uma Lilingu (rumah pemali), karena untuk datang dan membicarakan rumah tersebut harus menurut adat atau tata cara yang telah ditetapkan oleh para leluhur pula. Uma Ndapataungu berbentuk uma kamudungu (rumah tak bermenara) dan menghadap ke arah tundu luku (menurut aliran air sungai, hilir ) serta terletak di bagian kani padua (pertengahan, pusat) dari Paraingu Umalulu. Adapun bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah pemujaan itu ialah kayu ndai linga atau ai nitu (cendana) yang digunakan untuk tiang-tiang (jumlah seluruh tiang dari rumah pemujaan ini ada enam belas buah tiang), atap dan dinding dari bahan ruu kalamaku (daun kelapa), tali pengikat dari bahan huaba (selubung mayang kelapa). Bahan-bahan tersebut harus diambil dari suatu tempat yang bernama Kaali — Waruwaka dan sekitarnya. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan di Uma Ndapataunguialah upacara Pamangu Kawunga yang dilaksanakan empat tahun sekali, yaitu bertepatan dangan diperbaikinya tempat pemujaan tersebut; dan upacara Wunda lii hunggu — Lii maraku, yaitu upacara persembahan yang dilaksanakan setiap delapan tahun sekali. Menurut pandangan orang Sumba, manusia merupakan bagian dari alam semesta yang tak terpisahkan. Hidup manusia harus selalu disesuaikan dengan irama gerak alam semesta dan selalu mengusahakan agar ketertiban hubungan antara manusia dengan alam tidak berubah. Selain itu manusia harus pula mengusahakan keseimbangan hubungan dengan kekuatan-kekuatan gaib yang ada di setiap bagian alam semesta ini. Bila selalu memelihara hubungan baik atau kerja sama antara manusia dengan alam, maka keseimbangan dan ketertiban itu dapat dipertahankan. Hal tersebut berlaku pula antara manusia yang masih hidup dengan arwah-arwah dari manusia yang sudah mati. Manusia yang masih hidup mempunyai kewajiban untuk tetap dapat mengadakan hubungan dengan arwah-arwah leluhurnya. Mereka beranggapan bahwa para arwah leluhur itu selalu mengawasi dan menghukum keturunannya yang telah berani melanggar segala nuku — hara sehingga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam sekitarnya terganggu. Untuk memulihkan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh perbuatan manusia terhadap alam sekitarnya dan mengadakan kontak dengan para arwah leluhurnya, maka manusia harus melaksanakan berbagai upacara. Saat-saat upacara dirasakan sebagai saat-saat yang dianggap suci, genting dan penuh dengan bahaya gaib. Oleh karena itu, saat-saat upacara harus diatur waktunya agar sejajar dengan irama gerak alam semesta. Pengaturan waktu untuk melakukan berbagai upacara itu didasarkan pada kalender adat, tanda wulangu. Dalam jangka waktu kehidupan tiap individu dalam masyarakat Sumba ada saat yang dianggap genting atau krisis, yaitu saat kelahiran, menginjak dewasa, perkawinan dan kematian. Pada saat-saat seperti itulah upacara keagamaan biasanya dilaksanakan. (P. Soeriadiredja). MARAPU : AGAMA ASLI ORANG UMALULU di SUMBA TIMUR
(P. Soeriadiredja, LABANT – FS UNUD, DENPASAR 2002)
Makna istilah “agama” sering menimbulkan banyak kontroversi yang lebih besar daripada arti penting permasalahannya. Pada umumnya di Indonesia, istilah agama digunakan untuk menyebut semua agama yang diakui secara resmi oleh negara, seperti Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Sedangkan semua sistem keyakinan yang tidak atau belum diakui secara resmi disebut “religi” (Koentjaraningrat, 1974:137-142). Untuk menyatukan persepsi dan tidak menimbulkan perdebatan berkepanjangan, serta pertimbangan bahwa suatu sistem keyakinan atau religi merupakan suatu agama hanya bagi penganutnya, dan juga melihat situasi dari yang menghayatinya, meyakininya dan mendapat pengaruh darinya, maka dalam pembahasan ini akan digunakan istilah “agama” saja untuk menyebut suatu sistem keyakinan yang dianut oleh masyarakat penganutnya. Pernyataan tersebut penulis tekankan karena bertujuan hendak mendekati agama sebagai bagian dari kehidupan sosio-kultural dari masyarakat yang bersangkutan. Jadi terlepas dari kekeramatan dan kesucian yang terkait padanya secara dogmatis. Hendak melihat suatu kenyataan dari sudut pandang pelaku. Secara umum, Parsudi Suparlan (dalam Robertson,1988:v-xvi) mendefinisikan agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat. Karena itu pula agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya. Sebagai inti dari sistem nilai yang ada dalam kebudayaan, sistem keyakinan ini seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai tersebut yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai tersebut sukar diganti dengan nilai-nilai lain (Koentjaraningrat,1974:13,32-33).

Iklan

Tantra

Vajrayana
Vajrayana adalah suatu ajaran Buddha yang di Indonesia lebih sering dikenal dengan nama Tantra atau Tantrayana. Namun banyak juga istilah lain yang digunakan, seperti misalnya: mantrayana, ajaran mantra rahasia, ajaran Buddha eksoterik. Vajrayana adalah merupakan ajaran yang berkembang dari ajaran Buddha Mahayana, dan berbeda dalam hal praktek, bukan dalam hal filosofi. Dalam ajaran Vajrayana, latihan meditasi sering di barengi dengan visualisasi.
Filosofi
Filosofi ajaran agama Buddha dapat di bagi dua: Hinayana/Pratimokshayana (salah satunya Theravada) dan Mahayana. Hinayana menekankan pada pencapaian sebagai Arahat, sedangkan Mahayana pada pencapaian sebagai Bodhisattva. Tantrayana yang merupakan bagian dari Mahayana juga sering dikenal dengan nama jalan Boddhisattva. Hinayana dapat dibagi menjadi Vaibhashika dan Sautrantika. Sedangkan Mahayana dibagi menjadi Cittamatra dan Madhyamika. Madhyamaka ini terdiri dari Rangtong (yang mencakup Sautrantika dan Prasangika) dan Shentong (Yogacara). Keempat filosofi ajaran Buddha ini (Vaibhasika, Sautrantika, Cittamatra dan Madhyamika) telah ada sejak zaman Buddha Gautama, muncul karena adanya perbedaan kepercayaan, perbedaan level pemahaman, perbedaan pencapaian dan realisasi dari para murid Buddha.

Ajaran Vaibhasika dan Sautrantika banyak terdapat di Thailand, Burma, Sri Lanka, Kamboja. Ajaran Zen dari Mahayana serta Mahamudra dari Vajrayana dapat di golongkan ke dalam Cittamatra, karena ajaran ini percaya bahwa pikiran adalah segalanya (misalnya : apapun yang kita lihat, sebenarnya adalah merupakan proyeksi dari pikiran kita). Ajaran Cittamatra ini banyak ditemui di China, Taiwan, Jepang, Hongkong, Singapur, Malaysia, Indonesia serta Tibet dan sekitarnya. Ajaran Uma Shentongpa merupakan bagian dari ajaran Madyamika, yang percaya bahwa self-nature (sifat alami kita) sebenarnya tidaklah kosong, karena self-nature (sifat alami kita) adalah Buddha-nature (inti benih ke-Buddhaan), yang memiliki semua kualitas Buddha. Ajaran Madyamika ini awalnya banyak terdapat di pengunungan himalaya, seperti di Tibet, Nepal, Bhutan, Sikkim, namun sekarang telah ada di berbagai negara asia dan di negara barat. Ajaran Vajrayana secara umum di berbagai negara lebih dikenal sebagai ajaran agama Buddha Tibet, yang merupakan bagian dari Mahayana dan diajarkan langsung oleh Buddha Sakyamuni yang amat cocok untuk di praktikkan oleh umat perumah tangga, umat yang hidup sendiri (tidak menikah), ataupun umat yang memutuskan untuk hidup sebagai bhiksu di vihara Vajrayana.
Pandangan Salah
Di beberapa negara (terutama di asia), banyak sekali anggapan bahwa Vajrayana merupakan ajaran mistik, penuh dengan kegaiban. Hal ini sebenarnya tidaklah benar. Dalam Vajrayana, terdapat banyak sekali metoda dalam berlatih. Memang banyak sekali praktisi Vajrayana yang memiliki kemampuan luar biasa, namun hal ini bukanlah sesuatu yang mistik. Hal ini sebenarnya merupakan hasil samping dari latihan yang dilakukan, dan hal ini harus diabaikan. Seperti kata sang Buddha, yang dapat menyelamatkan kita pada saat kematian adalah Dharma, bukanlah kesaktian yang kita miliki. Sering kemampuan yang didapat ini menjadi penghalang dalam mencapai tujuan utama kita, yaitu mencapai pencerahan. Hasil samping berupa kemampuan (siddhi) ini sering akan meningkatkan kesombongan (ke-aku-an) kita, yang sebenarnya justru harus kita hilangkan, dan bukan merupakan sesuatu yang harus dibanggakan. Namun sayang sekali, banyak orang yang berpandangan salah, mereka mengagungkan kemampuan gaib yang dimiliki oleh seseorang, dan mengabaikan Dharma yang mulia. Hal ini dapat terjadi karena adanya kebodohan / ketidak tahuan (Moha) yang dimiliki.

Sang Buddha sering berpesan kepada murid-muridNya, bahwa mereka tidak boleh memperlihatkan kemampuan (siddhi) mereka, tanpa suatu tujuan yang mulia. Demikian pula, Para praktisi tinggi Vajrayana tidak pernah menunjukkan kemampuan mereka hanya demi ego, demi ketenaran, demi kebanggaan, ataupun demi materi. Para praktisi tinggi ini biasanya menunjukkan kemampuan pada murid-murid dekat, ataupun pada orang tertentu yang memiliki hubungan karma dengannya, demi Dharma yang mulia, misalnya untuk menghapus selubung kebodohan, ketidak tahuan, kekotoran batin, ataupun karena kurangnya devosi dalam diri murid tersebut.

Menurut catatan, banyak sekali praktisi tinggi Vajrayana yang memiliki kemampuan (siddhi) yang luar biasa, misalnya: menghidupkan kembali ikan yang telah dimakan (Tilopa), terbang di angkasa (Milarepa), membalikkan arus sungai gangga (Biwarpa), menahan matahari selama beberapa hari (Virupa), mencapai tubuh pelangi (tubuh hilang tanpa bekas, hanya meninggalkan kuku dan rambut sebagai bukti), berlari melebihi kecepatan kuda, merubah batu jadi emas atau air jadi anggur, memindahkan kesadaran seseorang ke alam suci Sukavati (yang dikenal dengan istilah phowa), dapat meramalkan secara tepat waktu serta tempat kematian & kalahirannya kembali (H.H. Karmapa), lidah dan jantung yang tidak terbakar ketika di kremasi, terdapat banyaknya relik dari sisa kremasi, dll. Di dalam Vajrayana, semua hasil yang kita peroleh dari latihan kita, haruslah kita simpan serapi mungkin, bukan untuk di ceritakan pada orang lain. Sebagai pengecualian, kita boleh mendiskusikan hal tersebut dengan Guru kita, jika memang ada hal yang kurang kita mengerti.
Pentingnya Guru yang berkwalitas
Dalam ajaran Vajrayana, hubungan antara seorang Guru dan seorang murid adalah amat penting. Seorang murid tidak akan pernah memperoleh pencapaian tanpa bantuan seorang Guru yang berkualitas, karena Guru yang berkwalitas merupakan perwujudan dari Buddha, Dharma dan Sangha. Di dalam Vajrayana, seorang guru bisa saja merupakan seorang Yogi (pertapa), seorang His Holliness, seorang Rinpoche, ataupun seorang Lama. Seorang Guru berkualitas adalah guru yang telah diakui oleh pimpinan keempat aliran: Nyingmapa, Sakyapa, Kagyudpa, Gelugpa. Didalam Vajrayana seorang praktisi tidak dilarang untuk menikah, serta juga tidak diharuskan untuk hidup bervegetarian (Catatan: Pada saat bercocok tanam, banyak juga mahluk yang terbunuh. Hidup sebagai seorang vegetarian tidaklah menjadikan kita suci, tergantung motivasi kita. Prilaku kita dalam berlatih sehari-harilah yang amat menentukan, termasuk di dalamnya : perbuatan / Tubuh, Ucapan serta Pikiran kita). Banyak dari Guru Vajrayana yang tidak menikah, namun tidak sedikit juga yang menikah. Pasangan dari seorang Guru Vajrayana bukanlah seorang wanita biasa, mereka biasanya merupakan seorang dakini (mahluk suci yang telah memperoleh pencapaian) yang ditugaskan untuk membantu sang Guru dalam memperoleh pencapaian demi kebahagiaan semua mahluk.

Dalam ajaran Theravada dan Mahayana dikenal dengan istilah 3 akar, yaitu mengambil perlindungan pada Buddha, Dharma dan Sangha. Di dalam ajaran Vajrayana, selain penyerahan total Tubuh, Ucapan, Pikiran dan berlindung pada Buddha, Dharma dan Sangha, terdapat juga 3 akar tambahan, yaitu: penyerahan total Tubuh, Ucapan, Pikiran dan berlindung pada Guru, Yidam dan Protektor. Ketika kita berbicara tentang penyerahan total dan perlindungan, maka terlihat jelas betapa pentingnya kita mencari seorang Guru yang benar-benar berkwalitas, yang hanya dengan bantuan dan berkah yang diberikanNya kita bisa mencapai pencerahan.

Di dalam latihan, amat diperlukan seorang guru yang berkualitas, sehingga kita perlu berhati-hati dalam memilih seorang guru (words of my perfect teacher – Patrul Rinpoche). Seorang guru yang berkualitaslah yang dapat membimbing dan membantu kita dalam mencapai pencerahan. Kualitas seorang guru dapat kita lihat dari riwayat silsilah beliau (kebanyakan merupakan seorang Tulku) serta adanya pengakuan dari pimpinan ke empat aliran (Nyingmapa, Sakyapa, Kagyudpa, Gelugpa). Hal ini yang menjadi salah satu unsur pokok dalam Vajrayana. Pada saat lahirnya seorang Tulku (guru berkwalitas), biasanya di tandai dengan adanya tanda alam yang ikut bergembira, misalnya: adanya pelangi, udara dipenuhi dengan wangi dupa dan bunga, terdengar alunan musik di angkasa, dll. Pada saat di kremasi, sering lidah dan jantung seorang Tulku tidak terbakar, adanya tulisan mantra di batok kepala, juga sering di temukan relik-relik yang indah. Tidak jarang juga seorang Tulku mencapai tubuh pelangi saat mereka meninggal (tubuh hilang tanpa bekas, hanya meninggalkan kuku dan rambut sebagai bukti).

Dalam melaksanakan latihan, sering dianjurkan untuk berlatih tiap hari secara disiplin. Banyak guru mengatakan bahwa lebih baik berlatih 10 menit tiap hari, daripada berlatih 300 menit secara berturut-turut tanpa henti, lalu istirahat selama sebulan.
Istilah Ajaran (Mantra) Rahasia
Dalam tradisi tertentu, sering ajaran diturunkan secara rahasia dari seorang guru kepada seorang murid (seperti misalnya ajaran Bisikan Dakini yang di terima oleh Tilopa langsung dari Dakini, yang diajarkan kepada Naropa, kemudian diturunkan secara rahasia oleh Milarepa hanya kepada seorang murid saja (Gampopa), sang murid juga menurunkan hanya kepada seorang muridnya, begitu seterusnya, ajaran ini tidak diberikan kepada umum). Dengan adanya hal-hal seperti ini, sering juga ajaran Vajrayana di kenal dengan ajaran rahasia. Karena praktek Vajrayana tidak terlepas dari penjapaan mantra, maka sering juga dikenal dengan istilah ajaran mantra rahasia.

Ajaran Vajrayana sering juga disebut dengan Praktek Rahasia, atau Kendaraan Rahasia. Hal ini menggambarkan bahwa ketika seorang praktisi semakin merahasiakan latihannya, maka ia akan semakin mendapatkan kemajuan pencapaian dan berkah dari latihan yang ia lakukan. Semakin ia menceritakan tentang latihannya, maka semakin sedikit berkah yang akan ia peroleh.

Selain itu dalam Vajrayana terdapat juga latihan Protektor, latihan Channel dan Cakra. Jika latihan ini di publikasi, maka akan mengakibatkan adanya salah tafsir dari arti latihan yang sebenarnya, yang banyak terjadi pada mereka yang kurang percaya ataupun yang tidak mengerti. Sebagai contoh : Jika orang mendengar tentang Buddha, maka dalam bayangan mereka Buddha di gambarkan sebagai suatu yang tenang, damai dan indah. Namun beberapa gambar Protektor terlihat murka/garang, walaupun sebenarnya Protektor adalah merupakan manifestasi dari Buddha. Jika orang awan melihat hal ini, maka mereka akan mulai mengkritik dan menyalah artikan ajaran Vajrayana, dan hal ini akan berakibat terjadinya karma buruk, yang tentu amat merugikan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, dalam latihan tingkat tinggi Vajrayana, latihan selalu harus dilakukan secara rahasia.
Sejarah dan Silsilah Vajrayana
Buddhadharma atau Buddhisme mulai masuk ke Tibet sekitar abad ketujuh pada masa pemerintahan Raja Songtsen Gampo. Pada abad kedelapan, Buddhisme mulai berakar di Tibet, yaitu pada masa pemerintahan Raja Trisong Detsen. Acharya Padmasambhava dan Abbot Shantirakshita membantu Raja untuk membawa dharma ke Tibet dan menerjemahkan ajaran-ajaran Buddha ke dalam bahasa Tibet. Semua ajaran dan praktik Buddhisme Tibet berasal langsung dari Buddha Sakyamuni. Tidak dapat dipungkiri bahwa ajaran yang berada di Tibet mempunyai hubungan ke suatu tradisi di India. Vajrayana memiliki 4 tradisi atau silsilah, yakni: Silsilah Nyingmapa, Silsilah Sakyapa, Silsilah Kagyudpa, dan Silsilah Gelugpa.
Silsilah Nyingmapa
Silsilah Nyingma (sering disebut silsilah Terma) merujuk pada Buddha Samantabhadra, Vajrasattva, dan Garab Dorje dari Uddiyana. Sosok yang paling penting dalam Nyingma adalah maha guru dari India Guru Padmasambhava, sebagai pendiri dari silsilah Nyingma, yang datang ke Tibet di abad kedelapan. Padmasambhava diundang oleh Raja Mindrolling Trichen Trisong Deutsan (742-797) untuk memusnahkan kekuatan jahat dan mendirikan pusat pengajaran agama Buddha di Tibet. Ia dikenal dengan nama Guru Rinpoche (guru yang amat berharga). Selama bertahun-tahun Guru Rinpoche dan Abbot Shantarakshita mengajarkan sutra dan tantra secara menyeluruh di Tibet. Padmasambhava menyembunyikan secara gaib ratusan Terma (ajaran dan petunjuk) dalam bentuk: kitab suci, gambar, artikel / teks upacara agama, yang hanya dapat ditemukan oleh orang tertentu yang memiliki pencapaian, di masa depan. Sebagian dari Terma ini telah ditemukan, dan diajarkan secara rahasia dari guru ke murid. Maka muncullah istilah silsilah Terma (wahyu). Pimpinan Nyingma saat ini adalah Yang Mulia Mindrolling Trichen Rinpoche, yang mendirikan biara Mindrolling di Clementown, Dehradun, India.
Silsilah Sakyapa
Silsilah Sakya dimulai dari seorang yogi besar India, Virupa (abad ke-9), salah satu dari 84 Mahasiddhas yang amat terkenal dan memiliki pencapaian serta dapat melakukan berbagai keajaiban. Melalui Gayadhara (994-1043) silsilah ajaran diturunkan kepada seorang murid Tibet bernama Drokmi Lotsawa Shakya Yeshe (992-1072 ). Drokmi Lotsawa kemudian menurunkan silsilah ajaran kepada murid utamanya, Khon Könchok Gyalpo (1034-1102), yang membangun biara besar di wilayah Tsang, di pusat Tibet. Tradisi garis silsilah Sakya berhubungan erat dengan keluarga Khon, yang menurut sejarahnya berasal dari mahluk sempurna yang memiliki pencapaian tinggi. Silsilah ini berlanjut terus hingga sekarang sejak masa Könchok Gyalpo (1034-l102), sebagai pendiri tradisi sakya. Pimpinan silsilah ajaran Sakya saat ini adalah Yang Mulia Sakya Trizin (Ngakwang Kunga Thekchen Palbar Samphel Ganggi Gyalpo), yang lahir pada tahun 1945 di Tsedong, Tibet. Yang Mulia Sakya Trizin tinggal di Rajpur, India dan melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk menyebarkan ajaran silsilah Sakya demi kebahagiaan semua mahluk. Pada tahun 1974, Yang Mulia Sakya Trizin menikahi Dakmo Tashi Lhakyi dan memiliki dua anak, Ratna Vajra Rinpoche (lahir tahun 1974) dan Jnana Vajra Rinpoche (lahir tahun 1979).
Silsilah Kagyudpa
Silsilah Kagyud dimulai dari Mahasiddha agung Tilopa (988-1069), salah satu dari 84 mahasiddhas besar India, yang pertama kali mengembangkan wawasan spontan. Pencapaian ini diperoleh melalui methoda yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni hanya kepada murid terdekat beliau. Tilopa sendiri sebenarnya bukanlah manusia biasa. Ketika Tilopa masih muda, ada sosok Dakini bertampang seram yang menampakkan diri di hadapannya. Tilopa menanyakan status, asal-usul dan keluarganya, dan Dakini ini menjawab : “Negrimu adalah Udiyana, ayahmu adalah Chakrasamvara, ibumu adalah Vajrayogini”. Tilopa kemudian menurunkan garis silsilah Kagyu kepada Naropa (1016-1100) dan diteruskan kepada Marpa Lotsawa (1012-1097), berlanjut kepada Milarepa (1052-1135) seorang yogi yang amat terkenal di Tibet, yang mencapai pencerahan dalam 1 kehidupan (Malarepa awalnya adalah seorang dukun aliran Bon yang berilmu amat tinggi, yang telah membunuh penduduk sebuah desa dengan jalan menciptakan batu besar dan menjatuhkannya dari langit, serta menciptakan kalajengking dan kelabang sebesar sebuah rumah). Milarepa memperoleh pencerahan dibawah bimbingan yang amat keras dari gurunya, Marpa Lotsawa. Karena keuletan dan devosi yang besar terhadap Dharma, Milarepa berlatih dengan keras, tanpa mengenal lelah setiap detik, hingga tidak memikirkan makan serta hal duniawi lainnya. Dengan memperhatian pikiran yang muncul, membuang semua noda batin, akhirnya Milarepa mampu mencapai pencerahan hanya dalam 1 kehidupan dan memiliki banyak sekali kemampuan supra natural. Milarepa menurunkan silsilah pada Gampopa (1079-1153), yang kemudian diturunkan kepada Karmapa I – Dusum Kyenpa (1110-1193) dan berlanjut hingga sekarang pada Karmapa XVII – Ogyen Trinley Dorje (lahir tahun 1985). Silsilah Kagyud dapat dibagi menjadi 4 aliran besar dan 8 aliran kecil. Keempat aliarn besar tersebut adalah : Phaktru (‘phag gru) Kagyud, Kamtsang (kam tshang) atau disebut juga Karma (kar ma) Kagyud, Tsalpa (tshal pa) Kagyud, Barom (‘ba’ rom) Kagyud. Sedangkan 8 aliran kecil merupakan subbagian dari Phaktru Kagyud, yaitu : Drikhung Kagyud, Drukpa Kagyud, Taklung Kagyud, Yasang Kagyud, Trophu Kagyud, Shuksep Kagyud, Yelpa Kagyud, serta Martsang Kagyud. Pimpinan dari Silsilah Kagyud saat ini adalah Yang Mulia Karmapa XVII – Ogyen Trinley Dorje, yang merupakan reinkarnasi ke 17 Karmapa, dan sekarang hidup di pengasingan di India. Ia di yakini sebagai emanasi dari Bodhisattva Chenrezig, dan akan menjadi Buddha ke 6 yang membabarkan dharma di masa yang akan datang, dengan nama Buddha Simha (setelah Boddhisatva Maitreya sebagai Buddha ke 5 – yang akan lahir kembali terakhir kali sebagai pangeran Ajita). Buddha Sakyamuni – yang terlahir sebagai pangeran Sidharta Gautama – merupakan Buddha ke 4, Buddha saat ini (akan ada 1002 Buddha dalam Kalpa ini). Buddha Simha (H.H. Karmapa) ini telah diramalkan oleh Sang Buddha sendiri dan tertulis dalam Bhadrakalpa Sutra (ditulis dalam bahasa Sansekerta).
Silsilah Gelugpa
Silsilah Gelugpa berasal dari tradisi Kadampa, yang di ajarkan oleh guru besar dari India, Atisha (982-1054). Silsilah Gelugpa ini didirikan oleh seorang guru besar Tibet, Je Tsongkhapa Lobsang Drakpa (1357-1419). Je Tsongkhapa mendirikan biara Gaden (Drok Riwo Ganden) yang menjadi pusat pengajaran silsilah Gelug. Pimpinan silsilah Gelug disebut dengan Gaden Tripa Rinpoche (pemegang takhta). Yang Mulia Gaden Tripa Rinpoche saat ini adalah Khensur Lungri Namgyel, yang merupakan pemegang silsilah ke 101 dari Gaden Tripa (sejak 2003).

Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Yang Mulia Dalai Lama XIV. Beliau selain sebagai seorang spiritual, juga seorang tokoh politik Tibet yang disengani berbagai pihak, termasuk negara barat. Dalai Lama XIV saat ini hidup di pengasingan, di Dharamsala (India).

Dewi Sri

Dewi Sri atau Dewi Shri (Bahasa Jawa), Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Bahasa Sunda), adalah dewi pertanian, dewi padi dan sawah, serta dewi kesuburan di pulau Jawa dan Bali. Pemuliaan dan pemujaan terhadapnya berlangsung sejak masa pra-Hindu dan pra-Islam di pulau Jawa.
Atribut dan legenda
Ia dipercaya sebagai dewi yang menguasai ranah dunia bawah tanah juga bulan. Perannya mencakup segala aspek Dewi Ibu, yakni sebagai pelindung kelahiran dan kehidupan. Ia juga dapat mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi: bahan makanan pokok masyarakat Indonesia; maka ia mengatur kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran. Berkahnya terutama panen padi yang berlimpah dan dimuliakan sejak masa kerajaan kuno di pulau Jawa seperti Majapahit dan Pajajaran.
Dewi Sri juga mengendalikan segala kebalikannya yaitu ; kemiskinan, bencana kelaparan, hama penyakit, dan hingga batas tertentu, memengaruhi kematian. Karena ia merupakan simbol bagi padi, ia juga dipandang sebagai ibu kehidupan. Seringkali ia dihubungkan dengan tanaman padi dan ular sawah.
Mitos dewi padi
Upacara untuk Dewi Sri (mapag Sri) pada saat panen diKarang Tengah, Tuntang, Semarang (sekitar 1910)
Kebanyakan kisah mengenai Dewi Sri terkait dengan mitos asal mula terciptanya tanaman padi, bahan pangan utama di kawasan ini. Berikut ini adalah salah satu kisah mengenai Dewi Sri sebagai dewi padi berdasarkan “Wawacan Sulanjana”:[1] [2]
Dahulu kala di Kahyangan, Batara Guru yang menjadi penguasa tertinggi kerajaan langit, memerintahkan segenap dewa dan dewi untuk bergotong-royong, menyumbangkan tenaga untuk membangun istana baru di kahyangan. Siapapun yang tidak menaati perintah ini dianggap pemalas, dan akan dipotong tangan dan kakinya.
Mendengar titah Batara Guru, Antaboga (Anta) sang dewa ular sangat cemas. Betapa tidak, ia samasekali tidak memiliki tangan dan kaki untuk bekerja. Jika harus dihukum pun, tinggal lehernyalah yang dapat dipotong, dan itu berarti kematian. Anta sangat ketakutan, kemudian ia meminta nasihat Batara Narada, saudara Batara Guru, mengenai masalah yang dihadapinya. Tetapi sayang sekali, Batara Narada pun bingung dan tak dapat menemukan cara untuk membantu sang dewa ular. Putus asa, Dewa Anta pun menangis terdesu-sedu meratapi betapa buruk nasibnya.
Akan tetapi ketika tetes air mata Anta jatuh ke tanah, dengan ajaib tiga tetes air mata berubah menjadi mustika yang berkilau-kilau bagai permata. Butiran itu sesungguhnya adalah telur yang memiliki cangkang yang indah. Barata Narada menyarankan agar butiran mustika itu dipersembahkan kepada Batara Guru sebagai bentuk permohonan agar beliau memahami dan mengampuni kekurangan Anta yang tidak dapat ikut bekerja membangun istana.
Dengan mengulum tiga butir telur mustika dalam mulutnya, Anta pun berangkat menuju istana Batara Guru. Di tengah perjalanan Anta bertemu dengan seekor burung gagak yang kemudian menyapa Anta dan menanyakan kemana ia hendak pergi. Karena mulutnya penuh berisi telur Anta hanya diam tak dapat menjawab pertanyaan si burung gagak. Sang gagak mengira Anta sombong sehingga ia amat tersinggung dan marah.
Burung hitam itu pun menyerang Anta yang panik, ketakutan, dan kebingungan. Akibatnya sebutir telur mustika itu pecah. Anta segera bersembunyi di balik semak-semak menunggu gagak pergi. Tetapi sang gagak tetap menunggu hingga Anta keluar dari rerumputan dan kembali mencakar Anta. Telur kedua pun pecah, Anta segera melata beringsut lari ketakutan menyelamatkan diri, kini hanya tersisa sebutir telur mustika yang selamat, utuh dan tidak pecah.
Akhirnya Anta tiba di istana Batara Guru dan segera mempersembahkan telur mustika itu kepada sang penguasa kahyangan. Batara Guru dengan senang hati menerima persembahan mustika itu. Akan tetapi setelah mengetahui mustika itu adalah telur ajaib, Batara Guru memerintahkan Anta untuk mengerami telur itu hingga menetas.
Setelah sekian lama Anta mengerami telur itu, maka telur itu pun menetas. Akan tetapi secara ajaib yang keluar dari telur itu adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik, lucu, dan menggemaskan. Bayi perempuan itu segera diangkat anak oleh Batara Guru dan permaisurinya.
Nyi Pohaci Sanghyang Sri adalah nama yang diberikan kepada putri itu. Seiring waktu berlalu, Nyi Pohaci tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa. Seorang putri yang baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur budi bahasa, memikat semua insan. Setiap mata yang memandangnya, dewa maupun manusia, segera jatuh hati pada sang dewi.
Akibat kecantikan yang mengalahkan semua bidadari dan para dewi khayangan, Batara Guru sendiri pun terpikat kepada anak angkatnya itu. Diam-diam Batara guru menyimpan hasrat untuk mempersunting Nyi Pohaci. Melihat gelagat Batara Guru itu, para dewa menjadi khawatir jika dibiarkan maka skandal ini akan merusak keselarasan di kahyangan. Maka para dewa pun berunding mengatur siasat untuk memisahkan Batara Guru dan Nyi Pohaci Sanghyang Sri.
Untuk melindungi kesucian Nyi Pohaci, sekaligus menjaga keselarasan rumah tangga sang penguasa kahyangan, para dewata sepakat bahwa tak ada jalan lain selain harus membunuh Nyi Pohaci.
Para dewa mengumpulkan segala macam racun berbisa paling mematikan dan segera membubuhkannya pada minuman sang putri. Nyi Pohaci segera mati keracunan, para dewa pun panik dan ketakutan karena telah melakukan dosa besar membunuh gadis suci tak berdosa. Segera jenazah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan ditempat yang jauh dan tersembunyi.
Lenyapnya Dewi Sri dari kahyangan membuat Batara Guru, Anta, dan segenap dewata pun berduka. Akan tetapi sesuatu yang ajaib terjadi, karena kesucian dan kebaikan budi sang dewi, maka dari dalam kuburannya muncul beraneka tumbuhan yang sangat berguna bagi umat manusia.
• Dari kepalanya muncul pohon kelapa.
• Dari hidung, bibir, dan telinganya muncul berbagai tanaman rempah-rempah wangi dan sayur-mayur.
• Dari rambutnya tumbuh rerumputan dan berbagai bunga yang cantik dan harum
• Dari payudaranya tumbuh buah buahan yang ranum dan manis.
• Dari lengan dan tangannya tumbuh pohon jati, cendana, dan berbagai pohon kayu yang bermanfaat; dari alat kelaminnya muncul pohon aren atau enau bersadap nira manis.
• Dari pahanya tumbuh berbagai jenis tanaman bambu.
• Dari kakinya mucul berbagai tanaman umbi-umbian dan ketela; akhirnya dari pusaranya muncullah tanaman padi, bahan pangan yang paling berguna bagi manusia.
Versi lain menyebutkan padi berberas putih muncul dari mata kanannya, sedangkan padi berberas merah dari mata kirinya. Singkatnya, semua tanaman berguna bagi manusia berasal dari tubuh Dewi Sri Pohaci. Sejak saat itu umat manusia di pulau Jawa memuja, memuliakan, dan mencintai sang dewi baik hati, yang dengan pengorbanannya yang luhur telah memberikan berkah kebaikan alam, kesuburan, dan ketersediaan pangan bagi manusia. Pada sistem kepercayaan Kerajaan Sunda kuna,
Nyi Pohaci Sanghyang Sri dianggap sebagai dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris. Sebagai tokoh agung yang sangat dimuliakan, ia memiliki berbagai versi cerita, kebanyakan melibatkan Dewi Sri (Dewi Asri, Nyi Pohaci) dan saudara laki-lakinya Sedana (Sadhana atau Sadono), dengan latar belakang Kerajaan Medang Kamulan, atau kahyangan (dengan keterlibatan dewa-dewa seperti Batara Guru), atau kedua-duanya.
Di beberapa versi, Dewi Sri dihubungkan dengan ular sawah sedangkan Sadhana dengan burung sriti (walet). Ular sawah dikaitkan dengan sang dewi dan cenderung dihormati, mungkin karena kearifan lokal dan kesadaran ekologi purba yang memahami bahwa ular sawah memangsa tikus yang menjadi hama tanaman padi. Di banyak negara Asia lain seperti di India dan Thailand, berbagai jenis ular terutama ular sedok pun dihubungkan dengan mitos kesuburan sebagai pelindung sawah.
[sunting]Penggambaran

Arca Dewi Sri Bali
Dewi Sri selalu digambarkan sebagai gadis muda yang cantik, ramping tapi bertubuh sintal dan berisi, dengan wajah khas kecantikan alami gadis asli Nusantara. Mewujudkan perempuan di usia puncak kecantikan, kewanitaan, dan kesuburannya.
Kebudayaan adiluhung Jawa dengan selera estetis tinggi menggambarkan Dewi Sri seperti penggambaran dewi dan putri ningrat dalam pewayangan. Wajah putih dengan mata tipis menatap ke bawah dengan raut wajah yang anggun dan tenang. Serupa dengan penggambaran kecantikan dewi Sinta dari kisah Ramayana.
Pasangannya, Sedhana juga digambarkan dengan rupa bagus seperti Rama. Patung loro blonyo (berarti: “dua lapik atau dasar”) yang menggambarkan sepasang lelaki dan perempuan, juga diibaratkan sebagai pasangan Dewi Sri dan Sedhana.
Ritual dan adat
Dewi Sri tetap dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali . Meskipun demikian banyak versi mitos serupa mengenai dewi kesuburan juga dikenal oleh suku bangsa lainnya di Indonesia. Meskipun kini orang Indonesia kebanyakan adalah muslim atau beragama hindu, sifat dasarnya tetap bernuansa animisme dan dinamisme.
Kepercayaan lokal seperti Kejawen dan Sunda Wiwitan tetap berakar kuat dan pemuliaan terhadap Dewi Sri terus berlangsung bersamaan dengan pengaruh Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen. Beberapa kraton di Indonesia, seperti kraton di Cirebon, Ubud, Surakarta, dan Yogyakarta tetap membudayakan tradisi ini. Sebagai contoh upacara selamatan atau syukuran panen di Jawa disebut Sekaten atau Grebeg Mulud yang juga berbarengan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad.
Sebuah kuil kecil persembahan untuk Dewi Sri dibangun di tengah sawah, Karangtengah, Jawa Tengah.
Masyarakat tradisional Jawa, terutama pengamal ajaran Kejawen, memiliki tempat khusus di tengah rumah mereka untuk Dewi Sri yang disebut Pasrean (tempat Dewi Sri) agar mendapatkan kemakmuran. Tempat khusus ini dihiasi dengan ukiran ular dan patung loro blonyo, kadang-kadang lengkap dengan peralatan pertanian seperti ani-ani atau arit kecil dan sejumput padi. Sering pula diberi sesajen kecil untuk persembahan bagi Dewi Sri. Patung loro blonyo dianggap sebagai perwujudan Sri dan Sedhana, atau Kamaratih dan Kamajaya, semuanya merupakan lambang kemakmuran dan kebahagiaan rumah tangga, serta kerukunan hubungan suami-istri.
Pada masyarakat petani di pedesaan Jawa, ada tradisi yang melarang mengganggu dan mengusir ular yang masuk ke dalam rumah. Malah ular itu diberikan persembahan dan dihormati hingga ular itu pergi dengan sendirinya, tradisi ini menganggap ular adalah pertanda baik bahwa panen mendatang akan berhasil melimpah. Pada upacara slametan menanam padi juga melibatkan dukun yang mengelilingi desa dengan keris berkekuatan gaib untuk memberkati bibit padi yang akan ditanam.
Masyarakat Sunda memiliki rangkaian perayaan dan upacara khusus yang dipersembahkan untuk Dewi Sri. Misalnya upacara Seren Taun yang digelar tiap tahun oleh masyarakat Baduy, Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Kampung Naga, Cigugur, Kuningan, dan berbagai komunitas tradisional Sunda lainnya.
Tradisi ini ditelusuri sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba. Upacara digelar untuk memberkati bibit padi yang akan ditanam serta padi yang akan dipanen. Pada perayaan ini masyarakat Sunda menyanyikan beberapa pantun atau kidung seperti Pangemat danAngin-angin. Kidung nyanyian ini dimaksudkan untuk mengundang Dewi Sri agar sudi turun ke bumi dan memberkati bibit padi, supaya para petani sehat, dan sebagai upacara ngaruwat atautolak bala; untuk menangkal kesialan atau nasib buruk yang mungkin dapat menimpa para petani.[3]
Pada saat memanen padi pun masyarakat tradisional Sunda tidak boleh menggunakan arit atau golok untuk memanen padi, mereka harus menggunakan ani-ani atau ketam, pisau kecil yang dapat disembunyikan di telapak tangan. Masyarakat Sunda percaya bahwa Dewi Sri Pohaci yang berjiwa halus dan lemah lembut akan ketakutan melihat senjata tajam besar seperti arit atau golok. Selain itu ada kepercayaan bahwa padi yang akan dipanen, yang juga perwujudan sang dewi, harus diperlakukan dengan hormat dan lembut satu persatu, tidak boleh dibabat secara kasar begitu saja.
Masyarakat petani di Bali biasanya menyediakan kuil kecil di sawah untuk memuliakan Dewi Sri. Kuil kecil ini sering kali diberi sesajen sebagai persembahan agar Dewi Sri sudi melindungi sawah mereka dan mengkaruniai kemakmuran dan panen yang berlimpah. Pada sistem kepercayaan Hindu Dharma, Dewi Sri dianggap sebagai perwujudan atau perpaduan beberapa dewi-dewiHindu seperti dewi Lakshmi, Dewi, dan Shri (gabungan sifat sakti dewi Hindu). Di Bali Dewi ini dianggap sebagai dewi padi, kesuburan, penjamin keberhasilan panen, serta kemakmuran dan pelindung keluarga.
Bahasa
Dalam bahasa Indonesia istilah Sri juga digunakan sebagai kata sandang untuk menyebut orang yang dihormati, misalnya: Sri Baduga Maharaja, Sri Paduka Raja, Sri Ratu, Sri Paus, Sri Krishna, Sri Rama dan lain sebagainya.

Manusa Yadnya

Upacara Manusa Yadnya
Manusa artinya manusia, Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dalam rangka pemeliharaan, pendidikan serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan.

Upacara manusa yadnya erat sekali hubungannya dengan Catur Purusa Arta yang artinya empat tingkatan atau jenjang dalam menjalani hidup ini. Bagian dari catur purusa arta adalah brahmacari, grehasta, wanaprasta, dan bhiksuka. Dalam Jenjang-jenjang hidup inilah kita akan mengalami yang disebut manusia dalam agama tadi. Sebelum manusia itu dilahirkan dan masuk pada jenjang-jenjang kehidupan, Ada beberapa proses upacara Manusa Yadnya seperti :

1. Magedong- gedongan (Garbhadhana Samskara)
Upacara ini dilaksanakan pada saat kandungan berusia 7 bulan .
Sarana :
1. Pamarisuda: Byakala dan prayascita.
2. Tataban: Sesayut, pengambean, peras penyeneng dan sesayut pamahayu tuwuh.
3. Di depan sanggar pemujaan : benang hitam satu gulung kedua ujung dikaitkan pada dua dahan dadap, bambu daun talas dan ikan air tawar, ceraken (tempat rempah-rempah).
Waktu Upacara Garbhadhana dilaksanakan pada saat kandungan berusia 210 hari (7 bulan). Tidak harus persis, tetapi disesuaikan dengan hari baik. Tempat Upacara Garbhadhana dilaksanakan di dalam rumah, pekarangan, halaman rumah, di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu, dan dilanjutkan di depan sanggar pemujaan (sanggah kamulan). Pelaksana Upacara ini dipimpin oieh Pandita, Pinandita atau salah seorang yang tertua (pinisepuh).

Tata Pelaksanaan :
1. lbu yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman) di parisuda, dilanjutkan dengan mabyakala dan prayascita.
2. Si lbu menjunjung tempat rempah-rempah, tangan kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup.
3. Tangan kiri suami memegang benang, tangan kanannya memegang bamboo runcing.
4. Si Suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing si Istri sampai air dan ikannya tumpah.
5. Selanjutnya melakukan persembahyangan memohon keselamatan.
6. Ditutup dengan panglukatan dan terakhir natab

2. Upacara kelahiran (Jatakarma Samskara).
Upacara ini dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan. Upacara ini adalah sebagai ungkapan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia.
Sarana :
1. Dapetan, terdiri dari nasi berbentuk tumpeng dengan lauk pauknya (rerasmen) dan buah buahan.
2. Canang sari / canang genten, sampiyan jaet dan penyeneng.

Untuk menanam ari-ari (mendem ari-ari) diperlukan sebuah kendil (periuk kecil) dengan tutupnya atau sebuah kelapa yang airnya dibuang. Waktu Upacara Jatakarma dilaksanakan pada waktu bayi baru dilahirkan dan telah mendapat perawatan pertama.

Tempat Upacara Jatakarma dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah. Pelaksana Upacara kelahiran dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua atau dituakan, demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya. Dalam hal tidak ada keluarga tertua, misalnya, hidup di rantauan, sang ayah dapat melaksanakan upacara ini.

Tata Cara :
1. Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan, canang sari, canang genten, sampiyan dan penyeneng. Tujuannya agar atma / roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan keselamatan.
2. Setelah ari-ari dibersihkan, selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil lalu ditutup. Apabila mempergunakan kelapa, kelapa itu terlebih dahulu dibelah menjadi dua bagian, selanjutnya ditutup kernbali. Perlu diingat sebelum kendil atau kelapa itu digunakan, pada bagian tutup kendil atau belahan kelapa bagian atas ditulisi dengan aksara OM KARA (OM) dan pada dasar alas kendil atau bagian bawah kelapa ditulisi aksara AH KARA (AH) .
3. Kendil atau kelapa selanjutnya dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya diberi bunga.
4. Selanjutnya kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah, tepatnya pada bagian kanan pintu ruangan rumah untuk anak Iaki-laki, dan bagian kiri untuk wanita bila dilihat dari dalam rumah.

Upacara ini merupakan cetusan rasa bahagia dan terima kasih dari kedua orang tua atas kelahiran anaknya, walaupun disadari bahwa hal tersebut akan menambah beban baginya.

Kebahagiaannya terutama disebabkan beberapa hal antara lain :
• Adanya keturunan yang diharapkan akan dapat melanjutkan tugas-tugasnya terhadap leluhur dan masyarakat.
• Hutang kepada orang tua terutama berupa kelahiran telah dapat dibayar.

3. Upacara kepus puser
Upacara kepus puser atau pupus puser adalah upacara yang dilakukan pada saat puser bayi lepas.
Sarana :
1. Banten penelahan: Beras kuning, daun dadap.
2. Banten kumara: Hidangan berupa nasi putih kuning, beberapa jenis kue, buahbuahan (pisang emas), canang, lengawangi, burat wangi, canang sari.
3. Banten labaan: Hidangan/ nasi dengan lauk pauknya.
4. Segehan empat buah dengan warna merah, putih, kuning, dan hitam. Masingmasing berisi bawang, jahe dan garam.

Waktu Upacara kepus puser dilaksanakan pada saat bayi sudah kepus pusernya, umumnya pada saat bayi berumur tiga hari. Tempat Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah terutama di sekitar tempat tidur si bayi. Pelaksana Untuk melaksanakan upacara ini cukup dipimpin oleh keluarga yang tertua (sesepuh), atau jika tidak ada, orang tua si bayi.

Tata Cara :
1. Puser bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih lalu dimasukkan ke dalam “ketupat kukur” (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai dengan rempah-rempah seperti cengkeh, pala, lada dan lain-lain, digantung pada bagian kaki dari tempat tidur si bayi.
2. Dibuatkan kumara (pelangkiran) untuk si bayi, tempat menaruh sesajian.
3. Di tempat menanam ari-ari dibuat sanggah cucuk, di bawahnya ditaruh sajen segehan nasi empat warna, dan di sanggah cucuk diisi dengan banten kumara.
4. Tidak ada mantram khusus untuk upacara ini, dipersilakan memohon keselamatan dengan cara dan kebiasaan masing-masing.

4. Upacara bayi umur 12 hari (Upacara Ngelepas Hawon)
Setelah bayi berumur 12 hari dibuatkan suatu upacara yang disebut Upacara Ngelepas Hawon. Sang anak biasanya baru diberi nama (nama dheya) demikian pula sang catur sanak atau keempat saudara kita setelah dilukat berganti nama di antaranya: Banaspati Raja, Sang Anggapati, Banaspati dan Mrajapati.

Sarana Upakara yang kecil : Peras, Penyeneng, Jerimpen tunggal dll, semampunya.
Upacara yang biasa (madia) : Peras, Penyeneng, Jerimpen tunggal, di sini hanya ditambah dengan penebusan.
Upacara yang besar : Seperti upacara madia hanya lebihnya jerimpen tegeh dan diikuti wali joged atau wayang lemah.

Waktu Upacara ngelepas hawon dilaksanakan pada saat si bayi sudah berumur genap 12 hari. Tempat Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah pekarangan yaitu di sumur (permandian), di dapur, serta di sanggah kamulan. Pelaksana Untuk melaksanakan upacara ini dipimpin oieh keluarga yang paling dituakan.

Tata Cara :
Pelaksanaan upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si anak. Upacaranya dilakukan di dapur, di permandian dan di kemulan berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma, Wisnu dan Siwa. Inti pokok upacara yang ditujukan :
Kepada si ibu adalah: banten byakaon dan prayascita disertai dengan tirta pebersihan dan pengelukatan.
Kepada si bayi adalah: banten pasuwungan yang terdiri dari peras, ajuman, daksina, suci. Soroan alit pengelukatan, dan lainnya.

Banten pengelukatan di dapur, permandian dan kemulan pada pokoknya sama, hanya saja warna tumpengnya yang berbeda. Yaitu:
• tumpeng merah untuk di dapur
• tumpeng hitam untuk di permandian dan
• tumpeng putih untuk di kemulan.

Inti pokok banten pengelukatan tersebut antara lain: peras dengan tumpeng, ajuman, daksina, pengulapan, pengarnbian, penyeneng dan sorotan alit serta periuk tempat tirta pengelukatan.

5. Upacara kambuhan (umur 42 hari)
Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. Tujuannya untuk pembersihan lahir batin si bayi dan ibunya, di samping juga untuk membebaskan si bayi dari pengaruh-pengaruh negative (mala).

Sarana Untuk upacara kecil:
1. Upakara untuk ibu : Byakala, prayascita, tirtha panglukatan dan pabersihan.
2. Upakara untuk si bayi : Banten pasuwungan, banten kumara dan dapetan.
Untuk upacara yang lebih besar
1. Upakara untuk ibu : Byakala, prayascita, tirtha panglukatan dan pabersihan.
2. Upakara untuk si bayi : Banten pasuwungan, banten kumara, jejanganan, banten pacolongan untuk di dapur, di permandian dan di sanggah kamulan serta tataban.

Waktu Upacara kambuhan dilaksanakan pada saat bayi berusia 42 hari. Tempat Keseluruhan rangkaian upacara kambuhan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah, di dapur, di halaman rumah dan di sanggah kamulan. Pelaksana Untuk upacara kambuhan dipimpin oleh seorang pinandita atau pandita.

Tata cara Untuk upacara kecil:
1. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita.
2. Si bayi beserta kedua orang tua diantar ke sanggah kamulan untuk natab.
Tata Cara Untuk upacara yang lebih besar :
1. Si bayi dilukat di dapur, di permandian, dan terakhir di sanggah kamulan.
2. Kedua orang tua si bayi mabyakala dan maprayascita
3 Si bayi beserta kedua orang tuanya natab di sanggah kamulan

Upacara Tutug Kambuhan (Upacara setelah bayi berumur 42 hari), merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dan kedua orang tuanya. Penyucian kepada si Bayi dimohonkan di dapur, di sumur/tempat mengambil air dan di Merajan/Sanggah Kemulan (Tempat Suci Keluarga). Upacara Tutug Sambutan (Upacara setelah bayi berumur 105 hari), adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian Jiwatman dan penyucian badan si Bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan. Pada upacara ini nama si bayi disyahkan disertai dengan pemberian perhiasan terutama gelang, kalung/badong dan giwang/subeng, melobangi telinga.

Upacara Mepetik merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dengan acara pengguntingan / pemotongan rambut untuk pertama kalinya. Apabila keadaan ubun-ubun si bayi belum baik, maka rambut di bagian ubun-ubun tersebut dibiarkan menjadi jambot (jambul) dan akan digunting pada waktu upacara peringatan hari lahir yang pertama atau sesuai dengan keadaan. Upacara Mepetik ini adalah merupakan rangkaian dari upacara Tutug Sambutan yang pelaksanaannya berupa 1 (satu) paket upacara dengan upacara Tutug Sambutan.

6. Upacara nelu bulanin (umur 3 bulan) – Niskramana Samskara
Upacara yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari, atau tiga bulan dalam hitungan pawukon.

Sarana Upakara kecil: panglepasan, penyambutan, jejanganan, banten kumara dan tataban.
Sarana Upakara besar: panglepasan, penyambutan, jejanganan, banten kumara, tataban, pula gembal, banten panglukatan, banten turun tanah.

Waktu Upacara ini dilakukan pada saat anak berusia 105 hari. Bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya, keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, upacara bisa ditunda. Biasanya digabungkan dengan upacara 6 bulan. Tempat Seluruh rangkaian upacara bayi tiga bulan dilaksanakan di lingkungan rumah. Pelaksana Upacara ini dipimpin oleh Pandita atau Pinandita.

Tata Cara :
1. Pandita / Pinandita memohon tirtha panglukatan.
2. Pandita / Pinandita melakukan pemujaan, memerciki tirtha pada sajen dan pada si bayi.
3. Bila si bayi akan memakai perhiasan-perhiasan seperti gelang, kalung dan lain-lain, terlebih dahulu benda tersebut diparisudha dengan diperciki tirtha.
4. Doa dan persembahyangan untuk si bayi, dilakukan oleh ibu bapaknya diantar oleh Pandita / Pinandita.
5. Si bayi diberikan tirtha pengening (tirtha amertha) kernudian ngayab jejanganan.
6. Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban, yang berarti memohon keselamatan.

7. Upacara satu oton – (Otonan)
Upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.

Sarana
Upakara kecil: Prayascita, parurubayan, jajanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah dan sajen kumara.
Upakara yang lebih besar: Prayascita, parurubayan, jejanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah, sajen kumara, ditambah gembal bebangkit.

Waktu Upacara wetonan dilaksanakan pada saat bayi berusia 210 hari. Pada saat itu kita akan bertemu dengan hari yang sama seperti saat lahimya si bayi (pancawara, saptawara, dan wuku yang sama). Selanjutnya boleh dilaksanakan setiap 210 hari, semacam memperingati hari ulang tahun. Tentu saja semakin dewasa, semakin sederhana bantennya.

Tempat Seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah. Pelaksana Upacara dipimpin oieh Pandita / Pinandita atau oleh keluarga tertua.

Tata cara:
1. Pandita / Pinandita sebagai pimpinan upacara melakukan pemujaan untuk memohon persaksian terhadap Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.
2. Pemujaan terhadap Siwa Raditya (Suryastawa).
3. Penghormatan terhadap leluhur.
4. Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). Ini dilakukan pertama kali, untuk wetonan selanjutnya tidak dilakukan.
5. Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan.

8. Upacara tumbuh gigi (Ngempugin)
Upacara yang dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik.

Sarana :
Upacara kecil : Petinjo kukus dengan telor.
Upacara besar : Petinjo kukus dengan ayam atau itik, dilengkapi dengan tataban.

Waktu Upacara ini dilaksanakan pada saat bayi tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit. Tempat Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah. Pelaksana Upacara ini dipimpin oleh seorang pandita / pinandita atau salah seorang anggota keluarga tertua.

Tata Cara :
1. Pemujaan terhadap Hyang Widhi Wasa dengan mempersembahkan segala sesajen yang tersedia.
2. Si bayi natab mohon keselamatan.
3. Selesai upacara si bayi diberikan sesajen tadi untuk dinikmatinya dan selanjutnya gusinya digosok-gosok dengan daging dari sesajen.

9. Upacara tanggalnya gigi pertama (Makupak)
Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Sarana :
1. Banten byakala dan sesayut tatebasan.
2. Canang sari.

Waktu Saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. Upacara ini dapat pula disatukan dengan wetonan berikutnya. Tempat Keseluruhan rangkaian upacara dilaksanakan di rumah. Pelaksana Upacara dipimpin oleh keluarga tertua.

Tata Cara :
1. Pemujaan mempersembahkan sesajen kehadapan Hyang Widhi Wasa.
2. Si anak bersembahyang.
3. Setelah selesai sembahyang, dilanjutkan dengan natab sesayut / tetebasan.
4. Si anak diperciki tirtha.

10. Upacara menek deha (Rajaswala)
Upacara ini dilaksanakan pada saat anak menginjak dewasa. Upacara ini bertujuan untuk memohon ke hadapan Hyang Samara Ratih agar diberikan jalan yang baik dan tidak menyesatkan bagi si anak.

Sarana :
Banten pabyakala, banten prayascita, banten dapetan, banten sesayut tabuh rah (bagi wanita), banten sesayut ngraja singa (bagi Iaki-laki), banten padedarian.

Waktu Upacara menginjak dewasa (munggah deha) dilaksanakan pada saat putra/ putrid sudah menginjak dewasa. Peristiwa ini akan terlihat melalui perubahan-perubahan yang nampak pada putra-putri. Misalnya pada anak Iaki-laki perubahan yang menonjol dapat kita saksikan dari sikap dan suaranya. Pada anak putri mulai ditandai dengan datang bulan (menstruasi) pertama.

Orang tua wajib melaksanakan upacara meningkat dewasa (munggah deha) ini. Tempat Upacara dilaksanakan di rumah. Pelaksana Dilakukan oleh Pandita / Pinandita atau yang tertua di dalam lingkungan keluarga.

Tata Cara :
Dalam upacara meningkat dewasa, pertama-tama putra / putri yang diupacarai terlebih dahulu mabyakala dan maprayascita. Setelah itu dilanjutkan dengan natab sesayut tabuh rah (bagi yang putri), sayut raja singa bagi yang putra.

Ciri-ciri anak telah meningkat dewasa.
Siklus kehidupan makhluk didunia adalah lahir, hidup dan mati (kembali keasalnya). Manusia hidup di dunia mengalami beberapa phase yaitu, fase anak-anak, pada fase ini anak dianggap sebagai raja, semua permintaannya dipenuhi. Phase berikutnya adalah pada masa anak meningkat dewasa. Saat ini anak itu tidak lagi dianggap sebagai raja, tetapi sebagai teman. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anaknya dan anak itu bisa menolak nasehat orang tuanya bila kondisi dan lingkungannya tidak mendukung, artinya terjadi komunikasi timbal balik atau saling melengkapi. Dan yang terakhir adalah phase tua, di sini anak tadi menjadi panutan bagi
penerusnya.

Sebagai tanda dari kedewasaan seseorang adalah suaranya mulai membesar /berubah/ngembakin (bahasa Bali) bagi laki-laki dan bagi perempuan pertama kalinya ia mengalami datang bulan. Sejak saat ini seseorang mulai merasakan getar-getar asmara, karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Bila perasaan getar-getar asmara ini tidak dibentengi dengan baik akan keluar dari jalur yang sebenarnya.

Perasaan getar-getar asmara itu dibentengi melalui dua jalur yaitu, jalur niskala, membersihkan jiwa anak dengan mengadakan Upacara yang disebut Raja Sewala dan jalur sekala, dengan memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat bagi dirinya.

Upacara Raja Sewala ini sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam Agastya Parwa bahwa, disebutkan ada tiga perbuatan yang dapat menuju sorga, yaitu: Tapa (pengendalian), Yadnya (persembahan yang tulus iklas) dan Kirti (perbuatan amal kebajikan) Upacara Raja Sewala merupakan Yadnya (persembahan yang tulus iklas) yang membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga.

Nilai pendidikan
Upacara Raja Sewala/meningkat dewasa yang dilakukan oleh umat Hindu adalah merupakan salah satu jenis Upacara Manusa Yadnya yang bertujuan untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi Waça (Tuhan Yang Maha Esa) dalam menifestasinya sebagai Sang Hyang Semara Ratih, agar orang itu dibimbing, sehingga ia dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi Pancaroba. Pada masa pancaroba ini seseorang sangat rentan terhadap godaan-godaan khususnya godaan dari Sad Ripu yaitu: Kroda (sifat marah), Loba (rakus/tamak), Kama (nafsu/keinginan), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (rasa iri hati).

Pada Upacara ini juga terselip nilai pendidikan. Anak diberikan wejangan-wejangan yang menyatakan bahwa dirinya telah tumbuh dewasa, apapun yang akan diperbuatnya akan berakibat juga kepada orang tuanya. Jadi anak itu tidak bebas begitu saja menerjunkan diri dalam pergaulan dimasyarakat. Dia harus tahu mana yang pantas untuk dilakukan dan mana yang dilarang. Dalam hal ini anak-anak juga merasa mendapat perhatian dari orang tuanya sehingga menimbulkan rasa lebih hormat kepada orang tuanya.

Melalui Upacara Raja Sewala/Meningkat dewasa ini diharapkan seseorang dapat meningkatkan kesucian pribadinya sehingga mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

11.Upacara potong gigi (mepandes / metatah)
Upacara ini bertujuan untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu yang ada pada diri si manak.
Sarana :
1. Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
2. Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
3. Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4. Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5. Pengurip-urip yang terdiri dari kunyit serta pecanangan lengkap dengan isinya.

Waktu Upacara ini dilaksanakan setelah anak meningkat dewasa, namun sebaiknya sebelum anak itu kawin. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilaksanakan setelah berumah tangga. Tempat Seluruh rangkaian upacara potong gigi dilaksanakan di rumah dan di pemerajan. Pelaksana Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).

Tata Cara :
1. Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
2. Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
3. Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
4. Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
5. Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
6. Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.

Acuan
Sumber sastra mengenai upacara potong gigi adalah lontar Kala Pati,kala tattwa, Semaradhana, dan sang Hyang Yama.dalam lontar kala Pati disebutkan bahwa potong gigi sebagai tanda perubahan status seseorang menjadi manusia sejati yaitu manusia yang berbudi dan suci sehingga kelak di kemudian hari bila meniggal dunia sang roh dapat bertemu dengan para leluhur di sorga Loka.Lontar Kala tattwa menyebutkan bahwa Bathara Kala sebagai putra Dewa Siwa dengan Dewi Uma tidak bisa bertemu dengan ayahnya di sorga sebelum taringnya dipotong. Oleh karena itu, manusia hendaknya menuruti jejak Bathara kala agar rohnya dapat bertemu dengan roh leluhur di sorga.dalam lontar Semaradhana disebutkan bahwa Bethara Gana sebagai putra Dewa Siwa yang lain dapat mengalahkan raksasa Nilarudraka yang menyerang sorgaloka dengan menggunakan potongan taringnya.

Selain itu disebutkan bahwa Bethara Gana lahir dari Dewi Uma setelah Dewa Siwa dibangunkan Dari tapa semadhinya oleh Dewa Semara (Asmara) namun kemudian Dewa Siwa menghukum Dewa Semara bersama istrinya, Dewi Ratih,dengan membakarnya sampai menjadi abu. kemudian menyebarkan abu tersebut ke dunia dan mengutuk manusia agar tidak bisa hidup tanpa berpasangan (laki-perempuan) dalam suami istri. Dalam lontar Sang Hyang yama disebutkan bahwa upacara potong gigi boleh dilaksanakan bila naka sudah menginjak dewasa, ditandai dengan menstruasi untuk wanita dan suara yang membesar untuk pria. Biasanya hal ini muncul di kala usia 14 tahun.

Tujuan Upacara Potong Gigi
Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontarkalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri di atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). Meliputi kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan Matsarya (iri hati). Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu.Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya dapat yang suci dapat mencapai surge loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan mudamudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar
Semaradhana.

Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa,meninggalkan masa anak-anak menuju ke masa dewasa.

Urutan Upacara :
1. Setelah sulinggih ngarga tirta,mereresik dan mapiuning di Sangah Surya,maka mereka yang akan mepandes dilukat dengan padudusan madya,setelah itu mereka memuja Hyang raitya untuk memohon keselamatan dalam melaksanakan upacara.
2. Potong rambut dan merajah dilaksanakan dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia yaitu meningalkan masa anak-anak ke masa remaja.
3. Naik ke bale tempat mepandes dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambing keharmonisan,mengetukkan linggis tiga kali (Ang,Ung,Mang) sebagai symbol mohon kekuatan kepada Hyang Widhi dan ketiak kiri menjepit caket sebagai symbol kebulatan tekad untuk mewaspadai sad ripu.
4. Selama mepandes,air kumur dibuang di sebuah nyuh gading afar tidak menimbulkan keletehan.
5. Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
6. Mapedamel berasal dari kata “dama” yang artinya bijaksana.Tujuan mapedamel setelah potong gigi adalah agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana,yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan,selalu berpegang pada ajaran agama Hindu,mempunyai pandangan luas,dan dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa yang disebut dharma dan apa yang disebut adharma.Secara simbolis ketika mepadamel,dilakukan sebagai berikut :
• Mengenakan kain putih,kampuh kuning,dan selempang samara ratih sebagai symbol restu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih (berdasarkan lontar Semaradhana tersebut).
• Memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah,putih,hitam) sebagai symbol pengikatan diri terhadap norma-norma agama.
• Mencicipi Sad rasa yaitu enam rasa berupa rasa pahit dan asam sebagai simbol agar tabah menghadapi peristiwa kehidupan yang kadang-kadang tidak menyenangkan, rasa pedas sebagai simbol agar tidak menjadi marah bila mengalamai atau mendengar hal yang menjengkelkan, rasa sepat sebagai symbol agar taat ada peraturan atau norma-norma yang berlaku, rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan, selalu meningkatkan kualitas pengetahuan karena pembelajaran diri, dan rasa manis sebagai symbol kehidupan yang bahagia lahir bathin sesuai cita-cita akan diperoleh bilamana mampu menhadapi pahit getirnya kehidupan, berpandangan luas, disiplin, serta enantiasa waspada dengan adanya sad ripu dalam diri manusia.

7. Natab banten,tujuannya memohon anugerah Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat tercapai.
8. Metapak,mengandung makna tanda bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menajdi dewasa secara spiritual sudah selesai,makna lainnya adalah ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik,serta memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua,juga mohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang.

Demikianlah sekilas makna dari upacara potog gigi atau mepandes.Istilah lainnya yang digunakan untuk Upacara ini di Bali adalah mesangih.

12. Upacara Perkawinan (Pawiwahan / Wiwaha)
Hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.

Sarana
1. Segehan cacahan warna lima.
2. Api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa).
3. Tetabuhan (air tawar, tuak, arak).
4. Padengan-dengan/ pekala-kalaan.
5. Pejati.
6. Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan).
7. Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya diberi periuk, bakul yang berisi uang).
8. Bakul.
9. Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih.

Waktu Biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa). Tempat Dapat dilakukan di rumah mempelai Iaki-laki atau wanita sesuai dengan hokum adat setempat (desa, kala, patra). Pelaksana Dipimpin oleh seorang Pendeta / Pinandita / Wasi / Pemangku.

Tata cara
1. Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
2. Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
3. Sebagai acara terakhir dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan. Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :
– Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur.
– Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
– Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.

Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan (barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.

Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah), menanam pohon kunir, pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati “Pepegatan” (Sarana Pemutusan) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.
http://neztra.blogspot.com/2012/04/runtutan-upacara-manusia-yadnya-dalam.html

PENDAHULUAN
Undang-Undang R.I. No. 1/1974 pasal 1 menyebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan ke-Tuhan-an Yang Maha Esa.
Keluarga yang berbahagia kekal abadi dapat dicapai bilamana di dalam rumah tangga terjadi keharmonisan serta keseimbangan hak dan kewajiban antara suami dan istri, masing-masing dengan swadharma mereka.
Keduanya (suami-istri) haruslah saling isi mengisi, bahu membahu membina rumah tangganya serta mempertahankan keutuhan cintanya dengan berbagai “seni” berumah tangga, antara lain saling menyayangi, saling tenggang rasa, dan saling memperhatikan kehendak masing-masing.
Mempersatukan dua pribadi yang berbeda tidaklah gampang, namun jika didasari oleh cinta kasih yang tulus, itu akan mudah dapat dilaksanakan.
TUJUAN PERKAWINAN
Tujuan pokok perkawinan adalah terwujudnya keluarga yang berbahagia lahir bathin. Kebahagiaan ini ditunjang oleh unsur-unsur material dan non material.
Unsur material adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan/ perumahan (yang semuanya disebut Artha). Unsur non material adalah rasa kedekatan dengan Hyang Widhi (yang disebut Dharma), kepuasan sex, kasih sayang antara suami-istri-anak, adanya keturunan, keamanan rumah tangga, harga diri keluarga, dan eksistensi sosial di masyarakat (yang semuanya disebut Kama).
Perkawinan dalam masyarakat Hindu mempunyai arti dan kedudukan khusus dalam kehidupan manusia, karena pasangan pengantin telah memasuki “ashrama” kedua yaitu Grhasta Ashrama.
Pawiwahan juga sangat dimuliakan karena bisa memberi peluang kepada anak/ keturunan untuk melebur dosa-dosa leluhurnya agar bisa menjelma kembali sebagai manusia. Dari perkawinan diharapkan lahir anak keturunan yang dikemudian hari bertugas melakukan Sraddha Pitra Yadnya bagi kedua orang tuanya sehingga arwah mereka dapat mencapai Nirwana.
Anak keturunan merupakan kelanjutan dari kehidupan atau eksistensi keluarga. Anak dalam Bahasa Kawi disebut “Putra” asal kata dari “Put” (berarti neraka) dan “Ra” (berarti menyelamatkan). Jadi Putra artinya: “yang menyelamatkan dari neraka”.
Suatu kekeliruan istilah di masyarakat dewasa ini, bahwa anak laki-laki dinamakan putra dan anak perempuan dinamakan putri; melihat arti putra seperti di atas, maka putri tidak mempunyai makna apa-apa karena “ri” tidak ada dalam kamus Bahasa Kawi. Pandita berpendapat lebih baik anak perempuan dinamakan Putra Istri, bukannya putri.
Pawiwahan di masyarakat Hindu adalah sakral, artinya suci, karena dalam masa Grhasta manusia mulai mewujudkan dirinya sebagai manusia utuh yang berke-Tuhan-an.
Kitab Manawadharmasastra menyebutkan bahwa di masa Grhasta, pawiwahan adalah Dharmasampati atau perbuatan dharma karena pasangan suami istri melaksanakan: Dharmasastra, Artasastra, dan Kamasastra.
Jika dikaitkan dengan Catur Purusaarta, maka pada masa Grhasta manusia Hindu telah melaksanakan Tripurusa, yaitu Dharma, Artha, dan Kama. Purusa keempat (Moksa) akan sempurna dilaksanakan bila telah melampaui masa Grhasta yaitu Wanaprasta dan Saniyasin.
PERKAWINAN YANG IDEAL
Perkawinan yang ideal diawali dari perkawinan yang berlangsung tidak menyimpang dari kaidah-kaidah Agama dan Undang-undang, serta disaksikan oleh tiga unsur, yaitu: Bhuta saksi (mabeakala), Dewa saksi (mapiuning/ muspa di Sanggah Pamerajan), dan Manusa saksi (kehadiran pemuka Adat, Desa, dan masyarakat).
Kaidah-kaidah Agama yang dimaksud ada dalam Kitab Manawadharmasastra yang merupakan kumpulan Hukum Hindu, dan Undang-undang yang dimaksud adalah Undang-Undang Perkawinan No. 1/1974.
Selanjutnya perkawinan ideal akan terwujud bila tujuan perkawinan seperti yang diuraikan di atas dapat tercapai dengan baik. Faktor pendukung utama untuk tercapainya tujuan perkawinan adalah keimanan yang sama antara suami-istri. Dengan kata lain suami dan istri haruslah se-Agama yaitu Agama Hindu
http://agama–hindu.blogspot.com/2012/07/perkawinan-pawiwahan.html

IDEALNYA PERKAWINAN
I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)-Bekasi

1. Pengertian pawiwahan
Dari sudut pandang etimologi atau asal katanya, kata pawiwahan berasal dari kata dasar “ wiwaha”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata wiwahaberasal dari bahasa sansekerta yang berarti pesta pernikahan; perkawinan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:1130).
Pengertian pawiwahan secara semantik dapat dipandang dari sudut yang berbeda beda sesuai dengan pedoman yang digunakan. Pengertian pawiwahan tersebut antara lain:
1. Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 1 dijelaskan pengertian perkawinan yang berbunyi:
“Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.

1. Dalam Buku Pokok Pokok Hukum Perdata dijelaskan tentang definisi perkawinan sebagai berikut: ‘Perkawinan ialah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama”(Subekti, 1985: 23).
2. Wirjono Projodikoro, Perkawinan merupakan hubungan hukum antara seorang pria dengan seorang wanita, untuk hidup bersama dengan kekal yang diakui Negara (Sumiarni, 2004: 4).
3. Dipandang dari segi sosial kemasyarakatan tersebut maka Harry Elmer Barnes mengatakan Perkawinan ( wiwaha) adalah sosial institution atau pranata sosial yaitu kebiasaan yang diikuti resmi sebagai suatu gejala-gejala sosial. tentang pranata sosial untuk menunjukkan apa saja bentuk tindakan sosial yang diikuti secara otomatis, ditentukan dan diatur dalam segala bentuk untuk memenuhi kebutuhan manusia, semua itu adalah institution (Pudja, 1963: 48).
4. Ter Haar menyatakan bahwa perkawinan itu menyangkut persoalan kerabat, keluarga, masyarakat, martabat dan pribadi dan begitu pula menyangkut persoalan keagamaan Dengan terjadinya perkawinan, maka suami istri mempunyai kewajiban memperoleh keturunan yang akan menjadi penerus silsilah orang tua dan kerabat. Perkawinan menurut hukum Adat tidak semata-mata berarti suatu ikatan antara pria dengan wanita sebagai suami istri untuk maksud mendapatkan keturunan dan membangun serta membina kehidupan keluarga rumah tangga, tetapi juga berarti suatu hubungan hukum adat yang menyangkut para anggota kerabat dari pihak istri dan pihak suami. Bukan itu saja menurut hukum adat, perkawinan dilaksanakan tidak hanya menyangkut bagi yang masih hidup tapi terkait pula dengan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu dalam setiap upacara perkawinan yang dilaksanakan secara Adat mengunakan sesaji-sesaji meminta restu kepada leluhur mereka. (Sumiarni, 2004:4).
5. Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I-XV dijelaskan bahwa “perkawinan ialah ikatan sekala niskala (lahir bathin) antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal (satya alaki rabi)“(Parisada Hindu Dharma Pusat, 1985: 34).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa: pawiwahan adalah ikatan lahir batin (skala dan niskala ) antara seorang pria dan wanita untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal yang diakui oleh hukum Negara, Agama dan Adat.

1. Tujuan wiwaha menurut Agama Hindu
Pada dasarnya manusia selain sebagai mahluk individu juga sebagai mahluk sosial, sehingga mereka harus hidup bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tuhan telah menciptakan manusia dengan berlainan jenis kelamin, yaitu pria dan wanita yang masing-masing telah menyadari perannya masing-masing.
Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk sosial bahwa setiap pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan. Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu karena Tuhan telah bersabda dalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:
“Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah
Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”
“Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan. Upacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan istrinya (Pudja dan Sudharta, 2002: 551).

Menurut I Made Titib dalam makalah “Menumbuhkembangkan pendidikan agama pada keluarga” disebutkan bahwa tujuan perkawinan menurut agama Hindu adalah mewujudkan 3 hal yaitu:
1. Dharmasampati, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña , sebab di dalam grhastalah aktivitas Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.
2. Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna).
3. Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma.
Lebih jauh lagi sebuah perkawinan ( wiwaha) dalam agama Hindu dilaksanakan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Sesuai dengan undang-undang perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 1 yang dijelaskan bahwa perkawinan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk keluarga ( rumah tangga) yang bahagia dan kekal maka dalam agama Hindu sebagaimana diutarakan dalam kitab suci Veda perkawinan adalah terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali dalam hidup manusia. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Manava Dharmasastra IX. 101-102 sebagai berikut:
“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,
Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”
“Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri”.

“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,
Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram”
“Hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain” (Pudja, dan Sudharta, 2002: 553).

Berdasarkan kedua sloka di atas nampak jelas bahwa agama Hindu tidak menginginkan adanya perceraian. Bahkan sebaliknya, dianjurkan agar perkawinan yang kekal hendaknya dijadikan sebagai tujuan tertinggi bagi pasangan suami istri. Dengan terciptanya keluarga bahagia dan kekal maka kebahagiaan yang kekal akan tercapai pula. Ini sesuai dengan ajaran Veda dalam kitab Manava Dharma sastra III. 60 , sebagai berikut:

“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca,
Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam”
“Pada keluarga dimana suami berbahagia dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya, kebahagiaan pasti kekal” ( Pudja dan Sudharta, 2002: 148).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan wiwaha menurut agama Hindu adalah mendapatkan keturunan dan menebus dosa para orang tua dengan menurunkan seorang putra yang suputra sehingga akan tercipta keluarga yang bahagia di dunia (jagadhita) dan kebahagiaan kekal (moksa).

1. Sistem pawiwahan
Menurut agama Hindu dalam kitab Manava Dharmasastra III. 21 disebutkan 8 bentuk perkawinan sebagai berikut:
1. Brahma wiwaha adalah bentuk perkawinan yang dilakukan dengan memberikan seorang wanita kepada seorang pria ahli Veda dan berkelakukan baik yang diundang oleh pihak wanita.
2. Daiwa wiwaha adalah bentuk perkawinan yang dilakukan dengan memberikan seorang wanita kepada seorang pendeta pemimpin upacara.
3. Arsa wiwaha adalah bentuk perkawinan yang terjadi karena kehendak timbal-balik kedua belah pihak antar keluarga laki-laki dan perempuan dengan menyerahkan sapi atau lembu menurut kitab suci.
4. Prajapatya wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan menyerahkan seorang putri oleh ayah setelah terlebih dahulu menasehati kedua mempelai dengan mendapatkan restu yang berbunyi semoga kamu berdua melakukan dharmamu dan setelah memberi penghormatan kepada mempelai laki-laki.
5. Asuri wiwaha adalah bentuk perkawinan jika mempelai laki-laki menerima wanita setelah terlebih dahulu ia memberi harta sebanyak yang diminta oleh pihak wanita.
6. Gandharva wiwaha adalah bentuk perkawinan berdasarkan cinta sama cinta dimana pihak orang tua tidak ikut campur walaupun mungkin tahu.
7. Raksasa wiwaha adalah bentuk perkawinan di mana si pria mengambil paksa wanita dengan kekerasan. Bentuk perkawinan ini dilarang.
8. Paisaca wiwaha adalah bentuk perkawinan bila seorang laki-lak dengan diam-diam memperkosa gadis ketika tidur atau dengan cara memberi obat hingga mabuk. Bentuk perkawinan ini dilarang.

1. Sah dan Syarat pawiwahan
System perkawinan di Indonesia dianggap sah selain telah memenuhi syarat-syarat yang telah diatur oleh agama masing-masing juga harus terpenuhinya administrasi untuk pemerintah. Oleh karena itu dalam setiap perkawinan, harus dilakukan pencatatan perkawinan oleh petugas catatan sipil
Hal tersebut ditegaskan dalam Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 pasal 2 ayat 1 dan 2 yang berbunyi;“perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu serta tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Namun, R. Soetojo Prawirohamidjojo mengatakan bahwa untuk sahnya perkawinan, hanya ada satu syarat saja yaitu apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu, sedangkan pencatatan menurut pasal 2 ayat 2 tidak lain daripada suatu tindakan administrasi Hal tersebut diperkuat pula oleh Abdulrahman yang berpendapat bahwa pencatatan perkawinan bukanlah syarat yang menentukan sahnya perkawinan karena segala perkawinan di Indonesia sudah dianggap sah apabila hukum agama dan kepercayaan sudah menyatakan sah. Meskipun demikian pencatatan perkawinan memegang peranan yang sangat menentukan, karena pencatatan merupakan suatu syarat diakui atau tidaknya suatu perkawinan oleh Negara yang membawa konsekvensi bagi yang bersangkutan (Sumiarni, 2004: 9-10).
Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kitab Suci Manava Dharmasastra maka syarat tersebut menyangkut keadaan calon pengantin dan administrasi, sebagai berikut:
1. Dalam pasal 6 disebutkan perkawinan harus ada persetujuan dari kedua calon mempelai.dan mendapatkan izin kedua orang tua. Persetujuan tersebut itu harus secara murni dan bukan paksaan dari calon pengantin serta jika salah satu dari kedua orang tua telah meninggal maka yang memberi izin adalah keluarga, wali yang masih ada hubungan darah. Dalam ajaran agama Hindu syarat tersebut juga merupakan salah satu yang harus dipenuhi, hal tersebut dijelaskan dalam Manava Dharmasastra III.35 yang berbunyi:
“Adbhirewa dwijagryanam kanyadanam wicisyate,
Itaresam tu warnanam itaretarkamyaya”

“Pemberian anak perempuan di antara golongan Brahmana, jika didahului dengan percikan air suci sangatlah disetujui, tetapi antara warna-warna lainnya cukup dilakukan dengan pernyataan persetujuan bersama” (Pudja dan Sudharta, 2002: 141).

1. Menurut pasal 7 ayat 1, perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 ( sembilan belas ) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Ketentuan tersebut tidaklah mutlak karena jika belum mencapai umur minimal tersebut untuk melangsungkan perkawinan maka diperlukan persetujuan dari pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita, sepanjang hukum yang bersangkutan tidak menentukan lain.
Agama Hindu memberikan aturan tambahan mengenai hal tersebut dimana dalam Manava Dharmasastra IX.89-90 yang menyatakan bahwa walaupun seorang gadis telah mencapai usia layak untuk kawin, akan lebih baik tinggal bersama orang tuanya hingga akhir hayatnya, bila ia tidak memperoleh calon suami yang memiliki sifat yang baik atau orang tua harus menuggu 3 tahun setelah putrinya mencapai umur yang layak untuk kawin, baru dapat dinikahkan dan orang tua harus memilihkan calon suami yang sederajat untuknya. Dari sloka tersebut disimpulkan umur yang layak adalah 18 tahun, sehingga orang tua baru dapat mengawinkan anaknya setelah berumur 21 tahun (Dirjen Bimas Hindu dan Budha, 2001: 34).
1. Sebagaimana diatur dalam pasal 8-11 Undang- Undang No. 1 tahun 1974, dalam Hukum Hindu perkawinan yang dilarang dan harus dihindari dijelaskan dalam Manava Dharmasastra III.5-11 adalah jika ada hubungan sapinda dari garis Ibu dan Bapak, keluarga yang tidak menghiraukan upacara suci, tidak mempunyai keturunan laki-laki, tidak mempelajari Veda, keluarga yang anggota badannya berbulu lebat, keluarga yang memiliki penyakit wasir, penyakit jiwa, penyakit maag dan wanita yang tidak memiliki etika.
2. Selain itu persayaratan administrasi untuk catatan sipil yang perlu disiapkan oleh calon pengantin, antara lain: surat sudhiwadani, surat keterangan untuk nikah, surat keterangan asal usul, surat keterangan tentang orang tua, akta kelahiran, surat keterangan kelakuan baik, surat keterangan dokter, pas foto bersama 4x 6, surat keterangan domisili, surat keterangan belum pernah kawin, foto copy KTP, foto copy Kartu Keluarga dan surat ijin orang tua.
Samskara atau sakramen dalam agama Hindu dianggap sebagai alat permulaan sahnya suatu perkawinan. Hal tersebut dilandasi oleh sloka dalam Manava Dharma sastra II. 26 sebagai berikut:
“Waidikaih karmabhih punyair nisekadirdwijanmanam,
Karyah carira samskarah pawanah pretya ceha ca”
“Sesuai dengan ketentuan-ketentuan pustaka Veda, upacara-upacara suci hendaknya dilaksanakan pada saat terjadi pembuahan dalam rahim Ibu serta upacara-upacara kemanusiaan lainnya bagi golongan Triwangsa yang dapat mensucikan dari segala dosa dan hidup ini maupun setelah meninggal dunia” (Pudja dan Sudharta, 2002:69).

Dalam pelaksanaan upacara perkawinan ( samskara ) tersebut, agama Hindu tidak mengabaikan adat yang telah terpadu dalam masyarakat karena dalam agama Hindu selain Veda sruti dan smrti, umat Hindu dapat berpedoman pada Hukum Hindu yang berdasarkan kebiasaan yang telah turun temurun disuatu tempat yang biasa disebut Acara. Dengan melakukan upacara dengan dilandasi oleh ajaran oleh pustaka Veda dan mengikuti tata cara adat, maka akan didapatkan kebahagiaan di dunia (Jagadhita ) dan Moksa. Hal tersebut dijelaskan dalam Manava Dharma sastra II. 9 sebagai berikut:
“Sruti smrtyudita dharma manutisthanhi manavah,
iha kirtimawapnoti pretya canuttamam sukham”
“Karena orang yang mengikuti hukum yang diajarkan oleh pustaka-pustaka suci dan mengikuti adat istiadat yang keramat, mendapatkan kemashuran di dunia ini dan setelah meninggal menerima kebahagiaan yang tak terbatas (tak ternilai)” ( Pudja dan Sudharta, 2002: 63).

Dalam pelaksanaan upacara perkawinan baik berdasarkan kitab suci maupun adat istiadat maka harus diingat bahwa wanita dan pria calon pengantin harus sudah dalam satu agama Hindu dan jika belum sama maka perlu dilaksanakan upacara sudhiwadani. Selain itu menurut kitab Yajur Veda II. 60 dan Bhagavad Gita XVII. 12-14 sebutkan syarat-syarat pelaksanaan Upacara, sebagai berikut:
1) Sapta pada (melangkah tujuh langkah kedepan) simbolis penerimaan kedua mempelai itu. Upacara ini masih kita jumpai dalam berbagai variasi (estetikanya) sesuai dengan budaya daerahnya, umpamanya menginjak telur, melandasi tali, melempar sirih dan lain-lainnya.
2) Panigraha yaitu upacara bergandengan tangan adalah simbol mempertemukan kedua calon mempelai di depan altar yang dibuat untuk tujuan upacara perkawinan. Dalam budaya jawa dilakukan dengan mengunakan kekapa ( sejenis selendang) dengan cara ujung kain masing-masing diletakkan pada masing-masing mempelai dengan diiringi mantra atau stotra.
3) Laja Homa atau Agni Homa pemberkahan yaitu pandita menyampaikan puja stuti untuk kebahagiaan kedua mempelai ( Dirjen Bimas Hindu dan Budha, 2001:36).
4) Sraddha artinya pelaksanaan samskara hendaknya dilakukan dengan keyakinan penuh bahwa apa yang telah diajarkan dalam kitab suci mengenai pelaksanaan yajña harus diyakini kebenarannya. Yajña tidak akan menimbulkan energi spiritual jika tidak dilatarbelakangi oleh suatu keyakinan yang mantap. Keyakinan itulah yang menyebabkan semua simbol dalam sesaji menjadi bermakna dan mempunyai energi rohani. Tanpa adanya keyakinan maka simbol-simbol yang ada dalam sesaji tersebut tak memiliki arti dan hanya sebagai pajangan biasa.
5) Lascarya artinya suatu yajña yang dilakukan dengan penuh keiklasan.
6) Sastra artinya suatu yajña harus dilakukan sesuai dengan sastra atau kitab suci. Hukum yang berlaku dalam pelaksanaan yajña disebut Yajña Vidhi. Dalam agama Hindu dikenal ada lima Hukum yang dapat dijadikan dasar dan pedoman pelaksanaanyajña.
7) Daksina artinya adanya suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan harta benda atau uang yang dihaturkan secara ikhlas kepada pendeta yang memimpin upacara.
8) Mantra artinya dalam pelaksanaan upacara yajña harus ada mantra atau nyanyian pujaan yang dilantunkan.
9) Annasewa artinya dalam pelaksanaan upacara yajña hendaknya ada jamuan makan dan menerima tamu dengan ramah tamah.
10) Nasmita artinya suatu upacara yajña hendaknya tidak dilaksanakan dengan tujuan untuk memamerkan kemewahan.
Demikian tinjauan umum tentang idealnya perkawinan menurut Hindu

Pura

Pengelompokan Pura
Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya:
1). Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi, para devatà.
2). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur.
Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula pura yang berfungsi gandayaitu sclain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja bhaþàra. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa sctelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan úiddhadevatà(telah memasuki alam devatà ) dan disebut bhaþàra.
Fungsi pura tcrscbut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru), ikatan politik di masa yang silam antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan , berdagang, nelayan dan lain-lainnya. Ikatan geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut.
Berdasarkan atas ciri-ciri tersebut (Titib, 2003: 96-100), maka terdapat beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut.
1) Pura Umum
Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tcrgolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih, pura Batur, pura Caturlokapàla dan pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong pura umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru.Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut åûiåóa. Pura pura tersebut ini tergolong kedalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti: pura Rambut Siwi, pura Purancak, pura Pulaki, pura Ponjok Batu, pura Sakenan, pura Úìlayukti, pura Lempuyang Madya dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayàtrà yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha, paúraman Mpu Kuturan dan Mpu Agnijaya karena peranannya sebagai Dang Guru.
Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977: 10) seperti pura Sakenan, yang merupakan pura kerajaan Kesiman, pura Taman Ayun yang merupakan pura kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai satu jenis pura, yaitu: pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, pura puncak yang ter!etak di puncak bukit atau pegunungan dan pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: pura gunung, pura pusat kerajaan dan pura laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.
2) Pura Teritorial
Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu: pura Desa, pura Puseh, pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan lain perkataan, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, pura Desa sering juga disebut pura Bale Agung. Pura Puseh juga disebut pura Segara, bahkan pura Puseh desa Besakih disebut pura Banua.
Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah pura Dalem yang memiliki setra (kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat pura yang disebut Dalem, tetapi bukan merupakan pura sebagai unsur Kahyangan Tiga di antaranya: pura Dalem Maspahit, pura Dalem Canggu, pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat- tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah pura yang bernama pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan pura Watukaru. Masih banyak ada pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan pura Luhur Uluwatu.
3) Pura Fungsional
Pura ini mempunyai karakter fungsional, umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti: bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Empelan yang sering juga disebut pura Bedugul atau pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal pura Ulun Carik, pura Masceti, pura Ulun Siwi dan pura Ulun Danu. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya. Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud pura yang disebut pura Melanting. Umumnya pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.
4) Pura Kawitan
Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan wit atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut Padharman yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari pura milik warga atau pura klen. Dengan demikian mika pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang discbut pura Dadya sehingga mereka disebut tunggal Dadya. Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family). Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka yang belum kawin .
Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut sanggah atau marajan yang juga disebut kamulan taksu, sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut sanggah gede atau pamarajan agung. Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (dadya) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat dadya. Anggota kelompok kerabat tcrsebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut pura paibon atau pura panti. Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu, ada yang menyebut pura Batur (Batur Klen), pura Penataran (Penataran Klen) dan sebagainya. Didalam rontal Úiwàgama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat pura panti, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan pura lbu,Påtiwì dan setiap keluarga batih membuat palinggih Kamulan yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. Tentang pengelompokan pura di Bali ini , dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut : setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih
1). Berdasarkan atas Fungsinya :
(a). Pura Jagat, yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawa-Nya (manifestasi-Nya).
(b). Pura kawitan, yaitu pura sebagai tempat suci untuk memuja “Àtmàúiddhadevatà” (roh suci leluhur).
2). Berdasarkan atas Karakterisasi nya
(a). Pura Kahyangan Jagat, yaitu pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka prabhawa-Nya misalnya pura Sad Kahyangan dan pura Kahyangan Jagat.
(b). Pura Kahyangan Desa (teritorial )yaitu pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa Pakraman atau desa Adat.
(c). Pura Swagina (pura fungsional)yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan swagina (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti: pura Subak, Melanting dan sebagainya .
(d). Pura Kawitan,yaitu pura yang penyungsungnya ditcntukan oleb ikatan “wit” atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: sanggah, pamarajan, ibu, panti, dadya, batur, panataran, padharman dan yang sejenisnya.
Pengelompokan pura di atas jelas berdasarkan Úraddhà atau Tatwa agama Hindu yang berpokok pangkal konsepsi ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi atau prabhawa-Nya dan konsepsi Àtman manunggal dengan Brahman (Àtmàúiddhadevatà) menyebabkan timbulnya pemujaan pada roh suci leluhur, oleh karena itu pura di Bali ada yang disungsung oleh seluruh lapisan masyarakat di samping ada pula yang disungsung oleh keluarga atau klen tertentu saja.

Struktur Pura
Pada umumnya struktur atau denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu: jabapura atau jaba pisan (halaman luar), jaba tengah (halaman tengah) dan jeroan (halaman dalam). Di samping itu ada juga pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu: jaba pisan (halaman luar) dan jeroan (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti pura Agung Besakih. Pembagian halaman pura ini, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (bhuwana agung), yakni : pembagian pura atas 3 (tiga) bagian (halaman) itu adalah lambang dari “triloka“, yaitu: bhùrloka (bumi), bhuvaáloka (langit) dan svaáloka (sorga). Pembagian pura atas 2 (dua) halaman (tingkat) melambangkan alam atas (urdhaá) dan alam bawah (adhaá), yaitu àkàúa dan påtivì.
Sedang pembagian pura atas 7 bagian (halaman) atau tingkatan melambangkan “saptaloka” yaitu tujuh lapisan/tingkatan alam atas, yang terdiri dari: bhùrloka, bhuvaáloka, svaáloka, mahàoka, janaloka, tapaloka dan satyaloka. Dan pura yang terdiri dari satu halaman adalah simbolis dari “ekabhuvana” , yaitu penunggalan antara alam bawah dengan alam atas. Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (loka) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan “prakåti” (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis “puruûa” (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta). Penunggalan konsepsi prakåti dengan puruûa dalam struktur pura adalah merupakan simbolis dari pada “Super natural power“. Hal itulah yang menyebabkan orang orang dapat merasakan adanya getaran spiritual atau super natural of power (Tuhan Yang Maha Esa ) dalam sebuah pura.
Sebuah pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker ) scbagai batas pekarangan yang disakralkan. Pada sudut-sudut itu dibuatlah “padurakûa” (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (dikpàlaka ).
Sebagian telah dijelaskan di atas, pada umumnya pura-pura di Bali terbagi atas tiga halaman, yaitu yang pertama disebut jabaan (jaba pisan) atau halaman depan/luar, dan pada umumnya pada halaman ini terdapat bangunan berupa “bale kulkul” (balai tempat kentongan digantung), “bale wantilan” (semacam auditorium pementasan kesenian, “bale pawaregan” (dapur) dan “jineng” (lumbung). Halaman kedua disebut jaba tengah (halaman tengah biasanya berisi bangunan “bale agung” (balai panjang) dan “bale pagongan” (balai tempat gamelan). Halaman yang ketiga disebut jeroan (halaman dalam), halaman ini termasuk halaman yang paling suci berisi bangunan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa manifestasi-Nya. Di antara jeroanjaba tengah biasanya dipisahkan oleh candi kurung atau kori agung. dan
Sebelum sampai ke halaman dalam (jeroan) melalui kori agung, terlebih dahulu harus memasuki candi bentar, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar (jabaan atau jaba pisan) ke halaman tengah (jaba tengah). Candi bentar ini adalah simbolis pecahnya gunung Kailaúa tempat bersemadhinya dewa Úiva. Di kiri dan kanan pintu masuk candi bentar ini biasanya terdapat arca Dvàrapala (patung penjaga pintu, dalam bahasa Bali disebut arca pangapit lawang), berbentuk raksasa yang berfungsi sebagai pengawal pura terdepan. Pintu masuk kehalaman dalam (jeroan) di samping disebut kori agung, juga dinamakan gelung agung. Kori Agung ini senantiasa tertutup dan baru dibuka bila ada upacara di pura. Umat penyungsung(pemilik pura) tidak menggunakan kori agung itu sebagai jalan keluar-masuk ke jeroan, tetapi biasanya menggunakan jalan kecil yang biasanya disebut “bebetelan“, terletak di sebelah kiri atau kanan kori agung itu.
Pada bagian depan pintu masuk (kori agung) juga terdapat arca Dvàrapàla yang biasanya bermotif arca dewa-dewa (seperti Pañca Devatà). Di atas atau di ambang pintu masuk kori agung terdapat hiasan kepala raksasa, yang pada pura atau candi di India disebut Kìrttimukha, pada arnbang candi pintu masuk candi Jawa Tengah discbut Kàla, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Banaspati dan di Bali discbut Bhoma. Cerita Bhoma atau Bhomàntaka (matinya Sang Bhoma ) dapat dijumpai dalam kakawin Bhomàntaka atau Bhomakawya. Bhoma adalah putra dewa Viûóu dengan ibunya dewi Påtivì yang berusaha mengalahkan sorga. Akhimya ia dibunuh oleh Viûóu sendiri. Kepalanya yang menyeringai ini dipahatkan pada kori agung. Mcnurut cerita Hindu, penempatan kepala raksasa Bhoma atau Kìrttimukha pada kori agung dimaksudkan supaya orang yang bermaksud jahat masuk kedalam pura, dihalangi oleh kekuatan raksasa itu. Orang-orang yang berhati suci masuk kedalam pura akan memperoleh rakhmat-Nya.
KeSimpulan
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa pura adalah tempat suci, tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa, para devatà dan roh suci leluhur. vaýúakarta) yang diyakini telah mencapai alam kesucian (svarga). Di samping itu pengelompokkan pura juga dibedakan atas pura umum, pura teritorial, pura fungsional, dan pura kawitan (pura untuk memuja pendiri dinasti).
Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi Pura Jagat dan Pura Kawitan, sedangkan berdasarkan karakternya dibedakan menjadi Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina (pura fungsional) dan Pura Kawitan. Berdasarkan struktur pura dibedakan pura dengan 3 halaman (Jeroan, Jaba Tengah dan Jaba Sisi) yang melambangkan Tribhuwana (Svah, Bhuvah, dan Bhurloka), 2 halaman (Jeroan dan Jabaan) yang melambangkan alam sorga dan bumi dan yang satu halaman saja yang melambangkan alam sorga. Pura dengan 3 halaman pada umumnya untuk pura yang besar (Kahyangan Jagat) sedangn pura dengan 2 atau satu halaman pada umumnya utuk pura Kawitan atau pura keluarga.
Pura dibedakan berdasarkan pengelompokka peruntukannya, yaitu pura yaitu pura sebagai tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa atau para devatà manifestasi-Nya dan pura untuk memuja roh suci para leluhur, utamanya roh suci para mahàrûi (àchàrya) dan pendiri dinasti
Tidak seperti candi atau kuil Hindu di India yang berupa bangunan tertutup, pura dirancang sebagai tempat ibadah di udara terbuka yang terdiri dari beberapa lingkungan yang dikelilingi tembok. Masing-masing lingkungan ini dihubungkan dengan gerbang atau gapura yang penuh berukiran indah. Lingkungan yang dikelilingi tembok ini memuat beberapa bangunan seperti pelinggih yaitu tempat suci bersemayam hyang, meru yaitu menara dengan atap bersusun, serta bale (pendopo atau paviliun). Struktur tempat suci pura mengikuti konsep Trimandala, yang memiliki tingkatan pada derajat kesuciannya, yakni:
1. Nista mandala (Jaba pisan): zona terluar yang merupakan pintu masuk pura dari lingkungan luar. Pada zona ini biasanya berupa lapangan atau taman yang dapat digunakan untuk kegiatan pementasan tari atau tempat persiapan dalam melakukan berbagai upacara keagamaan.
2. Madya mandala (Jaba tengah): zona tengah tempat aktivitas umat dan fasilitas pendukung. Pada zona ini biasanya terdapat Bale Kulkul, Bale Gong (Bale gamelan), Wantilan (Bale pertemuan), Bale Pesandekan, dan Perantenan.
3. Utama mandala (Jero): yang merupakan zona paling suci di dalam pura. Di dalam zona tersuci ini terdapat Padmasana, Pelinggih Meru, Bale Piyasan, Bale Pepelik, Bale Panggungan, Bale Pawedan, Bale Murda, dan Gedong Penyimpenan.
Meskipun demikian tata letak untuk zona Nista mandala dan Madya mandala kadang tidak mutlak seperti demikian, karena beberapa bangunan seperti Bale Kulkul, atau Perantenan atau dapur pura dapat pula terletak di Nista mandala.
Pada aturan zona tata letak pura maupun puri (istana) di Bali, baik gerbang Candi bentar maupun Paduraksa merupakan satu kesatuan rancang arsitektur. Candi bentar merupakan gerbang untuk lingkungan terluar yang membatasi kawasan luar pura dengan Nista mandala zona terluar kompleks pura. Sedangkan gerbang Kori Agung atau Paduraksa digunakan sebagai gerbang di lingkungan dalam pura, dan digunakan untuk membatasi zona Madya mandala dengan Utama mandala sebagai kawasan tersuci pura Bali. Maka disimpulkan baik untuk kompleks pura maupun tempat tinggal bangsawan, candi bentar digunakan untuk lingkungan terluar, sedangkan paduraksa untuk lingkungan dalam.
Jenis Pura
Terdapat beberapa jenis pura yang berfungsi khusus untuk menggelar beberapa ritual keagamaan Hindu dharma, sesuai penanggalan Bali.
1. Pura Kahyangan Jagad: pura yang terletak di daerah pegunungan. Dibangun di lereng gunung, pura ini sesuai dengan kepercayaan Hindu Bali yang memuliakan tempat yang tinggi sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan hyang.
2. Pura Segara: pura yang terletak di tepi laut. Pura ini penting untuk menggelar ritual khusus seperti upacara Melasti.
3. Pura Desa: pura yang terletak dalam kawasan desa atau perkotaan, berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Hindu dharma di Bali.
Sad Kahyangan
Sad Kahyangan atau Sad Kahyangan Jagad, adalah enam pura utama yang menurut kepercayaan masyarakat Bali merupakan sendi-sendi pulau Bali. Masyarakat Bali pada umumnya menganggap pura-pura berikut sebagai Sad Kahyangan:
1. Pura Besakih di Kabupaten Karangasem.
2. Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem.
3. Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung.
4. Pura Uluwatu di Kabupaten Badung.
5. Pura Batukaru di Kabupaten Tabanan.
6. Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik) di Kabupaten Gianyar.
Selain pura-pura Sad Kahyangan tersebut di atas, masih banyak pura-pura di lainnya di berbagai tempat di pulau Bali, sesuai salah satu julukannya Pulau Seribu Pura.
Pura Besakih adalah komplek pura utama di Pulau Bali, dan merupakan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali. Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia.
Salah-satu pura terkenal lainnya adalah Pura Tanah Lot di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Di Tanah Lot terdapat dua buah pura yang terletak di atas tebing batu besar, yang merupakan tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Lingga Purana

1.1 Pengertian

Linga Purana, bila dilihat dari asal pembentukan katanya berasal dari kata Lingga dan kata Purana. Bila dilihat dari cerita tentang perdebatan antara Dewa Brahma dengan Dewa Wisnu tentang pengakuan kesaktian dan kehebatan masing – masing, linga disini dijelaskan merupakan wujud asli dari alam semesta, dimana dari Linga itulah diciptakan Brahmanda (telur brahma) yang merupakan awal pembentukan seluruh alam semesta. Purana berasal dari kata Pura yang artinya sejarah kuno dan ana berarti mengatakan atau menceritakan. Jadi secara proses pembentukan katanya Linga Purana adalah salah satu bagian dari Mahapurana yang berisi atau menceritakan tentang sejarah pembentukan atau penciptaan seluruh alam semesta (sarga), masa kehancuran dan penciptaan kembali (pratisarga), berbagai jaman (manvantara), cerita dinasti matahari (surya vamsa), dan dinasti bulan (candra vamsa), dan silsilah raja – raja (vamsanucarita). Namun diantara semua bagian – bagian Mahapuana yang ada, hanya Visnu Puranalah yang sangat seimbang memuat kelima hal tersebut.
Lingga Purana ini berisi tentang dialog/percakapan antara Rsi Lomaharsanadengan Rsi Suta dan para Rsi lainnya di hutan Naimisaranya yang juga pada waktu itu didampingi oleh Rsi Narada.

1.2 Isi Lingga Purana

Seperti yang telah diuraikan dalam pengertian diatas, Lingga Purana ini berisi tentang percakapan atau dialog antara Rsi Suta dan para Rsi yang lainnya dengan Rsi Lomaharsana di tengah hutan Naimisaranya. Pada percakapan tersebut Rsi Suta bertanya banyak hal kepada Rsi Lomaharsana, diantaranya:
1. Penciptaan
Diceritakan oleh Rsi Lomaharsana bahwa esensi ketuhana yang memenuhi segalanya adalah Brahman. Pada awalnya satu – satunya objek yang ada di alam semesta ini adalah Brahman. Brahman inilah yang kemudian membagi diriNya menjdi tiga bagian utama yaitu : Brahma, Visnu, dan Siva. Brahma menjadi sang pencipta, Visnu sebagai pemelihara, dan Siva sebagai pemralina atau pelebur.
Didalam masa penciptaan ini waktu dibagi menjadi empat bagian, yaitu :Satyayuga, Tretayuga, Dvaparayuga, dan Kaliyuga. Satyayuga berlangsung selama 4.000 tahun para dewa atau 1.440.000 tahun manusia, jaman Tretayuga berlangsung selama 3.000 tahun para dewa atau 1.080.000 tahun manusia, jaman Dvaparayuga berlangsung selama 2.000 tahun para dewa atau 720.000 tahun manusia, dan yang terakhir adalah jaman Kaliyuga yang berlangsung selama 1.000 tahun para dewa atau 360.000 tahun manusia. Semenjak dimulainya jaman Satyayuga sampai dengan jaman Kaliyuga berakhir disebut sebagai satu Mahayuga atau 10.000 tahun para dewa. Diantara peralihan satu jaman ke jaman berikutnya terdapat periode peralihan yang disebut Sandhyamsa yang berjumlah 2.000 tahun para dewa. Maka satu Mahayuga berlangsung selama 12.000 tahun para dewa atau 4.320.000 tahun manusia.
Penggabungan empat jaman tadi disebut sebagai satu Mahayuga, tujuh puluh satu Mahayuga disebut sebagai satu Manvantara, empat belas Manvantaraatau seribu Mahayuga disebut sebagai satu Kalpa, satu Kalpa inilah yang akan membentuk satu Ahoratra Brahma. Seribu Kalpa adalah satu tahun Brahma dan delapan ribu tahun itu adalah satu Yuga untuk Brahma.
Pada akhir satu hari Brahma, seluruh alam semesta dan semua makhluk hidup akan dihancurkan. Sedangkan Brahma, Visnu, dan Siva tetap tidak dihancurkan. Pada saat ini yang ada hanya kegelapan dan air yang memenuhi semua ruang, dan Visnu tertidur diatas air tersebut. karena Nara berarti air dan Ayana berarti tempat beristirahat, maka Visnu juga disebut sebagai Narayana.
Ketika Brahma memulai kembali penciptaan Beliau, pertama – tama Beliau mencipta tiga orang putra melalui kekuatan Bhatin-Nya. Mereka adalah Sananda, Sanaka, dan Sanatana. Selain tiga putra beliau Brahma juga mencipta Sembilan putra yang lain melalui kekuatan bhatin beliau, mereka adalah Marici, Bhrgu, Angira, Pulastya, Pulaha, Kratu, Daksa, Atri, dan Vasistha. Untuk menjamin penciptaan terus berlanjut, maka Brahma membagi diri beliau menjadi dua bagian yaitu bagian laki – laki dan bagian perempuan. Bagian laki– laki bernama Svayambhuva Manu dan yang perempuan bernama Satarupa.

2. Yoga
Selanjutnya para Rsi bertanya kepada Rsi Lomaharsana tentang Yoga. Oleh Rsi Lomaharsana dijelaskan bahwa secara tata bahasa yoga itu berarti penyatuan. Yoga adalah teknik yang memungkinkan seseorang untuk menyadari penyatuan antara paramatman dengan roh manusia individu (atman/jivatman).
Yoga memiliki delapan komponen yang disebut dengan astangga yoga. Delapan komponen itu adalah : yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi. Yama adalah persiapan sebelum menuju meditasi, yang didukung dengan latihan ahimsa. Niyama adalah aturan tertentu yang harus dipatuhi, aturan itu meliputi kejujuran, pembujangan, dan tidak ada rasa iri hati. Aturan ini juga melibatkan kesucian, pemberian sedekah, dan berpuasa. Pranayama adalah pengendalian nafas yang dilakukan atas sikap tubuh yang baik (asana), pratyahara yaitu penarikan pikiran dari segala kecenderungan yang bersifat duniawi. Sebuah gambaran hendaknya ditetapkan untuk melakukan meditasi, jika gambaran wujud Tuhan sudah melekat dalam pikiran, maka proses ini disebut sebagai Dharana dan proses meditasi yang benar adalah Dhyana. Sedangkan Samadhi adalah tahap terakhir dari meditasi, yaitu berupa kesadaran akan kesatuan atman dan paramatman.

3. Yuga
Seperti yang dijelaskan diawal tadi, bahwa jaman dibagi menjadi empat bagian waktu, yaitu: Satyayuga, Tretayuga, Dvaparayuga, dan Kaliyuga.
Jaman Satyayuga adalah jaman kebahagiannya seluruh makhluk. Semua individu mendapatkan kedudukan yang sama, tidak ada yang merasa lebih unggul ataupun merasa lebih rendah dari yang lainnya. Pada jaman ini memiliki iklim yang tidak panas ataupun tidak dingin. Orang – orang tidak mengenal kebencian dan iri hati. Rasa lapar maupun haus tidak dirasakan dalam jaman ini. Bumi menghasilkan banyak sekali buah – buahan dan manusia bertahan dengan makanan seperti itu. Orang – orang hidup dipinggir samudra dan pegunungan. Pada jaman ini orang – orang secara alami selalu bersifat baik.
Pada jaman Tretayuga, segalanya mulai terdapat perubahan. Awan – awan mulai menutupi langit dan terjadi hujan lebat. Bumi tidak lagi menyediakan berbagai macam buah – buahan karena hujan lebat itu, maka pepohonan mulai tumbuh dan orang – orang hidup dari getah pepohonan itu. Pada waktu seperti itulah keserakahan orang mulai timbul untuk memperebutkan pepohonan. Akibat dari perbuatan manusia itu pepohonan tidak lagi dapat menghasilkan getah yang dapat mereka makan. Akan tetapi mereka menyediakan buah untuk mereka bertahan hidup. Mereka mulai mamanfaatkan kulit kayu tersebut untuk pakaian mereka, dan ketika mereka mulai memperebutkan semua itu, pepohonan tersebut mulai musnah dan bahkan hilang samasekali. Dari peristiwa itu dikenallah peristiwa panas dan dingin. Manusia mulai memerlukan rumah untuk dapat terhindar dari panas dan dingin. Sebelumnya manusia tidak perlu bersusah payah karena semuanya sudah disediakan oleh alam, akan tetapi ketika pepohonan mulai sirna mereka mulai mengembangkan system pertanian dan peternakan untuk bisa bertahan hidup.
Manusia mulai merasakan penderitaan semakin hebat saat memasuki jaman Dvaparayuga. Kebnyakan tanda – tanda kejahatan seperti benci, iri, kecemburuan, pertengkaran, dan pergolakandimulai pada jaman ini. Kekeringan dan kelaparan pertama kali dirasakan pada jaman ini.
Jaman Kaliyuga adalah jaman yang dianggap paling buruk, pada jaman ini orang – orang hanya berpikir tentang individu masing – masing saja. Orang – orang suci pada jaman ini idak dihormati lagi. Kitab dan sastra agama tidak mampu mengatur dan mengendalikan perbuatan manusia. Kejahatan merajalela. Orang – orang pada jaman kaliyuga ini secara alami memiliki sifat pembohong. Umur manusia pada jaman Kaliyuga ini berkurang hingga hanya enam belas tahun saja. Namun ada hal yang baik pada jaman Kaliyuga ini adalah perbuatan kebaikan sekecil apapun akan berpahala besar. Dan ketika durasi waktunya telah berakhir, maka Pramiti (biasa disebut Kalki) akan turun untuk mengembalikan kebenaran dan membentuk pondasi yang kokoh.

4. Kewilayahan/ Geografi
Dunia ini dibagi menjadi empat belas wilayah (Loka). Tujuh loka berada dialam bawah dan tujuh loka lagi berada di alam atas. Tujuh loka dialam atas yaitu:Bhuloka, Bhuvarloka, Svarloka atau Svarga loka, Maharloka, janaloka, tapoloka,dan satyaloka. Tujuh loka yang berada di alam bawah yaitu: mahatala, hematala, rasatala, talatala, sutala, atala, dan patala.
Selain empat belas loka di atas, bumi juga memiliki banyak gunung dan samudra. Daratan dibagi menjadi tujuh bagian (dvipa) yaitu: jambudvipa, plaksadvipa, salmalidvipa, kusadvipa, krauncadvipa, skadvipa, dan puskaradvipa. Tujuh samudra utama yang dikelilingi oleh daratan yaitu: lavana, iksu, sura, ghrta, dadhi, dan jala. Untuk nama samudra yang ketujuh tidak diketahui namanya, nama yang tidak diketahui itu disebut dengan sarpi.

5. Astronomi
Di dalam Linga Purana dijelaskan bahwa dalam satu tahun ada dua belas bulan yaitu: Madhu, Madhava, Sukra, Suci, Nabha, Nabhasya, Isa, Urja, Saha, Sahasya, Tapa, dan Tapasya. Dua bulan membentuk sebuah musim (rtu) dan ada enam musim dalam setahun yaitu: Grisma (musim panas), Varsa (musim hujan), Sarat (musim gugur awal), Hemanta (musim gugur akhir), Sita (musim dingin), Vasana (musim semi).
Bulan (Candra) memiliki kereta dengan tiga roda dan ditarik oleh tiga ekor kuda yang berwarna putih. Matahari merengguk energy bulan setiap lima belas hari sekali. Masa ini disebut dengan nama Krsnapaksa (selama dua minggu bulan mengecil). Matahari kemudan mengembalikan energy bulan tersebut dan masa ini disebut dengan Suklapaksa (selama dua minggu bulan akan semakin membesar).
Budha (merkuri) adalah putra dari Candra yang mengenadari kereta yang ditarik oleh delapan ekor kuda berwarna kuning. Keretanya terbuat dari emas.Brhaspati atau Jupiter juga memiliki kendaraan yang terbuat dari emas dan juga ditarik oleh delapan ekor kuda. Akan tetapi kendaraan Sani (saturnus) terbuat dari besi. Seperti halnya Dwa Indra menguasai para Dewa, matahri menguasai planet, dan bulan menguasai bintang – bintang (naksatra) dan tumbuh – tumbuhan. Dan semua itu menyatu kembali dengan Dhruva (bintang kutu

1.3 Siva Dipuja dalam Bentuk Lingga

Oleh Rsi Lomaharsana diceritakan bahwa bertahun – tahun yang lalu, yaitu pada akhir masa penghancuran, diseluruh tempat di alam semesta ini dipenuhi oleh air dan ditutupi oleh awan kegelapan saja. Saat itu Visnu tertidur di atas air dalam wujud beliau Narayana. Ketika itu Brahma melihat Visnu sedang tertidur dan kemudian membangunkannya. Karena Brahma tidak mengenali Visnu, maka beliau bertanya tentang keberadaan Visnu ditempat itu, tetapi Brahma terheran karena Visnu menyebut beliau sebagai putraNya. Brahma tidak menerima bahwa beliau dikatakan sebagai putra Visnu karena beliau adalah pencipta dari segalanya, disaat perdebatan antara Brahma dan Visnu itulah muncul sebuah Linga yang bersunar sangat terang. Linga itu muncul seolah – olah untuk menghentikan pertengkaran antara Brahma dan Visnu. Benda misterius itu kemudian menjulang ke angkasa dan tidak memiliki pangkal ataupun ujung. Karena merasa penasarana dengan benda yang muncul dengan tiba – tiba itu, akhirnya Brahma dan Visnu sepakat untuk mencari tahu tentang benda tersebut. Untuk mencari ujung benda tersebut, Brahma merubah diriNya menjadi Angsa dan terbang ke atas, sedangkan Visnu mengambil wujud Babi hutan dan menggali ke bawah. Sekian lama pencarian, Brahma dan Visnu tidak menemukan ujung ataupun pangkal dari benda yang membuat mereka penasaran. Mereka kembali dengan keheranan masing – masing. Mereka menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan hal yang lebih agung dari diri mereka. Maka mereka mulai berdo’a kepada linga tersebut, dan saat itulah suara “Om” bergema dimana – mana mengitari Linga itu. Siva menampakkan diri dengan mengambil wujud Rsi yang bernama Vedanama. Beliau memberi tahu mereka bahwa Linga itu sebenarnya adalah wujud asli dari alam semesta. Dari Linga itu diciptakanBrahmanda (telur brahma) yang merupakan awal pembentukan alam semesta.
Siva juga mengajarkan mantra gayatri yang sacral kepada Brahma dan Visnu. Siva berkata kepada Brahma dan Visnu bahwa sebenarnya mereka bertiga adalah bagian dari Brahman yang satu. Brahma adalah pencipta, Visnu adalah Pemelihara, dan Siva adalah peleburnya. Dan sejak saat itulah Siva dipuja dalam bentuk Linga

Sad Darsana (Filsafat Hindu)

FILSAFAT MIMAMSA
1. Pengertian
Secara etimologis, kata mimamsa berarti ‘bertanya’atau penyelidikan. bagian pertama dari filasfat ini disebut Purwa-Mimamsa (Mimamsa), sedangkan bagian kedua disebut Uttara-Mimamsa (Vedanta). Mimamsa dan vedanta juga seringkali dijadikan satu pasangan. Sistem Mimamsa-Vedanta adalah dua bagian dari satu filsafat yang mewakili unsur paling ortodoks dari tradisi Weda. Kedua sistem ini menjelaskan perkembangan, tujuan, serta ruang lingkup teks Weda.
Filsafat Mimamsa yang akan dibahas adalah Purwa Mimamsa, yang umum disebut dengan Mimamsa saja. Kata Mimamsa, berarti penyelidikan yang sistematis terhadap Veda. Purwa Mimamsa secara khusus mengkaji bagian Veda, yakni kitab-kitab Brahmana dan Kalpasutra, sedang bagian yang lain (Aranyaka dan Upanisad) dibahas oleh uttara Mimamsa yang dikenal pula dengan nama yang populer, yaitu Vedanta. Purwa Mimamsa sering disebut Karma Mimamsa, sedang Uttara Mimamsa disebut juga Jnana Mimamsa.
2. Sejarah Singkat Tentang Mimamsa
Sebagai tokoh aliran Mimamsa ialah Jaimini yang hidup antara abad 3-2 SM dengan ajaran pokok yang diuraikan dalam kitab Mimamsa-Sutra. Dalam jaman kemudian ajaran dalam mimamsa-sutra dikomentari oleh para pengikutnya seperti : Sabaraswamin sekitar abad ke 4 Masehi dan Prabhakarya sekitar tahun 650. Serta yang terakhir oleh Kumarila Bhata sekitar tahun 700. Oleh karena itu dalam perkembangan selanjutnya terjadilah dua aliran dalam Mimamsa yaitu disatu pihak pengikut Prabhakara dan yang lainnya adalah pengikut Kumarila Bhata. Kedua aliran ini tetap berpegang pada pokok ajaran Mimamsa walaupun tujuan mereka masing-masing ada perbedaan.
3. Ajaran Dalam Filsafat Mimamsa
Pokok pembicaraan di dalam Mimamsa ialah peneguhan kewibawaan kitab Weda dan pembuktian bahwa kitab Weda membicarakan upacara-upacara keagamaan. Oleh karena itu Mimamsa juga disebut Karma-Mimamsa. Pada zaman Brahmana sudah dimulai adanya pembicaraan-pembicaraan tentang bermacam-macam hal yang mengenai upacara-upacara keagamaan, dan bahwa hasil dari pembicaraan-pembicaraan itu lalu disusun secara sistematis, yang kemudian menimbulkan kesusateraan yang disebut Kalpa-Sutra. Ajaran Mimamsa dapat disebut pluralistis dan realistis, artinya: Aliran ini menerima adanya kejamakkan jiwa dan pergandaan asas bendani yang menyelami alam semesta ini, serta mengakui bahwa obyek-obyek pengamatan adalah nyata Sendi utama teori pengetahuan Mimamsa adalah pemahaman tentang keabsahan diri pengetahuan. tidak seperti teori pengetahuan lain yang mempertahankan bahwa klaim-klaim pengetahuan diketahui sebagai yang benar ketika mereka berhubungan dengan realitas, atau ketika mereka menuntun orang kepada tindakan yang berhasil, atau ketika mereka berpadu dalam satu sistem yang konsisten. Mimamsa menekankan bahwa kodrat pengetahuan itulah yang memberi kesaksian terhadap dirinya sendiri. Keyakinan kita akan kebenaran klaim yang ditunjuk pengetahuan dari kodratnya muncul sebagi satu sosok pengetahuan itu sendiri. Mengenai alat atau cara untuk mendapatkan pengetahuan Prabhakara mengajarkan lima cara, sedangkan Kumarila Bhata mengajarkan enam cara termasuk yang diajarkan oleh Prabhakara. Keenam cara itu ialah:
1. Pengamatan (Pratyaksa)
2. Penyimpulan (anumata)
3. Kesaksian (Sabda)
4. Perbandingan (Upamana)
5. Persangkaan (Arthapatti)
6. Ketiadaan (Anupalabdi)
Empat bagian diatas sama dengan apa yang diterangkan dalam filsafat Nyaya. Bila keempat cara pertama tidak dapat dipakai untuk mendapatkan pengetahuan (kebenaran) dari suattu peristiwa, maka akanlah dipakailah cara persangkaan. Walaupun disadari bahwa cara ini perlu dibantu dengan cara lain untuk memperoleh cara yang pasti. Bila terlihat seseorang dalam keadaan senyum dan mukanya berseri-seri, maka dapat diduga bahwa orang tersebut mendapat sukses dalam usahanya.
Kemudian Ketidak adaan (Anupalabdhi) termasuk cara yang diajarkan oleh Kumarila Bhata dan tidak termasuk diantara cara dari Prabhakara. Ketidakadaan ini dapat diterangkan dengan suatu contoh, misalnya: bila seseorang masuk dan mengamati sekeliling kamar dan mengatakan tidak ada meja di dalam kamar. Dia tidak melihat meja karena memang tidak ada meja di dalam kamar itu. Jadi orang memiliki pengetahuan dalam hal ini karena ketidakadaan (anupalabdhi) dan ketidakadaan itu memang tidak dapat diamati. Diantara cara-cara tersebut didepan maka Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (sabda) yang paling penting dan utama. Karna kesaksian adalah pengetahuan yang berasal dari kata-kata atau kalimat-kalimat. Namun sebagai satu sarana pengetahuan yang sah, kesaksian menunjuk hanya pada klaim-klam verbal yang berasal dari sumber yang dapat dipercayai dan dimengerti secara benar. Dalam hal ini adalah kesaksian kitab weda. Wedalah kebenaran yang tertinggi dan Weda pula sumber pengetahuan yang sempurna. Tidak seperti beberapa sistem yang lain, Mimamsa tidak percaya akan satu pencipta dunia atau satu pengarang ilahi kitab Weda. Sebaliknya, Weda merupakan perwahyuan langsung dan kekal dari realitas itu sendiri.

4. Weda Dan Dharma
Yang menjadi tujuan pokok Mimamsa adalah : Menyusun aturan dan teknik untuk menerangkan ajaran Weda terutama tentang pelaksanaan Dharma. Yang dimaksud dengan dharma disini adalah upacara-upacara keagamaan yang bersumber pada Weda, termasuk pula tuntunan kesusilaan. Dalam prakteknya Mimamsa sangat mengutamakan kesusilaan karna dinyatakan bahwa orang yang kotor secara kesusilaan sangat sulit dibersihkan melalui Weda. Kebersihan dalam kesusilaan merupakan syarat mutlak didalam pelaksanaan upacara. Karna menurut Mimamsa dharma tidak menghasilkan buahnya secara langsung, melainkan dengan pelantaraan, artinya : sekalipun orang melaksnakan segala upacara keagamaan dengan betul dan berdasarkan kemurnian kesusilaa, ia tidak langsung memeetik buahnya perbuatan itu. Hal ini terlebih-lebh berlaku bagi apa yang dianggap sebagai hasil tertinggi segala korban , yaitu sorga. Hasil ini baru akan dicapai setelah orang meninggal dunia.
Menurut Weda, dharma meliputi dua macam tindakan yaitu tindakkan yang diwajibkan, baik berlaku pada umumnya, maupun yang berhubungan dengan upacara-upacara berkala, dan tindakkan yang tidak diwajibkan, yang fakultatip. Mula-mula Mimamsa mengajarkan, bahwa tujuan hidup manusia yang terakhir ialah mencapai sorga, akan tetapi kemudian Mimamsa menyesuaikan diri dengan sistim-sistim yang lain, yaitu Moksa (kelepasan). Jalan untuk mendapatkan kelepasan adalah pelaksanaanupacaraaupacara keagamaan seperti yang diajarkan oleh kitab Weda, yaitu tindakan-tindakan yang diwajibkan dan menjauhkan diri dari perbuatan yang terlarang. Karena keinginan yang berlebih-lebihan untuk mempertahankan kebebasan dan keutuhan Weda, Mimamsa tidak memberikan tempat tempat kepada Tuhan di dalam sistimnya. Weda tidak memiliki penyusun, baik manusia maupun Tuhan di dalam sistimnya. Seandainya dunia ini dijadikan oleh Tuhanyang mahakuasa dan maha pemurah, tidaklah mungkin di dalam dunia ada kesengsaraan. Dunia tidak dijadikan Tuhan, sebab dunia ini tidak berawal dan tidak berakhir. Tidak ada penciptaandan tidak ada peleburan dunia. Tidak ada waktu dimana akan ada dunia yang lain daripada dunia sekarang ini. Oleh karena itu juga tiada Tuhan. Bahkan dewa-dewa, yang kepadanya mula-mula korban-korban dipersembahkan apakah ada dewa atau tidak, bukan soal yang penting. Arti sistim Mimamsa ialah bahwa sistim ini menyusun aturan-aturan untuk menjelaskan Weda. Hal ini memang perlu sekali.
5. Tentang Alam
Berbicara mengenai alam semesta Mimamsa mengatakan bahwa alam ini real dan kekal serta terjadi atom-atom yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat oleh Tuhan karena alam ini ada dengan sendirinya. Kedua aliran Mimamsa baik Prabhakara maupun Kumarila Bhata sama-sama mengajarkan adanya empat unsur di alam ini yaitu : Substansi, kualitas, aktifitas dan sifat umum.
Substansi menurut Prabhakara terdiri dari sembilan (9) yaitu:
• Bumi
• Air
• Api
• Hawa
• Akasa
• Akal
• Pribadi
• Ruang
• Waktu
Sedangkan Kumarila Bhata mengajarkan ada sebelas (11) bagian substansi yaitu sembilan yang diajarkan oleh Prabhakara dan ditambah dengan unsur lagi yaitu : kegelapan (tamasa) dan suara (sabda). Substansi, kualitas dan sifat umum sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dan dibedakan secara mutlak walaupun ketiga-tiganya mewujudkan satu kesatuan yang bulat. Dan substansi-substansi ini bukan terdiri dari atom-atom yang tidak dapat diamati. Hal itu disebabkan karena kitab Weda tidak menyatakan hal demikian itu. Bagian-bagian substansi dapat dapat diamati juga, seperti debu yang tampak di dalam sinar matahari.
FILSAFAT WEDANTA
1.Pengertian Wedanta
Wedanta berasal dari kata weda-anta,artinya bagian terakhir dari weda. Kitab Upanishad juga disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab ini mewujudkan bagian akhir dari Weda yang bersifat mengumpulkan. Disamping itu ada tiga faktor yang menyebabkan Upanishad disebut dengan Wedanta yaitu:
1. Upanishad adalah hasil karya terakhir dari jaman Weda.
2. Pada jaman Weda program pelajaran yang disampaikan oleh para Resi kepada sisyanya, Upainishad juga merupakan pelajaran yang terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan pelajaran shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Brahmana yakni tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan, dan terakhir barulah sampai pada filsafat dari Upanisad.
3. Upainishad adalah merupakan kumpulan syair-syair yang terakhir dari pada jaman Weda.
Jadi pengertian Wedanta erat sekali hubungannya dengan Upanishad hanya saja kitab-kitab Upanishad tidak memuat uraian-uraian yang sistimatis. Usaha pertama untuk menyusun ajaran Upanishad secara sistimatis diusahakan oleh Badrayana, kira-kira 400 SM. Hasil karyanya disebut dengan Wedanta-Sutra. Sebelum Badrayana telah ada orangg-orang yang berusaha menyusun ajaran Upanishad, akan tetapi paling terkenal adalah Badrayana, dalam Bhadgawadgita hasil karya beliau disebut Brahma Sutra.
Kitab Brahma Sutra/Wedanta Sutra, Upanishad dan Bhagawadgita, ketiga buku tersebut menjadi dasar filsafat Wedanta.
2. Pokok- Pokok Ajaran Wedanta
Wedanta mengajarkan bahwa nirvana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini,tak perlu menunggu setelah mati untuk mencapainya.nirvana adalah kesadaran terhadap diri sejati.dan sekali mengetahui hal itu,walau sekejap,maka seseorang tak akan pernah lagi dapat di perdaya oleh kabut individualitas.terdapat dua tahap pembedaan dalam kehidupan, yaitu: yang pertama, bahwa orang yang mengetahui diri sejatinya tak akan di pengaruhi oleh hal apapun. Yang kedua bahwa hanya dia sendirilah yang dapat melakukan kebaikan pada dunia
Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa filsafat Wedanta bersumber dari Upanishad. Brahma Sutra/Wedanta Sutra dan Bhadgawadgita. Masing-masing buku tersebut memberikan ulasan isi filsafat itu berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh sudut pandangannya yang berbeda. Walaupun obyeknya sama, tentu hasilnya akan berbeda. Sama halnya dengan orang buta yang merabah gajah dari sudut yangg berbeda, tentu hasilnya akan ber beda pula. Demikian pula halnya dengan filsafat tentang dunia ini, ada yang memberikan ulasan bahwa dunia ini maya (bayangan saja), dilain pihak menyebutkan dunia ini betul-betul ada, bukan palsu sebab diciptakan oleh Tuhan dari diriNya sendiri.
Karena perbedaan pendapat ini dengan sendirinya menimbulkan suatu teka-teki,apakah dunia ini benar-benar ada ataukah dunia ini betul-betul maya. Hal ini menyebabkan timbulnya penafsiran yangg bermacam-macam pula. Akibat dari penapsiran tersebut menghasilkan aliran-aliran filsafat Wedanta. Secara umum aliran filsafat Wedanta ada tiga ya ng terkenal yakni: aliran Adwaita oleh Sankara, Wasistadwaita oleh Ramanuja dan aliran Dwaita oleh Madhwa.
Pokok dari agama Weda seperti yang tampak pada kitab-kitab Weda itu tetap besar pengaruhnya didalam perkembangan agama Hindu. Tetapi walaupun kitab-kitab Weda itu masih tetap menjadi kitab-kitab tersuci orang-orang Hindu, kitab-kitab itu sudah tidak mempunyai arti yang besar lagi bagi praktek agama. Bahkan di jawa nampaknya kitab-kitab Weda itu tidak pernah dikenal. Bahasa yang digunakan didalam weda-weda itu tak lama kemudian tidak terbaca lagi oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu tidak berselang lama sudah ditulis orang berbagai tafsiran(komentar) tentang Weda-Weda itu. Komentar-komentar ini dimulai pada apa yang disebut “Brahmana “. Aliran Filsafat Wedanta Filsafat ini sangatlah kuno;yang berasal dari kkumpulan literatur bangsa Arya yang dikenal dengan nama Veda. Vedanta ini merupakan bunga diantara semua spekulasi, pengalaman dan analisa yang terbentuk dalam demikian banyak literatur yang dikumpulkan dan dipilih selama berabad-abad. Filsafat vedanta ini memiliki kekhususan. Yang pertama, ia sama sekali impersonal, ia bukan dari seseorang atau Nabi.
Sistem filsafat wedanta juga disebut uttara Mimamsa kata”wedanta” berarti”akhir dari weda. Sumber ajarannya adalah kitab upainishad. Maharsi V yasa menyusun kitab yang bernama Wedantasutra. Kitab ini dalam Bhagavad Gita disebut Brahmasutra. Oleh karna kitab Wedanta bersumber pada kitab-kitab Upanishad, Brahmasutra dan Bhagavad Gita, maka sifat ajarannya adalah absolutisme dan teisme. Absolutisme maksudnya adalah aliran yang meyakini bahwa Tuhan yang Maha Esa adalah mutlak dan tidak berpribadi (impersonal God), sedangkan teisme mengajarkan Truhan yang berpribadi (personal God).
1. Adwaita
Sistem Wedanta yang terbesar dan terkenal adalah Adwaita, artinya “tidak dualisme” maksudnya Adwaita menyangkal bahwa kenyataan ini lebih dari satu (Brahman), walaupun demikian sistim ini bukan bersifat monistis yang mengajarkan bahwa segala sesuatu dialirkan dari satu azas saja, melainkan disamping dari Brahman masih ada Atman yang merupakan sumber kekuatan. Penganjur yang terbesar dan terbanyak pengaruhnya dari aliran ini adalah sankara(788-820 masehi). Sankara ragu-ragu akan ketentuan dari Upanisad yang menyatakan bahwa dunia ini diciptakan oleh Brahman, akan tetapi tidak percaya akan keaneka ragaman di alam ini sebagai yang di anjurkan oleh Ramanuja. Kalau dunia betul-betul ada dengan nyata,maka tidak mungkin keaneka ragaman itu,tidak ada. Dengan pemikiran ini berusaha untuk mempertemukan pendapat-pendapat yang bertentangan itu dengan berdasarkan pada upacara dalam Sweta Swatara Upanisad, yang menyatakan bahwa asal (prakrti) dari pada dunia ini terletak pada kekuatan sulap (maya) . Dengan demikian Brahman dengan kekuatannya MayaNya dapat memperlihatkan segala yang kita lihat ini, sehingga menghalangi pengetahuan kita yang sebenarnya itu yaitu Brahman dengan keanekaragamannya. Kekuatan Maya dari Brahman dapat menipu diri manusia,antara lainn:
• Membuat manusia tetipu mengenai dunia yang kita liihat.
• Tertipu tentang apa yang sebenarnya Tuhan itu.
Ramanuja juga menguraikan tentang Maya, tetapi Maya yang dibayangkan adalah sesuatu kekuatan yang maha indah dari pada Tuhan. Untuk benar-benar menciptakan segala yang kita lihat di dunia ini, yaitu sesuatu kekuatan yang menjadikan dunia dari kekuatan MayaNya, sebagai yang digambarkan di depan, antara api dengan kekuatan membakarnya adalah merupakan satu kesatuan yang permanen. Demikian pula Tuhan dengan kekuatanNya adalah merupakan satu kesatuan. Pandangan ini berbeda dengan Sankara yang mengakui juga maya itu kekuatan Tuhan, tetapi tidak permanen.
Menurut Ramanuja, praktik yang merupakan bagian Tuhan benar-benar mengalami suatu perubahan. Sedangkan Sankara berpendapat bahwa Tuhan tak mengalami suatu perubahan dan segala yang kita lihat berubah, hanya kelihatannya saja demikian, sebenarnya tidak. Sebagai suatu contoh perubahan itu dapat dilihat antara lain:
• Perubahan wiwarta yakni; perubahan pandangan terhadap kenyataannya. Sesungguhnya tidak berubah, tetapi kelihatannya saja yang berubah. Seperti melihat ular sebagai tali, melihat awan sebagai orang-oranga, dan lain sebagainya. Apa yang dilihat tidak sesuai kenyataannya.
• Parinama, adalah perubahan dari bentuk aslinya menjadi bentuk yang lain. Seperti perubahan kelapa menjadi minyak, beras menjadi jajan dan lain sebagainya.
Ramanuja berpendapat, bahwa perubahan itu benar-benar Parinama, sedangkan Sankara menganggap bahwa perubahan itu hanyalah Wiwarta. Walaupun demikian, tetapi keduanya percaya pada Sat-Karya-Wada (Samkhya) yakni semuanya bersumber dari Brahman. Dari Brahmanlah timbulnya segala yang nampak beraneka ragam ini.
Hubungan Brahmana dengan Atma. Menurut Sankara hubungan antara jiwa dengan Brahman tidak sama dengan hubungan alam semata atau dunia dengan Brahman. Jadi jiwa tidak boleh dipandang sebagai kenyataan Brahmana, sebab jiwa telah kena pengaruh rajas dan tamas, walaupun jiwa adalah Brahmana seutuhnya. Jika hubungan Brahmana dengan alam semesta digambarkan sebagai ular yang berasal dari tali, maka hubungan jiwa dengan Brahmana digambarkan sebagai telur yang dilihat dengan kaca kuning. Telur yang putih, jika dilihat dengan kaca kuning akan tampak kuning juga. Sedangkan telurnya sendiri akan tetap putih, hanya tampaknya saja kuning karena ada alat tambahan yang disisipkan diantara telur dengan yang melihatnya. Telur disini menggambarkan Brahman, sedangkan telur yang kelihatan kuning adalah jiwa. Jelaslah bahwa jiwa bukanlah bayangan seperti halnya dengan alam semesta atau dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari pengertian jiwa atau “aku”mengandung dua pengertian yakni:
• Unsur yang identik dengan Brahman.
• Keadaan yang membatasi unsur yang identik dengan Brahman tadi,yaitu alat bathin (Bhudi,ahamkara,manas termasuk panca Budhindra dan panca Karmendhia),manusia. Satu-satunya realitas yang ada, adalah Brahman. Menurut Sankhara Brahman tidak dapat diuraikan dengan perantara sesuatu yang serba terbatas. Sankhara memberikan suatu ulasan bahwa Brahman memiliki dua rupa,dua bentuk atas dua wujud yakni;
• Para-rupa yakni rupa yang lebih tinggi.
• Apara-rupa yakni rupa yang lebih rendah. Atman bukanlah sebagian dari Brahman, melainkan Brahman melainkan Brahman seutuhnya. Oleh karena Atman adalah Brahman seutuhnya, maka Atman memiliki sifat yang sama pula dengan Brahman yakni; berada dimana-mana, tanpa terikat kepada ruang, Mahatahu,Mahakuasa,Mahaadil dan bijaksana.
Pendapat Sankara terhadap pengetahuan Menurut Kamarilah,Weda tidak memiliki penyusun,baik manusia maupun Tuhan, akan tetapi Sankara mengajarkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan ajaran Weda. Sekalipun demikian Weda bukanlah hasil karya Tuhan dalam arti yang biasa, sebab Tuhan menurunkan wahyu yang diterima oleh para Resi yang dihimpun menjadi Weda. Sankara juga mengatakan Weda akan tiada kembalipada saat dunia pralaya (akhir jaman) kemudian akan muncul kembali pada jaman berikutnya.
Ada dua macam pengetahuan yaitu; pengetahuan yang lebih tinggi (para widya) dan pengetahuan yang lebih rendah (apara widya) pengetahuan yang lebih tinggi didalamnya mengandung segala macam kebenaran,meliputi sesuatu yang lebih mewujudkan segala macam kebenaran, meliputi segala sesuatu yang mewujudkan kesatuan segala sesuatu yaitu Brahman. Pengetahuan yang lebih rendah mengenai pengetahuan dunia yang tampak ini, yang sebenarnya adalah khayalan belaka. Sarana untuk mencapai kelepasan atau menunggalnya dengan Brahman adalah:
1. Melakukan disiplin yang praktis yang disebut dengan Wairagya yaitu sikap tidak tertarik kepada duniawi. Orang yang berhasil melakukan itu, akan mendapatkan kecakapan untuk membedakan antara hal-hal yang bersifat sementara dan yang bersifat kekal, untuk meniadakan keinginan guna menguatkan kegairahan melaksanakan disiplin dan menghindari kesusahan untuk mendapatkan ketenangan dan kesederhanaan serta kesediaan menangkal diri.
2. Berusaha mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran yang tertinggi (jnana) dan mengubah pengetahuan itu menjadi pengalaman yang langsung, yaitu dengan belajar kepada guru mengenai ajaran adwaita, sehingga pengetahuan benar-benar bahwa Brahman adalah Atman, sehingga lanjutnya berusaha mencerminkan pengetahuan itu didalam hidupnya dan akhirnya merenungkan pengetahuan yang langsung.
Tuhan yang berpribadi sebagai, satu-satunya kenyataan yang berdiri sendiri (swatantra) dengan kata lain Madhwa mengakui/percaya. Dengan adanya manifestasi dari Tuhan yang beraneka ragam. Sistem Dvaita mengaggap dirinya sama tuanya dengan kitab-kitab Upanisad. Pokok ajaran Dvaita adalah perbedaan, dimana Madhva membuat perbedaan yang mutlak antara Tuhan, obyek-obyek yang bergerak maupun yang tidak bergerak, dan hanya Tuhan saja yang merupakan realitas yang merdeka. Dvaitamengakui bahwa alam semesta ini nyata (realistis), dan menerima adanya Tuhan yang berpribadi sebagai suatu kenyataan yang tertinggi (theistis). Segala sesuatu yang ada tergantung sepenuhnya kepada Tuhan, Wisnu (Sumawa dan Raka Krisnu, 1993 : 261).
Madvacharya menegaskan lima perbedaan besar, yaitu :
1. perbedaan antara Tuhan dan roh pribadi.
2. perbedaaan antara Tuhan dan materi.
3. perbedaan antara roh materi dan pribadi.
4. perbedaan satu roh dengan yang lainnya.
5. perbedaan antara materi yang satu dan yang lainnya.
Filsafat Madhva memiliki banyak titik persamaan dengan filsafatnya Ramanuja. Dalam sistem filsafat Madhva, Hari atau Wisnu merupakan keberadaan tertinggi. Alam adalah nyata dan perbedaannya adalah benar. Semua jiwa bergantung kepada Tuhan. Tuhan Hari hanya dapat diketahui melalui Weda. Pemujaan kepada Sri Krsna seperti yang diajarkan dalam Bhagavata Purana merupakan pusat dari keyakinannya. Hal ini merupakan intisari dari ajaran Madhvacharya (Sivananda, 1997 : 236-237)

Siwa di Indonesia

SIWA DI INDONESIA

Sumber Ajaran Tattwa
Tattwa adalah ilmu filsafat. Sumber-sumber ajaran tattwa adalah pustaka-pustaka suci Hindu yang merupakan sumber atau asal ajaran kebenaran atau kenyataan yang disebut tattwa. Vedā adalah kitab suci dan sumber ajaran agama Hindu. Dari Vedā mengalir ajaran yang merupakan kebenaran Agama Hindu. Ajaran Vedā tidak terbatas hanya sampai pada tuntunan hidup individual, tetapi juga dalam hidup sosial bermasyarakat. Dari Vedālah mengalir dan memberikan validitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Seperti yang dikembangkan dalam ,kitab Smāti , Itihāsa, Purāśa, Darśana, Tantra, dan Tattwa yang tersurat dalam lontar-lontar.
Sumber itu ada dua macam yaitu : sumber yang asli dan sumber tak asli. Sumber yang asli merupakan sumber Primer yang merupakan sumber inspirasi serta menjadi dasar renungan dalam perkembangan ajaran tattwa berikutnya. Sedangkan sumber tak asli adalah semua pustaka atau lontar-lontar yang tumbuh dan berkembang dari sumber asli tadi namun tetap menyajikan pemikiran atau pandangan yang bersifat falsafi.
Adapun yang merupakan sumber asli sebagai sumber dari segala sumber Dharma (Ajaran Hindu) adalah Veda, sesuai dengan pernyataan dalam kitab Manawa Dharmaśastra II.6 sebagai berikut :

Idanim dharma pramananyaha,Veda ‘ khilo dharma mulam smāti śile ca tad vidam, Acaraś ca iva sadhunam atmanastustir eva ca. (Manawa Dharmaśastra II.6)

Artinya :

Seluruh pustaka suci Veda adalah merupakan sumber utama dari pada dharma (agama Hindu) kemudian barulah smāti disamping śila dan kemudian acara serta akhirnya atmatusti (kepuasan diri peribadi).

Selanjutnya Manawa Dharmaśastra XII. 95 menyebutkan :
Ya Veda vahyah smātayo yaśca kudāśtayah,
Sarvasta nisphalah pretya tamo nistha hitah smātah.

Artinya :

Semua tradisi dan system kefilsafatan yang tidak bersumber pada Veda tidak akan memberi pahala kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber pada kegelapan.Vedalah sumber Dharma (Agama Hindu).

Demikian pula berdasarkan kutipan kedua jelaslah bahwa Tattwa yang merupakan salah satu aspek Agama Hindu, maka itu berarti bahwa tattwa itu pun sumbernya adalah Veda itu pula. Semua sistem kefilsafatan yang juga mempunyai makna sama dengan tattwa bersumber pada Veda, karena jika tidak, tidak akan memberi pahala.
Menurut sifat isinya Veda Śruti dibagi atas tiga bagian yaitu : bagian Mantra, bagian Brahmana dan bagian Upaniśad atau Āranyaka. Maka bagian Upaniśad inilah yang merupakan sumber aslinya ajaran Tattwa. Kata “Upaniśad” itu berarti duduk dibawah, yaitu duduk dibawah kaki guru, untuk mendengarkan ajaran Sang guru. Kamudian kata itu dipergunakan untuk menyebutkan nama kitab-kitab yang memuat ajaran rahasia itu. Ada banyak kitab Upaniśad. Berdasarkan catatan Muktikopaniśad jumlah Upaniśad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku, nama-nama itu adalah sebagai berikut :
1. Kelompok Upanisad untuk Āgveda Saýhitā, yaitu Aitareya, Kauśìtaki,Nādabindu, Tripurā, Ātmaprabodha, Nirvāśa, Mudgala, Akśamālikā, Saubhagya & Baávāca jumlahnya 10 buah.
2. Kelompok Upaniśad untuk Samaveda Saýhitā,, yaitu Kena, Chāndogya, Aruśi,Maitrāyaśi, Maitreyi, Vajraśùcika, Yogacùdamaśi, Vāsudeva, Mahat, Saýyasa, Avyākta, Kuśdika, Sāvitri, Rudrakśajābāla, Darśana, dan Jābāli jumlahnya 16 buah.
3. Upaniśad untuk Yajur Veda Hitam atau Kāśśa Yajur Veda, yaitu Kaþhavali, Taittirìyaka, Brahma, Kaivalya, Śvetāśvatara, Garbha, Nārāyaśa, Amātabindu,Amātanāda, Kālāgnirudra,Kśurika, Sarvasāra, Sukarahasya, Tejobindu, Dhyānabindu, Brahmavidyā, Yogatattva,Dakśiśā mùrti, Skanda, Śarìraka, Yogaśikha, Ekākśarā, Akśi, Avadhùta, Kaþha, Rudrahādaya, Yogakuśdaliśi, Pañcabrahma, Prāśāgnihotra, Varāha, Kalisaýtārana, dan Sarasvatìrahasya, jumlahnya 32 buah.
4. Kelompok Upaniśad untuk Yajur Veda Putih atau Śukla Yajur Veda, yaitu Ìśāvāsya, Bāhadāraśyaka, Jābāla, Haýsa, Paramahaýsa, Subāla, Mantrika, Nirālambha, Piògala, Bhikśu, Sāþyāyanì, Triśikhabrāhmana, Maśdalabrāhmana, Advanyatāraka, Turiyātita, Adhyātma, Tārasāra, Yājñavalkya, dan Muktika, jumlahnya 19 buah.
5. Kelompok Upaniśad untuk Atharva Veda Saýhitā, yaitu Praśna, Muśdaka, Māśdùkya, Atharvaśira, Atharvaśikha, Bāhajjābālā, Nāsiýhatāpini, Nāradaparivrājaka, Sìtā, Sarabha, Mahānārāyaśa, Rāmarahasya, Rāmatāpini, Sāndilya, Paramahaýsa parivrājaka, Annapurśa, Surya, Ātma, Paśupata, Parabrahmana, Tripurātāpini, Devì, Bhāvanā, Brahma, Gaśapati, Mahāvākya, Gopālatāpini, Kāśśa, Hayagrìva, Dattātreya, dan Gārudā dan jumlahnya 31 buah.
Kitab Upaniśad amat sulit dipelajari oleh masyarakat umum. Kemudian muncullah kitab-kitab Sùtra yaitu uraian prosa yang disusun dengan singkat serta dengan kalimat-kalimat pendek dengan maksud supaya mudah diingat. Kitab-kitab Sùtra inilah yang menjadi sumber daripada sistim filsafat India. Misalnya : Darśana seperti Nyāyā Sùtra, Vaiśeśika Sùtra, Saýkhya Sùtra, Yoga Sùtra, Mimāmsā Sùtra (Pùrvamimāýsā, Uttarmimāýsā) Vedānta Sùtra (Astika ) dan Budha, Jaina , Carvāka ( Nāstika ), Tantra, Brahma Sùtra, dan lain – lain. Kitab – kitab Sùtra tersebut jika dipandang dari segi sistimatika Veda menurut Maha Āśi Manu maka dikelompokkan kedalam jenis Nibandha.
Nibandha adalah kelompok kitab yang isinya memberi pandangan tersendiri baik yang sependapat maupun bertentangan dengan alasan-alasan yang meyakinkan tentang kebenaran ajaran yang diketengahkan. Jenis kitab Nibandha ini merupakan hasil karya ilmiah dari tokoh-tokoh agama Hindu. Karya mereka langsung membahas berbagai persoalan menurut bidang ilmu yang tersebar didalam Veda.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya setelah kitab Veda yaitu dari bagian Upanisad dan kitab-kitab Nibandha atau Sùtra itu dalam bahasa Sanskerta maka lahir pulalah sejumlah naskah-naskah dengan berbahasa Sanskerta Kepulauan (Archipelago Sanskrit) dan bahasa Jawa Kuno yang memuat ajaran Tattwa. Adapun naskah Jawa Kuno yang merupakan sumber dari Tattwa tersebut adalah :
1. Bhuwana Kośa
2. Wāhaspati Tattwa
3. Tattwa Jñāna
4. Ganapati Tattwa
5. Jñāna Siddhānta
6. Sang Hyang Mahājñāna
7. Bhuwana Sangkśepa
8. Pamatëlu Bhatara
9. Śiwa Tattwa Purāśa
10. dan lain-lain.
Berdasarkan uraian diatas bahwa Veda Śruti adalah sumber utama, kemudian kitab Śmāti seperti Vedānga , Upaveda, Upaòga, Nibandha, Kitab Āgama sebagai sumber kedua dan akhinya lontar-lontar Tattwa tersebut di atas. Namun patut diingat bahwa lontar-lontar tersebut tidaklah secara mentah menyerap ajaran Veda Śruti mapun Veda Śmāti tersebut namun sudah mengalami suatu seleksi dan penyaringan yang bijaksana disesuaikan dengan alam pikiran dan desa, kala dan patra setempat. Karena luas daerah dan panjangnya waktu yang dilaluinya maka wajahnya dapat berubah, sesuai dengan ruang dan waktu yang di laluinya , namun esensinya tetap esensi Veda. Hal ini memungkinkan untuk lebih mudah memahami dan mempelajarinya.

2.2 Tinjauan Beberapa Sumber Tattwa

2.2.1 Bhuwana Kośa
Bhuwana Kośa adalah lontar tertua yang bersifat Śiwaistis, dan juga lontar yang terpenting di Bali oleh karena konsep-konsep dasar tentang Śiwa Tattwa. (hakekat Śiwa), terdapat di dalam lontar ini yang kemudian mengalir dan berkembang ke dalam lontar-lontar Śiwaistis lainnya, seperti Wāhaspati Tattwa, Gaśapatai Tattwa, Tattwa Jñāna, Bhuwana sangkśepa, Sang Hyang Mahā Jñāna, Jñāna Siddhānta dan lain-lain.
Bhuwana Kośa termasuk jenis Tutur dan keadaan śloka Sanskertanya cukup bagus dan dan jumlahnyapun cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari terjemahaannya atau komentarnya dalam bahasa Jawa Kuna. Bhuwana Kośa adalah teks tertua yang masih ada sebagai pedoman para Pendeta penganut ajaran Śiwa-Siddhānta. Śiwa Siddhānta di sini adalah merupakan bentuk baru dari Śaiwa – Paksa yang dalam kurun waktu tertentu menerima atau menyerap unsur-unsur dari sekta-sekta lain yang pernah berkembang di Bali. Sehingga antara Śiwa Siddhānta yang ada di Bali dengan Śiwa Siddhānta yang ada di India adalah berbeda. Bhuwana Kośa merupakan lontar tertua tentang Śiwa Tattwa di Bali maka ini berarti bahwa ide atau konsep tentang hakekat Bhatara Śiwa itu adalah bersumber dari lontar Bhuwana Kośa. Dengan kata lain Lontar Bhuwana Kośa adalah merupakan babon (induk) dari lontar-lontar Siwaistis yang ada di Indonesia.
Menurut Mardiwarsito (1987;147) secara leksikal Bhuwana Kośa berarti perbendaharaan atau khazanah dunia. (the treasure of the world). Namun dalam hubungannya lukisan ini kata Bhuwana Kośa adalah nama salah satu lontar yang tergolong “Tutur”, sebagai babon (induk) dari lontar-lontar Siwaistis yang terdapat di Bali.
Susunan dan isi pokok dari Lontar Bhuwana Kośa adalah sebagai berikut : Lontar Bhuwana Kośa terdiri atas 11 (sebelas) bab yang disebut dengan Patalaá dengan jumlah śloka 487 śloka. Tiap Patalaá panjangnya tidak sama antara Patalaá yang satu dengan yang lainnya. Seriap Patalaá mempunyai judul tersendiri. Susunan Patalaánya berurutan mulai dari Prathama Patalaá. Kecuali bab VI, VII dan VIII yang seharusnya merupakan Saśþhah- Patalaá, Saptamah – Patalaá, dan Astamah – Patalaá, kembali menggunakan istilah Prathama – Patalaá, Dwitya – Patalaá dan Tritiya – Patalaá.
Selanjutnya setelah itu adalah Nawami – Patalaá dan Tritya – Patalaá. Sedangkan bab XI hanya berisi nama judul dengan tidak mencantumkan nama urutan Patalaá-nya. Sehingga Bhuwana Kośa itu seakan-akan hanya terdiri atas 10(sepuluh) bab (Patalaá). Jadi tepatnya harus dikatakan bahwa Lontar Bhuwana Kośaterdiri dari 10 Patalaá lebih atau 11 bab, karena bab XI tidak disebutkan sebagai Ekadaśamah – Patalaá.
Adapun isi dari Lontar Bhuwana Kośa dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Bagian Brahma-Rahasyam, terdiri dari 5 (lima) bab(Patalaá) mulai dari Patalaá I sampai V. Bagian ini berisi percakapan antara Śrìmuni Bhargawa dengan Bhathāra Śiwa mengenai Śiwa yang bersifat sangat rahasia.
2. Bagian Jñāna Rahasyam terdiri atas 6 (enam) bab(Patalaá), yaitu mulai dari Patalaá VI sampai bab XI. Bagian ini berisi percakapan antara Bhathāra Śiwa dengan Bhaþārì Umā dan Sang Kumāra mengenai pengetahuan untuk memahami Śiwa yang bersifat sangat rahasia.
Adapun ajaran Śiwa Tattwa dalam Bhuwana Kośa dapat dijelasakan sebagai berikut: Sang Hyang Widhi dalam Bhuwana Kośa disebut dengan Bhathāra Śiwa. Beliau adalah Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, berada di mana-mana dan lain sebagainya. Bhathāra Śiwa adalah tak terbatas, namun digambarkan secara terbatas, karena itu Ia sering disebut dengan banyak nama yang berbeda – beda, seperti : Brahma, Wiśśu, Ìśwara, Rudra sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Bhathāra Śiwa bersifat immanen dan trancendent. Immanen artinya meresapi segalanya termasuk pada pikiran dan indria, hadir pada segala tempat, tiada tempat tanpa Beliau.(sira wyāpaka). Trancendent artinya Ia meliputi segala tetapi ia berada di luar batas pikiran dan indria. Meskipun Ia bersifat immanen dan trancendent pada semua makhluk , tetapi Ia tidak dapat dilihat dengan kasat mata, karena bersifat sangat rahasia.
Bhathāra Śiwa adalah asal dari semua yang ada ini (sankeng Bhathāra Śiwasangkanya). Alam semesta (Bhuwana Agung) dengan segala isinya dan manusia (Bhuwana Alit) adalah ciptaanNya juga. Semua ciptaanNya itu merupakam wujud māyāNya yang bersifat tidak kekalkarena dapat mengalami kehancuran. Pada saat mengalami kehancuran semua ciptaanNya kembali kepada Bhathāra Śiwa. Karena Bhathāra Śiwa adalah asal dan tujuan semua yang ada ini (mijil sakeng sira lina ri sira muwah).

2.2.2 Wāhaspati Tattwa
Wāhaspati Tattwa terdiri atas 74 pasal menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuna. Bahasa Sanskertanya disusun dalam bentuk śloka dan diterjemahkan atau dijelaskan dengan bahasa Jawa Kuna dalam bentuk prosa (gancaran). Wāhaspati Tattwa berisi dialog antara seorang guru spiritual yaitu Sang Hyang Ìśwara dengan Bhagawān Wāhaspati. Sang Hyang Ìśwara, bersthana di puncak gunung Kailasa yaitu nama sebuah puncak gunung Hiamayala yang dianggap suci. Sedangkan Bhagawān Wāhaspati adalah orang suci yang merupakan guru dunia (guru loka) yang berada di Sorga. Wāhaspati Tattwa didalam menyajikan ajarannya menggunakan metode yang dirangkum dalam suatu mitologi.
Adapun dialog antara Sang Hyang Ìśwara dengan Bhagawān Wāhaspati dalam Wāhaspati Tattwa dalam Mitologi adalah sebagai berikut :
Tersebutlah seorang Rsi dari Sorga yang bernama Bhagawān Wāhaspati menghadap pada paduka Sang Hyang Ìśwara di puncak gunung Kailasa, guna mohon restu pendidikan dan tuntunan rohani. Diceritakan kemudian terjadi suatu percakapan atau tanya jawab atau diskusi. Diskusi tersebut dilakukan oleh Sang Hyang Ìśwara sebagai seorang guru dengan Bhagawān Wāhaspati sebagai seorang murid Nya .
Adapun isi diskusi antara Sang Hyang Ìśwara dengan Bhagawān Wāhaspati secara garis besarnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ada dua unsur kenyataan yang tertinggi yang disebut dengan Cetana dan Acetana. Cetana adalah unsur kesadaran. Acetana adalah unsur tanpa kesadaran. Kedua unsur ini adalah bersifat sangat halus dan memjadi sumber segala yang ada di dunia ini.
Cetana atau unsur kesadaran ada tiga tingkatan jenisnya yaitu Parama ŚiwaTattwa, Sadā Śiwa Tattwa dan Śiwātma Tattwa. Ketiga tingkatan kesadaran itu tidak lain adalah Sang Hyang Widhi sendiri yang telah berbeda tingkat kesadaranNya. Parama Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat memiliki tingkat kesadaran tertinggi (neti-neti). Sadā Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat memiliki tingkat kesadaran menengah atau sedang (iti-iti). Śiwātma adalah Sang Hyang Widhi pada saat memiliki tingkat kesadaran terendah. Tinggi rendah tingkat kesadaran yang dimiliki oleh Sang Hyang Widhi itu, tergantung pada kuat tidaknya pengaruh māyā, yang mempengaruhi pada masing-masing tingkatannya. Parama Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat bebas dari pengaruh māyā, Beliau masih suci murni atau tanpa sifat (nirguna).Karena itu Ia disebut dengan Nirguna Brahman. Sadā Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat telah mendapat pengaruh māyā, sehingga Beliau bersifat Maha Kuasa, Maha Tahu dan berada di mana-mana. Śiwātma adalah Sang Hyang Widhi pada saat mendapat pengaruh māyā yang paling kuat, sehingga Beliau menjadi Avidya, menjadi Jiwa dari makhluk disebut Jiwātma dan mengalami kelahiran serta samsara.
Untuk mengakhiri samsara itu Wāhaspati Tattwa menganjurkan untuk melaksanakan dan memepelajari segala Tattwa (Jñānabhyudreka), tidak tenggelam dalam kesenangan hawa nafsu (Indriyāyogamārga) dan tidak terikat pada pahala baik dan buruk (Tāśśadośkśaya).
Pelajaran itu digubah secara mitologis adalah hanya merupakan suatu metode pendidikan saja. Ajaran filsafat yang tinggi seperti ini memang sukar akan ditangkap dan dipahami dengan cepat secara langsung oleh pikiran dan perasaan biasa. Justru karena itu, maka diperlukan suatu metode, agar mudahnya ajaran tersebut dapat dimengerti.
Demikian pula metode diskusi inipun merupakan suatu metode pendidikan juga. Setiap pelajaran yang diperoleh secara berdiskusi, hasilnya akan lebih memuaskan jika dibandingkan dengan pelajaran yang didapatkan secara pasip. Karena diskusi ini adalah suatu mtode belajaran yang positip, sebab disamping secara langsung dan aktip dapat mengolah pikiran sendiri, juga dapat memperoleh imbangan dan tuntunan logika serta pengetahuan rational dari orang lain, sehingga hasilnya lebih sempurna dan lebih lama melekat dalam ingatan. Jadi metode itu sangat penting, karena metode itu sendiri juga menentukan berhasil tidaknya suatu ajaran.

2.2.3 Tattwa Jñāna
Dari sejumlah naskah Jawa Kuno yang menguraikan ajaran Tattwa di atas maka Wāhaspati Tattwa dan Tattwa Jñāna merupakan Lontar yang isinya dapat dipandang paling sistematis dan mudah dipahami. Lontar Tattwa Jñāna menggunakan bahasa Jawa kuna dalam bentuk prosa (gancaran). Sebagai sumber Tattwa disebutkan bahwa Tattwa Jñāna merupakan dasar semua Tattwa (bungkahing tattwa kabeh).
Tattwajñāna dan Wāharspati Tattwa adalah naskah Jawa Kuno yang menguraikan ajaran Tattwa (kebenaran). Kedua naskah tersebut pada prinsipnya mengandung ajaran yang sama. Sama-sama bersifat Śiwaistis. Sama-sama bersifat dualitis yang theistis, yaitu mengajarkan ada dua unsur yaitu Cetana dana Acetana ditambah unsur theistisnya yaitu Śiwa. Sehingga mirip dengan ajaran filsafat Saýkhya Yoga dalam sistim filsafat India.
Perbedaan terletak pada sistim dan metode penyajiannya dan perbedaan pada beberapa istilah dalam materi ajarannya. Kalau Wāhaspati Tattwa menyajikan ajaran dengan metode dialog atau percakapan tanya jawab atau diskusi sedangkan Tattwajñāna dengan metode penyajian materi secara doktrin.
Wāhaspati Tattwa terdiri dari dua bahasa yaitu Śloka Sanskerta yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno, akan tetapi Tattwajñāna disusun dalam bentuk prosa Jawa Kuno tanpa Śloka Sanskerta.
Beberapa perbedaan istilah dari kedua naskah tersebut misalnya: Śiwātma Tattwa dalam Wāhaspati Tattwa disebut Ātmika Tattwa dalam Tattwajñāna. Dura Sarwajñāna dalam Wāhaspati Tattwa disebut Durātmaka dalam Tattwajñāna. Disamping itu terdapat juga perbedaan materi yang tidak tersebut dalam Wāhaspati Tattwa tapi dalam Tattwa Jñāna itu ada seperti ajaran Caturdhyana yang terdiri dari : tistan, bhojan, gacchan, suptan.
Pemahaman Tattwa Jñāna secara baik akan memberikan pahala yang luar biasa seperti memahami betapa menderitanya menjelma menjadi manusia dan mengetahui jalan untuk kembali kepada asal mula, sehingga lepas dari proses kelahiran sebagai manusia (luputeng janma sangsara)
Tattwa Jñāna dalam menjelaskan ajarannya dimulai dengan memaparkan dua unsur yang universal yang ada dan menjadi penyebab di alam raya ini, yaitu Cetana dan Acetana. Cetana adalah unsur kesadaran (consciousness) yang disebut dengan Śiwa Tattwa yang memiliki sifat “tutur prakasa”. Sedangkan Acetana adalah unsur tanpa kesadaran (unconsciousness) yang disebut dengan Māyā Tattwa, yang memiliki sifat lupa,tan pajñāna, tanpacetana.
Cetana atau Śiwa Tattwa memiliki tiga tingkatan yaitu Prama Śiwa Tattwa, Sadā Śiwa Tattwa dan Ātmika Tattwa, (yang dalam Wāhaspati Tattwa disebut dengan Śiwātma Tattwa).
Prama Śiwa Tattwa, adalah Bhathāra Śiwa dalam keadaan tanpa bentuk (kasthityam Bhathāra ring niskala), yang tidak tersentuh oleh apapun jua.
Sadā Śiwa Tattwa, adalah Bhathāra Śiwa yang sudah mulai tersentuh oleh sarwajñā, sarwakaryakarta,caduŚakti dan jñāna Śakti . Ia disebut Bhathāra Adipramāna, Bhathāra Jagatnatha, Bhathāra Karāśa, Bhathāra Parameśwara, Bhathāra Guru, Bhathāra Mahuln, Bhathāra Waśawaśitwa. Ia berkuasa untuk mengadakan dan meniadakan, tetapi Ia sendiri tidak diciptakan.
Ātmika Tattwa, (Śiwātma Tattwa) adalah Sadā Śiwa Tattwa yang “uta prota” dalam Māyā Tattwa atau Acetana. Uta artinya Ia berada secara gaib dalam Māyā Tattwa, bagaikan api yang berada dalam kayu kering. Prota artinya Ia berkeadaan bagaikan permata bening cemerlang dalam Māyā Tattwa. Tetapi karena dibungkus oleh Māyā Tattwa maka sifat sarwajñā, sarwakaryakarta, caduŚakti dan jñāna Śakti , menjadi hilang. Karena itu disebut Ātmika Tattwa. Disamping itu Tattwa Jñāna juga menjelaskan Tri Guśa dengan perinciannya, yang sangat berpengaruh terhadap sifat manusia. Dan tubuh manusia di bangun oleh intisari zat makanan yang disebut dengan śadrasa dan lain sebagainya.

2.2.4 Ganapati Tattwa
Ganapati Tattwa adalah salah satu lontar Tattwa, lontar filsafat Śiwa, yang disampaikan dengan methode tanya jawab. Bhathāra Śiwa sebagai maha guru memberikan pelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan rohani yang bersifat abstrak dan rahasia. Bhathāra Ganapati yang disebut pula Sang Hyang Gaśapati atau Ganadipa adalah putra Bhathāra Śiwa adalah berperan sebagai penanya yang sangat cerdas, ingin mengetahui ajaran tentang kebenaran sumber ciptaan yang ada serta proses kembalinya kepada sumber asalnya. Dan Bhathāra Śiwa adalah juga Bhathāra Maheśwara, sebagai maha guru yang menjabarkan ajaran Rahasya Jñānā, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya, terutama tentang hakekat manusia misalnya: dari mana ia dilahirkan, untuk apa ia lahir, ke mana ia akan kembali dan bagaimana caranya agar bisa mencapai alam kelepasan atau mokśa.
Lontar Gaśapati Tattwa ditulis di dalam 37 lembar daun tal (lontar), disusun dalan 64 bait śloka dengan canda Anustubh Sanskerta, dan disertai dengan ulasan bahasa Jawa Kuna. Penjelasan masing-masing śloka Sanskerta itu, ada yang cukup singkat ada pula yang panjang, terutama pada śloka permulaan.
Adapun isi ringkas Gaśapati Tattwa adalah sebagai berikut : Oýkara adalah sabda śunya, nada Brahman, asal mula dari mana Pañca Daiwātmā (Brahma, Wiśśu, Ìśwara, Rudra dan Sang Hyang Sadā Śiwa)dilahirkan. Dan Pañca Daiwātmā adalah sumber dari mana Pañca Tan Matra diciptakan. Pañca tan Matra meliputi : ganda;unsur bau, rasa ; unsur rasa atau kenikmatan, rupa ; unsur bentuk, sparsa ; unsur rabaan atau sentuhan, dan sabda ; unsur suara . Itu adalah sumber dari Pañca Mahā Bhuta yaitu : akāśa ; ether, bayu ; angin, teja ; sinar, apah ; zat cair; dan perthiwi ; zat padat. Dari Pañca Mahā Bhuta inilah alam semesta beserta isinya diciptakan, dan Sang Hyang Śiwātma menjadi sumber hidup yang menggerakannya segala ciptaanNya.
Gaśapati Tattwa juga mengajarkan Yoga yaitu Sadangga Yoga yang meliputi : Pratyahārayoga, Dhyānatoga, Pranayāmayoga, Dharanayoga, Tarkkayoga dan Semadhiyoga. Sadangga Yoga adalah merupakan jalan spiritual untuk mencapai kelepasan atau mokśa. Padma Hati sebagai Śiwalingga dimana Beliau harus direnungkan. Hanya ia yang bijaksana berhati suci dan penuh keyakinan yang dapat mengetahui Beliau. Beliau hendaknya setiap saat dipuja dengan sarana Sang Hyang Caturdaśākśara.
Selanjutnya Ganapati Tattwa juga menerangkan anggapan orang yang bodoh dan sombong tentang ātma, dan menjelaskan sthana Bhathāra Wisnu, Brahma, dan Siwa pada badan jasmani. Sang Hyang Bheda Jñāna adalah ajaran Rahasia tentang manusia. Yang berhak menerima ajaran Rahasia ini adalah ia yang sungguh-sungguh melaksanakan Dharma.
Pada bagian selanjutnya dari Ganapati Tattwa juga menjelaskan tentang kelepasan atau mokśa. Ada tiga perilaku orang yang mengutamakan kebebasan dan pengetahuan yang suci adalah sarana untuk mencapai penyatuan diri dengan Sang Roh Yang Agung. Selanjutnya menjelaskan tentang penglukatan Sang Hyang Ganapati dan Sarana Upakara yang diperlukan, mantra yang mesti dipergunakan dan kegunaan penglukatan tersebut. Pada bagian yang terakhir Ganapati Tattwa adalah memuat mantra yang ditujukan kepada Sang Hyang Gaśapati dan Saraswati. Demikianlah ringkasan isi dari Ganapati Tattwa.

2.2.5 Jñāna Siddhānta
Lontar Jñāna Siddhānta terdiri dari 27 bab dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sanskerta dan dijelaskan dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Kuna.
Jñāna Siddhānta sebagai salah satu sumber ajaran Tattwa pada intinya mengandung ajaran tentang kelepasan atau mokśa yaitu menyatunya ātma dengan sumbernya. Untuk memperoleh kelepasan seseorang dapat melaksanakan yoga melalui enam tahapan (Sadanggayoga). Keenam tahapan itu adalah : Pratyāhārayoga, Dhyānatoga, Prānayāmayoga, Dhāranayoga, Tarkkayoga dan Samādhiyoga.
Sang Hyang Widhi dalam Jñāna Siddhānta disebut Bhathāra Śiwa. Deliau adalah Maha Esa (sa eko, ekatva).Ia merupakan kekuasaan tertinggi. Bhathāra Śiwa Yang Esa sering dipandang lebih dari satu (aneka), karena bercirikan empat yaitu yaitu : Sthùla, Sùkśma, Para dan Śùnya. Sthùla artinya beliau dibayangkan tampat dalam śabda māyā, śabda māyā artinya dituturkan dalam bentuk mantra. Sùkśma artinya beliau dibayangkan terjelma dalam citta māyā, citta māyā adalah isi dari pikiran yang terwujud dalam pengetahuan. Para artinya Beliau dibayangkan terjelma dalam citta -wirahita, citta-wirahita artinya ditinggalkan oleh akal budhi. Śùnya artinya beliau dipandang sebagai citta-rahitantya, citta-rahitantya artinya tidak memiliki ciri-ciri apapun. Bhathāra Śiwa adalah sumber utama dari semua yang ada termasuk Dewa-Dewa dan manusia. Bhathāra Śiwa menciptakan tubuh manusia sebagai sebuah misteri yang sulit dipahami. Tubuh manusia dikatakan sebagai tiruan dari dunia yang besar (Bhuawana agung) karena itu disebut dengan Bhuwana Alit, yang juga ditempati oleh Dewa-Dewa.Tubuh manusia dilukiskan sebagai lambang Omkara atau Pranawa. Demikianlah sedikit tinjauan tentang isi Jñāna Siddhānta.

2.2.6 Sang Hyang Mahājñāna
Sang Hyang Mahājñāna terdiri dari 87 pasal dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sanskerta dalam bentuk śloka dan diterjemakan atau dijelaskan dengan bahasa Jawa Kuna.
Sang Hyang Mahājñāna mengandung ajaran yang bersifat Śiwaistik yang pada intinya mengajarkan mengenai cara untuk mencapai kelepasan, bersatu dengan Sang Pencipta yaitu Bhathāra Śiwa. Ajaran Sang Hyang Mahājñāna disampaikan dalam bentuk dialog, tanya jawab, antara Bhathāra Guru sebagai guru rohani dengan Sang Hyang Kumara sebagai siswa, mengenai hakekat tertinggi tentang Bhathāra Śiwa.
Sang Hyang Mahājñāna mengungkap rahasia diri manusia dalam hubungannya dengan Dewa-Dewa dan alam semesta. Di mana hal tersebut mutlak harus diketahui bila seseorang menginginkan kelepasan. sepuluh indriya (Daśendriya) yang ada dalam diri manusia bersifat tidur, tidak ada gerak, diam. Sedangkan lima unsur tenaga hidup (Pañcawāyu) dan teja memiliki sifat jaga, penuh dengan gerak.
Alam Paramakewalya yang merupakan sthana Parama Śiwa adalah merupakan tujuan setiap orang yang menginginkan kelepasan dan kebebasan dari proses tumimbal lahir (māyā kajanma sangsara) setelah mengalami kematian. Karena ia adalah inti dari kelepasan.

2.2.7 Bhuwana Sangkśepa
Bhuwana Sangkśepa adalah salah satu lontar penting yang memuat ajaran Śiwa Tattwa, yang disajikan dalam bentuk dialog antara Bhaþārā Śiwa (Ìśwara) dengan Bhaþārì Uma istriNya dan Bhaþārā Kumara putraNya.
Lontar Bhuwana Sangkśepa terdiri dari 128 Śloka Sanskerta dengan terjemahan ke dalam bahasa Jawa Kua, namun tidak seluruh Śloka ada terjemahannya ke dalam bahasa Jawa Kuna.
Adapun inti dari pada isi Lontar Bhuwana Sangkśepa adalah mengenai cara untuk mencapai Kelepasan dengan melaksanakan ajaran Yoga .
Bagian pertama dari lontar Bhuwana Sangkśepa adalah menjelaskan tentang proses penjadian, sebagai berikut : ketika tidak ada apa-apa, air, tanah, cahaya, angin, bulan, matahari, angkasa, bintang-bintang pun juga tak ada. Yang ada ketika itu hanyalah “ Śùnya “ belaka yang bersifat kekal abadi (langgeng). Kemudian dari “Śùnya “ atau disebut juga “Niśkala” secara berurut lahirlah matra  nadānta  nada windu  ardhacandra  triyākśara Pañca  Brahma- Pañcākśara Sarwākśara  Swara dan Wyañjana yang merupakan tubuh para dewa, seperti dewa Ìśwara  di Timur, Maheśora  di Tenggara, Brahma  di Selatan, Rudra  di Barat Daya, Mahādewa  di Barat, Śangkara  di Barat Laut, Wiśśu  di Utara, Śambhu  di Timur Laut, Śiwātma  di Bawah, Śadāśiwa  di Tengah, Paramaśiwa  di Atas dan sebagainya, serta wujud dari masing-masing dewa tersebut. Pemahaman akan dewa-dewa tersebut merupakan dasar untuk melaksanakan Smarana. Lontar Bhuwana Sangkśepa menjelaskan pula mengenai tata cara sang Yogiśwara melaksanakan Yoga.
Lontar Bhuwana Sangkśepa juga menguraikan mengenai kwalitas dari Pañcākśara, Triyākśara, yang pada akhirnya yang paling utama adalah Ongkara yang merupakan sarana untuk mencapai Kelepasan. Lontar Bhuwana Sangkśepa menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sifatnya tidak kekal yang pada akhirnya lenyap menjadi Ākāśa.
Secara berturut-turut dijelaskan bahwa Bhaþārā Kāma lenyap menjadi  Wiśwa. Bhaþārā Wiswa lenyap menjadi  Krodha. Bhaþārā Krodha lenyap menjadi  Mātyu. Bhaþārā Mātyu lenyap menjadi  Kāla. Bhaþārā Kāla lenyap menjadi  Dharma. Bhaþārā Dharma lenyap menjadi  Santhya. Bhaþārā Santhya lenyap menjadi  Paśupati. Bhaþārā Paśupati lenyap menjadi  Brahma. Bhaþārā Brahma lenyap menjadi  Wiśśu. Bhaþārā Wiśśu lenyap menjadi  Rudra. Bhaþārā Rudra lenyap menjadi  Mahādewa. Bhaþārā Mahādewa lenyap menjadi  Puruśa. Bhatara Puruśa lenyap menjadi  Śiwa. Bhaþārā Śiwa lenyap menjadi  Nirbhana. Nirbhana lenyap menjadi  Niraśraya.
Itulah Jalan menuju Nirbhana. Yang disebut Nirbhana itu tempatnya tidak jauh namun juga tidak dekat. Tidak di luar namun juga tidak di dalam, tidak di atas tapi juga tidak di bawah. Ia ada di mana-mana. Wujudnya adalah sepinya dari yang paling sepi, gaibnya dari yang paling gaib, amat mulia. Untuk itu orang patut melaksanakan Yoga Nidra serta mampu melepaskan pikiran dari obyeknya.
Pada bagian belakang dari Lontar Bhuwana Sangkśepa menguraikan tentang Saptaloka, Saptapātāla, Sapta Samudra, Saptatirtha, Saptadwìpa, yang terdapat dalam tubuh manusia, beserta nama dewa-sewanya. Lontar Bhuwana Sangkśepa juga menguraikan Pañcawāyu, yaitu : Prāśa, Apāna, Wyāna, Sāmana dan Udana. Pada bagian akhirnya menguraikan mengenai dewa-dewa Nawasanga dengan senjatanya masing-masing.

2.2.8 Pamatëlu Bhathāra
Lontar Pamatëlu Bhathāra adalah salah satu dari sekian banyak lontar Tattwa yang ada di Bali. Lontar ini berisi ajaran yang bersifat Śiwaisti. Ada kecendrungan lontar ini ditulis di Bali dengan menggunakan teks-teks Tattwa yang lebih tua sebagai sumbernya, seperti umpamanya Wāhaspati Tattwa. Karena apa yang diuraikan dalam Pamatëlu Bhathāra ada dalam Wāhaspati Tattwa, tetapi uarainnya sangat singkat. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa Pamatëlu Bhathāra adalah naskah “cantungan” artinya naskah itu dibuat dengan mengambil dari sumbernya sesuai dengan kepentingan penulisnya.
Pamatëlu Bhathāra adalah pembagian Sang Hyang Widhi atau Tuhan atas tiga yaitu Śiwa, Sadā Śiwa dan Parama Śiwa. Pembagian ini didasarkan atas kadar pengaruh māyā yang terdapat pada sifat-sifat Sang Hyang Widhi atau Tuhan.
Parama Śiwa tidak memiliki substansi sehingga sulit untuk dapat dibayangkan apalagi dapat dilihat karena, Ia adalah perwujudan Sepi Śunya yang tertinggi (śunya taya paramārtha), Tanpa aktivitas, acintya, tak dapat dipikirkan. Pada tingkatan Śadā Śiwa pengaruh māyā sudah mulai tampak. Karena tarikan pengaruh māyā Tuhan mulai aktif mencipta semua yang ada baik yang bersifat nyata maupun yang bersifat tidak nyata. Pada tingkatan Śiwa pengaruh māyā sudah kuat sekali mengikat, ia memiliki banyak substansi, memenuhi makrokosmos, mikrokosmos dan semua makhluk dengan baik, tanpa ada yang kurang yang dikenal dengan sebutan ātman atau jiwātman.
Śiwa, Sadā Śiwa dan Parama Śiwa dianggap tiga adanya namun sesungguhnya Ia adalah satu yaitu unsur kesadaran atau roh. Hal ini diumpamakan sebagai cahaya matahari di Timur sebelum terbit, cahaya matahari diatas sana dan bayangan matahari dalam tempayan. Seolah-olah ada tiga matahari yaitu sebelum terbit, setelah terbit dan dalam tempayan.
Menurut Pamatëlu Bhathāra ketika badan ini diciptakan sebagai benih kehidupan pertama pada saat itu pula sudah berisi unsur roh, karena kehalusan māyā sama dengan kehalusan sifat-sifat Tuhan. Karena itu māyā selalu menyertai sifat-sifat Tuhan sebagai umpama tempayan yang berisi air dengan matahari, bayangan burung Kuntul, bayangan bintang beralih, asap lampu ketika padam dan sebagainya.
Kemudian roh dan badan terus berkembang mengikuti hukum Utpetti (lahi), Sthiti (mengada) dan Pralina (meniada) melalui tiga wujud kuasa Tuhan yaitu Brahma, Wisnu dan Rudra yang disebut Bhatara Tri Purusa.
Pada saat terjadi penyatuan roh dengan badan telah disertai dengan setia oleh tri guśa, sadwarga, trimala, śubha-aśubha karma, yang menyebabkan adanya tiga tingkatan ātma yaitu ātma rendah , ātma menengah dan ātma utama. Ātma-ātma yang ada pada tingkatan ini masih mengalami proses kelahiran (reinkarnasi). Hal ini terjadi karena pada saat ātma berpisah dari Pañca Mahā Bhuta akan masuk ke wilayah Pañca Tan Mātra yang merupakan wilayah antara ada dan tidak ada. Ātma yang ada di sini akan mudah berinkarnasi karena ditarik oleh śubha aśubha karma pada saat purwa janma. Sedangkan ātma yang bebas dari tingkatan itu akan mencapai kelepasan atau moksa, menyatu dengan Parama Śiwa.
Kegagalan seseorang mencapai kelepasan(moksa) disebabkan oleh adanya perasaan-perasaan seperti tdak mau berpisah, rasa cinta dan sebagainya yang merupakan noda-noda bagi ātma. Perasaan-perasaan seperti itu hendaknya dibakar habis dengan api ilmu pengetahuan, sehingga ātma betul-betul bersih dari noda yang merupakan kunci untuk mencapai kelepasan.
Kelepasan (moksa) adalah suatu keadaan lenyapnya semua selubung ātma tanpa bekas yang tinggal adalah yang utama (menyatu pada Parama Śiwa). Badan kasar semua makhluk berasal dari tidak ada karena itu akan kembali pada tidak ada. Dalam teks kelepasan itu diumpamakan tempayan, air, api, mahahari, dan laut. Badan diumpamakan sebagai tempayan. Air adalah pradhana, Pikiran adalah api, Laut adalah kemoksan. Matahari adalah Parama Siwa (sedangkan ātma adalah bayangannya matahari). Bilamana tempayan di bakar dengan api kristal matahari, lama-kelamaan tempayan akan terbakar habis dan airnyapun akan lenyap. Demikian pula bayangan matahari itupun tidak ada. Apabila abu tempayan dibuang ke laut, abu itu akan tidak tampak, dan bayangan matahari pun tidak ada tampa bekas. Kemana ? Karena bayangan itu lenyap bersama lenyapnya tempayan dengan air itu. Demikian pula dengan ātma akan lenyap bersama-sama dengan lenyapnya jasad. Itulah kelepasan atau mokśa.(Sura,tt;137-138).

2.2.9 Śiwa Tattwa Purāna
Śiwa Tattwa Purāna adalah salah satu dari sekian banyak lontar yang mengandung ajaran Śiwaisti. Śiwa (Sanghyang Jagatpati), mengajarkan Acara Agama kepada putra-putraNya. Ajaran ini diuraikan dengan metode dialog dan juga ceramah.
Lontar Śiwa Tattwa Purāśa, yaitu hanya terdiri dari 20 lembar lontar. Jika ditinjau dari segi bahasa dan latar belakang budaya yang melatarinya, teks lontar Śiwa Tattwa Purāśa rupa-rupanya ditulis pada jaman Bali Tengahan. Dapat dikatakan sebagai teks minor yang isinya bersumber dari beberapa teks yang lebih tua. Bahasa Kawi yang dipergunakan sebagai media, banyak menyerap istilah budaya dan kosa kata bahasa Bali Tengahan. Mengenai struktur bahasanya kurang terpelihara. Struktur sosial masyarakat Bali Tradisional sangat dominan menentukan perbedaan sistem pelaksanaan upacara yang diajarkan. Lontar Śiwa Tattwa Purāśa pada intinya menguraikan tentang perbedaan sarana upacara Ngaben dari masing-masing keturunan seperti Brahmana, Kesatria, Wesia dan Sudra.
Adapun isi inti dari Lontar Śiwa Tattwa Purāśa adalah sebagai berikut : Di Śiwaloka pada bulan Kartika, Sang Hyang Jagatpati mengadakan pertemuan dengan putra-putraNya, yaitu Sanghyang Brahma, Wiśśu, Ìśwara, Mahesora, Śangkara, Rudra, Indra, Yama, Sùrya, Gaśapati dan lain-lainnya. Pada kesempatan itu Sanghyang Jagatpati mengajukan pertanyaan kepada putra-putraNya. Śabda Sanghyang Jagatpati : “Apakah yang akan kau lakukan sehandainya aku meninggalkan badan wadag-Ku ini. Demikian pula jika aku meninggal sebagai seorang Brahmana, Kesatria, Wesia dan Sudra “ Demikianlah pertanyaanNya Sang Hyang Jagatpati.
Menanggapi pertanyaan itu, dengan penuh rasa bhakti, maka putra-putranya menguraikan tentang Pitra Yajña dari tingkatan nista, madia dan utama. Upacara ini diantaranya diterangkan adalah : Ngaben,Nyekah, Mamukur, Maligia dan Angluer.
Setelah putra-putraNya menguraikan hal tersebut di atas, Sang Hyang Jagatpati kemudian mengajarkan dan menitahkan tentang : Manusa Yajña mulai dari upacara Magedong-gedonagn, Miyakśih, Macolongan, Mapetik, Otonan, Matatah, Pawiwahan, Madudus Agung dan Mapodgala. Kemudian Sang Hyang Jagatpati mengajarkan Upacara Bhùta yajña yaitu mulai dari : Macaru, sabuhrah, Tawur Eka Daśa Rudra, Otonan untuk senjata, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Mengenai Dewa Yajña Sang Hyang Jagatpati mengajarkan tentang Galungan dan Kuningan, Ngusaba Desa, Pagerwesi, Suguhan dan Nyepi. Disamping itu lontar Śiwa Tattwa Purāśa juga menguraikan tentang Wariga yaitu Tri Wara, Pañca Wara, Sapta Wara, Pangelong dan Pananggal, Sasih dan Wuku. Demikianlah isi ringkas dari Lontar Śiwa Tattwa Purāśa.

Lontar Sesana Slokantara

Lontar : Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali
Ring Denpasar
Judul Lontar : Sasana Slokāntara
Ukuran Lontar : a) Panjang : 40 cm
b) Lebar : 3,5 cm
c) Tebal : 46 lembar
Asal Lontar : Griya Kanginan, Sibetan, Karangasem
Tanggal Ngetik : 11 Mei 1990
Sane Ngetik : I Made Sudiarga

1b. Iti Sasanā Slokāntarā, bwat Brahmācari.
Brahmānowih manusyām, adityowapi tejasah, sirowih sarwwā gatesu, dharmmā satyawa mutamam.
Kalinganiā, dharmmā rěngěn de sang mahyun wruha ngkawisesāning janmā, yan manusyā tan hanā lewih kadi brahmānā ngaraniā, sang kumawaksākěn kabrahmācāryan, tigā lwirniā, ndya nihan, haně śuklā brahmācari, hanā sawalā brahmācari, hanā Trěsnā brahmācari, sirā Brahmānā ngaranirā, sirā lěwih sakeng manusā janmā.
Śuklā Brahmācari ngaraniā, tan parabi sangkan rare tan manju tan kuning sirā, adyapi tkaning wreddha tuwi, sirā tan panugcapā rabi sangka pisan, mangkanā Brahmācari ngaranirā yan sirā śu ..
2a. kla Brahmācari.
Sawalā Brahmācari ngaranirā, marabi pisan, tan parabi muwah, kunang yan kahalangan mati stri nirā, tan parabi muwah-muwah sirā, adyapi tkā ri kapati nirā, tan panucapārabhyā sirā, mangkanā sang Brahmācari ngarannirā, yan sirā Sewalā Brahmācari. Trěsnā Brahmācari ngaranirā, marabi papat, anghing inganannia, tan parabi muwah, siapa kari pinakā darsaneng lokā samā ngkanā, Sanghyang Rūdrā pat dewi nirā, ndhya ta luwir dewi nirā, Umā, Ganggā, Gori, Dūrggā, na tang dewi Catur Nagini, tiniru de sang Trěsnā Brahmācari, ndan wruha ta sireng kālā desaning stri sanggamā, mangkanā krama nirā sang Brahmācari sowing-sowang.
2. Bwat Pūniādānā.
2b. kunang ikā yan tejā tan hanā kadi tejā Sanghyang Ngādityā, sirā ta wisesā ring lokā.
Kunang yan ring sarwwā gatraning sarirā, tan hanā kadi sirā, wisesā ring lokā, kunang yan ring sarwwā gatraning sarira, tan hanā kadi sirā wisesā.
Mangkanā ikāng dharmā tan hanā lewih kadi kasatyan, yekā uttamaning lokā.
Titedasāgunam dānam, grahane desāmawacā, kadyāgante sahasrani, anantam yugantěkāle.
Kālinganiā, yan Purnama Tilem, kālā sādhujanā manganakān pūniādanā, tunggal mulih sepuluh ikā de Bhatāra , kuanng yan candra grahana, kālā sang sadhu manganaken pūniā dhana tunggal mulih status, ikā de bhata…
3a. rā. Kunang yan tan pakāla, sang sadhu manganaken pūniādanā, tunggal mulih, sayu ikā de bhatāra.
Kengětaknā de sang mangungsi kapradhanān ikā.
Samā nia brahmāno dānam, dwi gunam brahmāwandusu, sahasra gunitam wipre, anantā weda parage.
Kālinganiā deyā sang sadhu manghanaken puniā dhanā, yan maweh dānā ring samāniā, janmā tan kadang sang brahmāna, tan ring sang panditā, tan hanā tapā brataniā, yan pawena pūniā danā, ikāng tunggal mulih tunggal de Bhatāra , kunang yan kadang sang brahmāna, ikāng wehana danā, de sang sadhujanā ikāng danā tunggal mulih ta ya rwa, muwah yan sang brahmāna sirā wineh danā, ikāng tunggal mulih sayuh de Bhatāra , kunang yan sang bra…
3b. hmānā wedā parāgā sirā waneh danā, ikāng danā tunggal mulih tan pahingan ikā de Bhatāra.
Brahmāna weda parāgā ngaranirā, sang brahmāna,
Sang wruh ring weda śastrā paripurna.
Bincibyām dyapitadānam, śuddayā sāhitangkrětam, mahāpalem mawatnotām, niāndodhangku rabijyawat.
Kālinganiā , ikā sang sadhujanā, yan sirā maweh pūniā danā, yadyapi akdikā tuwi, paweh nirā ikāng danā, magawe sukāning manah ikāng dinanan, maka kāranā suddhā ningati sang maweh danā, suddā ngaraniā hning, mamangguh ikā pahalā mageng sang maweh pūniā danā, kadyangganing winijining waringin tunggal maletik ta ya wkasan iningu pwa yen numadhi ta, ri wkasan, sangsaya…

4a. magěng, atěhěr pinakā pangěbaning wwang, wnang ta yen ungsi ring janā kanistā madyotama, mangkanā tang pūniādanā, yan akdik yan dinuluran manah suddā, ageng phalaniā, de Bhatāra anantā dānam datewa, ditanam rosamā m sritah, trenawagni patohyagneh, sahdoneyasabhagnāda.
Kālinganiā, hanā pwekāng janā tan paingan ikā genging pawehnia ring sang panditā, sakweh sang brahmāna winehnia danā, salwiring danā mulya, ndan ta ya denia weh, kaworan tan ya budi rosa, rosa ngaraniā, geleng ngambek amengkel srengen angers asengit agalak, irikang winehnia danā, kumrut alisnia tan tuhu pūniā danā ngaranika, ring denia ngeman…
4b. lwangi drěwyanikā, ningniā ah arah malawas drewyā tan mulih muwah kami, ikāng danā yan mangkanā, danā bhagnā ngaraniā, ndan tan pakarya, yasa danā dinamelnia, mapa ta padhaning danā yan mangkanā , kadyangganing dukuh aking sagunung, katiban ta ya apuy sakukunang, ri wkasan murub ikāng suket aking sagunung, dadi bhasmi bhūtā ta pasesa, mangkanā ikāng danā sagunung ilangā ta yā dening srengen sakukunang, saksepania ilang ikāng danā yang kaworan buddhi krodhā, matangyan aywā kahoran halā ikang ambek, yan mahyun gunaweyang pūniādhana.
3. Bwat Magawe Sumūr
Kupām sātādweparamam saropi, sarām sadweparamopi yadnyā, yadnyā satadwe paramopiputrāh, putrā …
5a. satādwe paramopi satyam.
Kālinganiā, hanā pwekāng wwang magawe sumur satus, alah ikā dening magawe talangā tunggal, lewih ikāng magawe talagā tunggal. hanā pwekāng wwang magawe talagā status, alah ikā palaning dening magawe yadnyā pisan.
Atyantā lewihing gumawayaken yadnyā, kunang ikāng wwang magawe yadnyā ping satus, alah ikā phalaniā dening wwang manak anak tunggala, yan anak wisesā, kālinganiā ikāng manak-anak katah lewih phalaniā, muwah ikāng mawka status, alah dening kasatyan, sangskepaniā lewih phalaning wwang satya, ya ta matangniān sang sadhu, aywā ta satya ring brata, muwang ring wacana, mangkanolahenikā.
Nasti satyat paroh dharmāh, na nretat pa …
5b. takoparām, tri lokāsca i harmasyat, tasmat satya na lopayet. Kālinganiā tan hanā dharmā lewiha sangkeng kasatyan, matangnia aywā lupa ring kasatyan ikāng wwang.
Tirryak danāgunām papām, manusya satamewacā, prabodesa sahasranam, anantemuni dewayoh.
Kālinganiā, ikāng wwang madwā-dwā ring triyak, pada setahun kapapaniā.
4. Bwat Madwā.
Ikang wwang madwā-dwā manusā, satus tahun kapāpaniā.
Ikang madwā-dwā sang prabhū, seyu tahun kapāpaniā.
Ikang madwā-dwā ring sang panditā, mwang madwā-dwā dewa, tan pahingan kapāpaniā ling sanghyang Aji.
5. Bwat rupětandanā, lwir tumuting kātin.
Anityām yowanām rūpa m, anityam drewyā sabdayah, anityam pri…
6a. ya sang yogah, tasmat dharmmāt samā caret.
Kālinganiā ikāng kayowanan, muwang rūpa tan lana jatityā, ikāng kasugyang pasamuhani drewyā, tan lana ikā, mwah ikāng wwang amangan aturu lawan rabhinia, tan lana ikā matagnia ulahaknā dhamā janāka, tan angalaha-laha sāma-sāmaning dadi janmā, hning matakwana salwirning siněnggah dharmā, sasana, ring sang panditā, marapwa tan panmu papā, mangkanā kramania dadi janmā.
Athre grehani wārtthante, smāsane mitrā bandawah, sukrětan duskrětancewah, cayāwatanu gaccati.
Kalingnia ikāng mās pirak, ratnādi bhūsanā, salwiring drewe, tatan tumut ikā tkaning kapatin, ingania manděgibragrahā, riněbuting ranak putu buyut, yan salah idhe…
6b. pikang nganak putu buyut, dadi tukarya, dadi matyaning pinatyan.
Kunang ikāng nganak kadhang warggā, inganiā mandeging smāsānā, smāsānā ngaraniā, unggwaning ngasalah wangke, lwiring tumuting kapatin, ulah halā muwang hāyu, tumut ring ilanging prana, yanaalahikang ngalah yekatabeng narakā.
Yapwaning nghulah rahāyu, yekā tibeng swarggā, onggwaning pranā tumibā, yekā patibaniā, yan pajanmā ikāng prana tinuting halā muwang hāyu, yekā patyangan ngaraniā matangya ntakwanakna ring sang wruh ri kalinganika, etuding ngana, siněnggah upādesā ring sang panditā, mangkanā ling sanghyang Āji, ndya tang ingentas sakeng narakā, yan sang janmāniha.
6. Bwat patakā awak.
Hanā patwākara …
7a. Okliwām walawadikiluh, mangsitām kujiwangguh, mutri bhinostawadhirah.
Nipaton mattabhusūncā, rogakuk siwigantitkah, kanjah kunjan darekadhrek, hraswislesmaku netrako.
Ārthaniā, hanappata, nga, tan pananganaki.
Akāmarasa, nga, kuming.
Kliwā, nga, kding.
Walawadi, nga, stri tan stri.
Kilu, nga, wwang wlu.
Mangsi, nga, gembolan.
Unmattā, nga, edan.
Mitām, nga, mgni.
Busungandiniā, kujiwā, nga, bisu.
Angga, nga, jěngking.
Mutri, nga, beser.
Bhinostā, nga, lawir lambeniā.
Wani, nga, tuli.
Nimattā, nga, ayan.

an, gāngduhkā, yekā kawah ngaraniā, nguni-nguni ikāng wang kanděhan lari tan samā niā, tan ucapan ikāng tiyak kabeh tkeng trěsnā, taru, la…
Kusta, nga,udug.
Roga kuksi, nga, salwiring buddining peteng.
Wiganti, sangar.
Kanjanga, nga, wungkuk.
Anda, nga, wuta.
Ekadhreku, nga, picek sanunggal.
Hreswa, nga, cabuwa…
7b. 1, bahunia pingker, kunang, klekma, nga, umalen, tumbungan dinia, ika ta kabeh cihnaning saking kawah, tutug halania mukti naraka yamaniloka, tinibak di madhyapadha, ika tmah nia, matangyan ikang budhi saking iwiraning ahala tinggalakna, apan iki tmahning, hanangsara janma, hetunian sinang sara de sang yamarajadipati, mwah pajarangkwa ikang wwang keli dening buddi hala, sumangsara sama-samania mangdadi, kathamapi anangsara ring sang pandita, kahila-hilania, yadyan dewa tuwi, yan salah buddi nira pramada kurang yoga iki hala nira.
7. kadadin halaning buddi.
Dewanam narakam jantuh, jantuhkam, narakam pasuh, pasuhnam narakam mregah, mreganam narakam kagah.
Paksinam nara…
8a. kam wyalah, wyalanam narakam dhangstri, dhangstrinam narakam wisam, wisanam narakam marane.
Kalingania, ring kadadin yan kadresan halaning buddi, yeka janma keli ngarania, kadyangganing minyak kadresan banyu, sangsaya umingsori kaprakertinia, anghel ulihnia mareng dewata, yadyastun maliha, mareng manusa, meweh ika, wyaktinian anghel pingluhurnia, ring dewa hala, dadi manusa, manusa hala buddinia, matmah pasu, pasu hala buddinia, matmah hala pasu, ndya ta sregala, celeng, alpa pasu magalak, ring samania ng dadi, matmah ta ya mrega, ikang mrega hala buddinia, matmah paksi mwang mina, apan pada jatiniamlaja.
Ikang paksi mwang mina, hala buddinia ring samania ng dadi, matmah ta ya …
8b. ula, ikang ula magalak mamatyani, antyanta krurania, matmahan ta sira sihung mahakrura, mamangan samania ng dadi yeka matmah wisa, ikang wisa mamatyani janma gatinia, yeka kalakuta wisa jatinia, pinaka dasaring soring sor, yeka inajarekan tan patmah, inajaraken itipning kawah ngarania, anghing tunggal gawenia, rumaksa ring sedenging aprang, yeka donia, hana ri wateking prang, kunang de sang brahmana, sang bhujangga, sewa sogata, sakweh sang angulah kapanditan tan yogya sira tunggwanana, yan angamel kunang yadyan umulata maka karana maha, tan yogya juga yan mangkana, apan umilingi itip ning kawah ngarania, ling sang hyang aji, tan pangu…
9a. ningaha irika.
8. bwat amati-mati.
Ahingsa brahmacaryanca, suddama aharalagawam, asthenia mitipancete, yama rudrena disitah.
Kalingania, ulah sang brahmana, sang bhujangga, sewa sogata, gegen nitya-nitya de nira.
Ahingsa, ngarania, aywa amati-mati, kewala gumge tapa brata, apaning brahmacari, tiga lwirnia, sukla brahmacari sawala brahmacari, wnang ngangucapa masanget ring rabhi nira mwah ring nganak nira, maka dontan pacarani buddining nganak rabi, apaning nganak rare mwang astir, yan tan sangeten ing sabda, yawat hanasar pambekania, tan hana janma stri abenera, wilut atinia, hetunia baina ring ngulat muwang sabda, makado…
9b. n abenera ambeknia, amuhara kasatyanika, mangkana kramaning grehasta, away kapatemen tan ulaha, kunang ring wwang lyan aywa mangkana, yadyastun sihiyaha de sang pandita, sira juga mangalaha, nguni-nguni yan unguha de nira, mangkinta bogya lumawana galaknia, mangkana kramania, enjing-enjing madyusa sudda sarira, masurya sewana, majapa, mahoma, mahara legawa nagrania, adanganing minanganing, tan amangan asing dinalih camah, ring loka.
Kunang yang hana mangana, ikang dinalih camah de sang sudda kretha, tan brahmana sewasogata ngarania, janma tusca ngarania, yeka pataka, tan urung tumampuh ring kawah tmahnia. Asteya ngarania, tan anyolonga tanem-ta…
10a. nemaning parajana, tan amalinga drewyaning pare, tan akira kira halaning parajanma, yadyapi satwa tan ulaha, kunang yan sira dinalih dusta dening waneh, aywa tresaniri dalem hati, kewala hninga tuturira, ika brata ngarania, ling dhang acarya nguni, pawarah sanghyang rudra tinilarakning sanghyang aji, ageng temen phalania sang gumga brata sidanta.
9. Bwat darma sila rahayu.
Yodharma silojitamanarosah, widya winihona paropatapi, swadhara tustah paradhara warji, na tatra loka bhaya rastikascit.
Kanlingania, ulaha sang tapa, bhujangga, sewasidanta, dharma gaweyakna, sila nira rahayu pagehakna, aywa manabudi, jitakang ikang…
10b. mana, aywa matukar lawan pare, yeka rosa, ngarania, aywa-aywa katunan wadwa wruha ring sarwa sastra kabeh, tan kaputunganing patakwan ring sarwa gama pwa mana, sloka adinia, mwang pamahayuning rat, aywa pamanasi samania janma, yan amuwus madhura wacana, tusta dening swadhara, swadhara ngarania, rabi prihawak yeka hetunira wnang arabi papat.
Paradhara garjita ngarania, aywa maangen-angen strining pare, yeka donia yan mangkana, tan hana bhaya nira ring loka, kunang sira yan linara dening pare, tan sayogya dosa nira, kinkinen tan panakaduhkani manah uttama.
Anggucapi lara nira dhalem hati.
Yan angucap lara nira mtu ring sabda, kanista.
Yapwan amada…
11a. nin larania, nistaning kanista yan mangkana, ling sanghyang aji.
10. tan manglawaning halaning waneh.
Acirena parasya bhuyasam, wiparita twi ganarwyacatmanah, ksaya yuktimmupeksate kreti, kuruh tetat prati karamaniata. Kalingania, kreti ngaraning sang pandita, aywa sira manglawani halaning maweh lara ring sira, yadyana sadhya mamatyanana kuneng, tan walesana, ta halania, kewala gumega alara nira prihawak, majarekan tkaning lara, mwang prala ya, pilih masaning suruding urip nira, ya pinaka sopaning paratra, ambalaning manakeng siwaloka, anghing ikang gila mwang yukti-yukti juga gegehakna, muwang tapa brata sang wiku, yeka ksaya yukti, upeksa ngarania.
Hana pwekang dusta…
11b. manghala-hala ring sira, makanguni mamatyanana, tan wandyanmu upadrawa de nira, ya ta pamales nira, yeka pratika ngarania, balik ikang lara upadrawa, dewa danda irikang mangahala-hala, mapan pinaka bala lan kasiwa nanara, prabawa ning tapa brata juga, yekawas nanmu papa mageng ikang wwang dusta makarya ri duhka nira, mangkania karma nira, ri sang pandita.
11. Bwat Sasaning Ratu Jrih.
Pandita Jrih.
Bhuphala kosawa hanacamun, sangkirnna mantryan witah, rajare wyartito yudhan usamarenno na bhimado atah, deryya para kramastu galitah jiwa nindipaje, kliwanjanmadi pratibhawe mretyo rawandya itah.
Kalingania, e kita, ng ratu, kita bhupha…
12a. rumaksa ng bhumi, ita hananing bala kosawahana, tan pahingan kwehing mantri nira angiring sang prabhu, tka pwa sareng rana madya, maprang ta ya lawan musuh nira wkasan ta ya mamriha alayu, jrih ring panimbating sanjata ning musuh tumampuheng awak nira, ilang kahangkara ning ratu mapata, lwir nira yan mahuripa, byakta sira tininda dening rat kabeh, kunang ikang kadiran lawan kawiryan mwang kasuktira surud ngarania, tuwi sang hyang mretyu tan wandya ngalap ri urip nira, irika ta yan manjanma dadi kdi, mangkana kahila-hila ning janma ksatrya surud ring paprangan, walawadi tan ulaha nira.
Mangkana sang wiku, yan samurudaken tapa brata nira, kadi papa ning ratu mawdi ring musuhira, pada kramania.
12. Bwat Sasana…
12b. Ksatrya Mantri.
Singhakretih ranemadhye, strimadhye madhurangkasa, munima dhyetu tatwajnya, sah yunto nagaranggatah.
Kalingania, deya sang purusa, yan Madhya nikang rana, kadi singha rupaning galakira, tan hana katakut nireng musuh, kunang yan ring pasamuhaning stri, madhura wacana ujarakna, kunang ring pasamuhan sang pandita, wruha ta sira mangucapakna tatwa, hana pweka wwang mangkana, yoyga panampekan nagara.
13. Bwat kawnang juru rawos, mwah amuhara wera.
Sastrajnyah kusampanah, tatwa dharma parayanah, apaksa patamedhapi, dharmadhyakso nidiyate.
Kalingania, kang yogya aranana dhyaksa, e sang mahyun weruha. Sa…
13a. strajnya ngarania, tan hana kapanggungan nireng sastra gama kabeh.
Kulasampanah, ngarania, maruhur kawongania.
Tatwa dharma parayana ngarania, jnek sira ring kocapaning tatwa sanghyang dharma.
Mwah budi nira tan hana paksa pata ring para, yadyan kanan kadang sanak bapebu tuwi, yan anaka kuneng, yan dusta buddi, tan singatan de nira, yeka apaksa pata ngrania, yeka inajaraken dharma dhyaksa, wnang dhyaksa ling sang wruh yeki bhujangga sasana, ling sang pandita sasastrawan.
Surapsaraswati laksmi, saewam purusomatah, padhayanina cetangsi, ityetemakadha karanah.
Kalingania, ikang ngamuwara were ring dadi wwang, tiga luwirnia, ndya ta, sura ngaran twak, saraswati ngaran sang hyang aji…
13b. laksmi ngaranika, kasugihan, mas pirak, ika ta karana ning were munggwing citta, kunang yan hana wwang tan kataman were dening bhisania ngaji, dening twak, dening kasugyan mas piraknia, yeka purusa ngarania, yan hana wwang mangkana, byakta kinahyunaning jagat rat, ling sang hyang aji.
14. wnang linyok stri tan abener.
Karmasya wacanam waddi, pranama drewya raksane, strisu wiwaha kaletu, panceti natupatakam.
Kalingania, lima ikang tan amuharapaning lenyok, lwirnia, kawruhakna.
Ujaring sihoma paceh-pacehen.
Karaksahaning drewya, karaksaa ning anak rabi.
Mwah ring sadenging pasanggaman.
14a. Wnang lebokin mangkana.
Nadinanca latananca, strinanca kulajatih, yaditya sambawet mari, silaya ngkumadhambawet.
Kalingania, tiga ikang tan abener lakunia ring loka, lwirnia, ikang iwah, ikang udwan, ikang janma stri, yeka katlu wilut gatinia, yadin pwekang stri hana satya budinia, dadi ikang tunjung tumuwuh ring sila, sangksepania, tan hana ikang tunjung yan dadi tumuwuh ring sila, ling sang hyang aji.
15. bwat rupa lituhayu, tan paguna, uttamaning madhu, pehan.
Rupa yowana sampagnah, wilasa kulasambawah, widya inanasunante, nigance rawaking sukuh.
Kaligania, hana pwekang wwang antyanta pinuhaning rupa, lituhayu, mwang wayahnia yowa…
14b. na, lawan ika yinogyaken dening genging kakula nira, ndan teka ina ring sarwa sastra, tan hana aji kawruhniasa sabda sastra, kunang ikang wwang mangkana, tana alepika ri madhyaning sabha, paranika padania, kadyangganing kembang phalasa, abra dineleng sakeng doh, kunang yan inambung tan paganda, nahan ika padania.
Madhuwisa kusumebhyo jayate patyametat, mahisa rudira mangsat ksiramut padhyamanam, kamalammapisugandam karddamat tasyayonah, puruguna wisesane wajati premanam.
Kalingania, ikang madhu, antyante ring patyasa, ika ta umtu saking kembanging lalata ngapituwi, tathapinian suci, mangkana inkang pehan, umtu sakeng rudima mangsaning mahisa, tathapinia su…
15a. cyatisaya pathya rasa nika, mangkanekang tunjung, umtu sakeng latek tuwi, tathapinia sucyatisayeng sangandika mangkana sang purusa gughuna wisesa, tan maka pramaneng jati, mangkana ling sang hyang aji.
15. bwat uttama umtu saking nista, yogyalapen
Wisadawya mrettanggrabyam, amedyanapi kancanam, niccada pyuttama widya, stri ratna duskulanwapi.
Kalingania, ikang mretha, umtu saking wisa yogyalapen ikang mas umtu saking ngajrem awor purisa, yogyalapen sang hyang ngadisastragama, yan mtu saking wwang nica, yogyalapen, mangkanekang stri ratna, yadyan pakawongania, yogyalapen, ling sang hyang aji.
16. bwat pakaryaning wesya, mwang sudra. Entyajati.
Wesyo kresiwalokar…
15b. yyah ngoposasya bhretowretah, welotani gretopetah, welotani gretopetah, ksetra palota wesyaja.
Kalingania, karyaning wesya, masawah-sawah, rumakseng kang lembu, dumarana pari, maka sahaya wuluku, kahanania umungguh ring greha kanian, ksetra phalania ngarania, rumaksang sawah, yeka sasana wesya, ling sang hyang ngaji.
Braningranistu bhandekret, banijo padajatayah, kraya wikraya karyaso, sudrastuba, niajakramah.
Kalingania, karyaning sudre, adagangalar, madwal wli, kawredyaning ngartha donia, baniajekriya, yeka sudre sasana ling sang hyang ngaji.
Kunang ikang hentyajati ngarania, walu wilangnika, sor ja
16a. tyaneng rat, ling sang hyang ngaji.
Curnnakret surasutnili, jenaka kumbakarika, pranaagnah wetudhagdasca, tantuwarnasta candalah.
Kalingania, ikang nginajaraken asta candela ring loka, curnakret, adol apuh surasut, adol sajeng.
Nili adol jahum.
Kumbaka, adola dyun.
Pranaghnia, anjagal.
Dhatudhagda, apande mas.
Nejaka, amalanten.
Tantu warna, anggabag.
Yeka asta candala, ling sang hyang aji.
18. bwat angilangaken kalania, sangutha masalah karya.
Yewyatitah swakarmmabyah, parakarmopajiwitah, dwijatwa mawajanantah, wipra sudra radacaret.
Kalangania, yan hana wwang angilangaken kulania, mari angulahaken saga…
16b. wening tuwa-tuwania sowing-sowang, apan sira janma-janmotama ring rat, yapwan ilanga krama nira, yogya senggahen candala, yeka surudaken kasuda wangsan, ila-ila yan mangkana, dosa de tara, kadyangganing wwang masawita samania janma, wineh kawongan, patih, dmang, tumenggung, rangga, muwangdmak dadar, tan karenaning sang maweh kinarya tan mulya ikang nganugrahani, hana karika krodha sang maweh, tan hana karika bendu sang ngnugrahi, kakulan, guna, waryaning janma, mogha tan rena ri paweh sanghyang nganugraha, ring janma mangkana, mawas dadi tiryak, satya dhama bhatara kerodha ri wwang mangkana, yeka kaila-ilania ling sanghyang aji.
Nidako pinarah sadhuh…
17a. karma nindanna karayet, sadula sinnapadopi, trananca tunanaksayet.
Kalingania sang sadhujana sira sang wwang ngutama janma,yadyapi sira nirwana kasyasiha tuwi, agawe ta sira salah karya, salah idhep, taha tan mangkana sang wwang ngutama janma, iwa padania nihan, kadyangganing sadurla, tugel jarijania pisaningu ika mamangana dukut, nora juga mangkana prewretinia, apan angeting pinangania, kajanmania, mangkana ling sang hyang ngaji.
19. bwat sadhetatai, numitis manjanma.
Agni dawisadarsawo, sastra dyadhara tikaramah, pigunasta tratadrajnyi paweha, sadhetehya tatayinah.
Kalingania, agnida ngarania, wwang nganunwani nagara, yan dudu maka karanang prang, wwang nganunwani umah sang dewa sanghyang…
17b. wwang nganunwani umah sang pandita, yeki agnida.
Sastradya ngarania, wang angamuk.
Daratikram ngarania wwang amahudangris.
Rajapisuna ngarania, wwang ngangadonin tukar, makadi yan pisuna ring sang ratu, sang mantri, magawe ujar sangkaning desa ruga, salwiring ujar irsya, magawe kira-kira ring hala, tan tuhu asing wuwusnia.
Pisuna juga, wisar, makadi yan pisuna ring ratu, sang mantri, magawe ujar sangkaning dosa ruga, salwiring ujar irsya, magawe kira-kira ring nghala, tan tuhu saking wuwusnia pisuna juga. Wisada ngarania, wang angupas.
Arthawwa ngarania, wwang andeluh andesti, amemendem, anibani hala-hala, salwiring kriya hala, yeka sad atatayi ngarania, tan ulahaning janma, ikang ulah nem prakarya,tan unurung ika tumampuh ring naraka, kinia de bhatara ya, inarwaken pranania, dening wadake kingkara.
Nihan panjammania yan wuwus kinle ring ka…
18a. wah, siniratakning bhumi, kadi duk tinetek, pati ng samburat, tmahania, nihan kadadining wwang mangkana.
Jaloka janggamah papam, purisanang krimipapam, dirasti rupatadruwam, jagatnecca pada sgayet.
Kalangania, jaloka, ngarania lintah.
Janggama papi, ngarania, asing lamaku tan paidhep, tan patut awania nguni, aurang-murang anasar, ularagatel, adinia, kadyangganing kalabang, kalalupan.
Purisanang krimiscewwa, muwah kadyangganing anggating purisa, salwiring singgat.
Narasthing rupanamrupi, asing lumur lumaku tan pabalung, lumaku mawan dadania, kadyangganing wdik, kuricak, iris-iris poh, cacing, warya-warya, ityewamadi, salwiring kekeli keliking jagat, ya ta dadining mangula…
18b. haken, dahatairi ring loka, lewes pagawenia pataka, sumuruping tan parah, ling sanghyang nghaji.
20. Bwat dusta laksana, Agawe Hala Hayu.
Mukam padma dhalakaram, wacascandana sitalam, dredayangkartta sangyuktam, ityedurttata laksanam.
Kalingania, hana ta wwang mukania sumkar, kadya somyaning tarate mkar, wuwusnia matis, kadi tisning candana linepakning sarira, anisnisi, amanis-manisi ring wwang kahinan, kasyasih, nadan pinawan ikang ngati ri jro kadi kartta, kartta, ngarania, gunting, kadi landepa manganing gunting alania, tibaning irsya kumangres, anugel griwaning sadhu kasyasih, dahat anglarani padhania, kadi madhu mawor lawan racun, tuhuning ngamanis, halanika amatyani…
19a. yeka dusta laksana ngarania, saksat pawaking wisya kalakuta, yeka rupaning dasaring kawah, sangksepania, tan ulahaning janma paramottama ika, ling sang hyang nghaji.
Wayuwanca wredanca, akaroti subha subham, tasya kasya mawastayam, bhuktim pranopti janmani.
Kalingania, yan rare ikang ngagawe hayu, katmu phalania, ring janmantara rahayu, ri sadeging rare, kunang yan agawe hala, katmu ikang ngala ri sadengnian rare, kunang yan tengah tuwuh, ikang wwang ngagawe hayu, katmu ika phalania hayu, ri sadenging tengah tuwuh, kunang yan agawe hala, katmu ta ya ikang ngala, ri sedenging tengah tuwuhning janmania.
Mwah yan atwa ikang wwang ngagawe hayu, katmu ika phalania hayu, ri sadenging atuwa, kunang yan maga…
19b. we hala, katmu ta ya ikangnghala ri sadenging atuwa ring janmantara, mangkana wkasing gumaweyaken hala hayu, tan hana kaktiya, yawat katmu ring panjanmania, matangyan gawayakna juga ikang budhi rahayu, sangkan rare tkeng wreda maraning janmantara manmu bhagya sangkan rare tkeng ngatuwa, mangkana ling sanghyang aji.
21. Bwat mrega tan suka yan wehina mas, mwah wanara.
Trenakusa muditana kancane umreganam, phalataru muditanam ratnabih wanaranam, asurabhi muditananggan dibhihsukaranam nasabhapati naranantu priyantad wisesam.
Kalingania, ikang mrega, kidhang, manjangan, tan pinaka sukaning twasnia, ika yan wehana mas, mwang bhusana, ku …
20a. nang yan pinaka sukania, yan haneng alas, akweh dukutnia, hayu muwang ngalang-ngalang, ramban-rambanan, yeka jneking manahnia.
Mangkana ikang wanara, yan wehana sahananing ratna mulya, tan pinaka sukania ika, kunang yan umulati irikang mawahan, menduh pada matasak, yeka maweh sukania, mangkana ikang sukara, tan suka ika dening sarwa suganda, kunang ikang magawe suka ri twasnia, mangeme irikang pacaryan durganda, yeka manukani ri citania.
Mangkana ikang wwang dadi ika ri tan kinahyunan denika taha tan mamangkana, asing wiseksaning twasnia, yeka singit ing twasnia, hetuning janma wwang hana sor, hana wwang menak, hana kawula, hana tuwa …
20b. n, hana mudha, hana guna, hana wirupa, hana surupa, hana nmu hala, hana nmu hayu, hana manusa, hana satya, hana taru, hana lata, hana trena, irika ta katingalan ikang swarga, lawan naraka, mapa rupania, yan hana wwang antyanta wibhuh ring bhuminia yeka swargga ngarania, makadi nalih sang hyang indra, yan hana wadwa nira kinasihan, yeka saksat widhyadhari.
Yen hana bhujangga sang brahmana wedda paraga, tan katuna ning tatwa sarwa sastragama, yeka bhagawan wrehaspati ngaranika, muwah yan hana wwang wirupa, mudha kasyasih, gring.

21a. ta, pipilika, ikāng satumuwuh, yekā narakā, matangyan ikā ngulah rahāyu gaweyakna, marapwan tan kalebu ring maharorawa, sang wruh irikā yekā wruh ring dharmā rahāyu, yantan hanā budhi dharmā, inajaraken mahanirāya ngaraniā.
Norā, rayā ngaraniā, laku.
Tan lumakwaken dharmā, rahāyu kālinganiā, matangyan siněnggah hanā awan mareng kawah, nghing lakwanakna ikāng marga mareng swargā, ling Sanghyang Dharmā, ya tutur ngaraniā ling Sanghyang Ngaji.
22. Swarggācyuta, huwus amukti ring swargā, mwah turun ring manusā.
Surātwa mārogyā ratimawedyā, dewā surakti kanakasya lanam raja pryatwam sujanā prihatwam, swarggācyu swarggācyutta nangkilā cihnametat.
Kālinganiā, hanā inajaraken, swargācyutā…
21b. ngaraniā, wwang huwus amukti sukā ring swargā, dadi tiba, sangkang Indrālokā, tahatan mangka ikā , tuhuniā hanā inajaraken wayaniā, mangke lingěn, hanā sirā janmottama ring kulā, makādi yan sirā prabhū, sawakaning sang janmotama, yan sirā wibhuh, ageng kasugihanirā, dharmā budi ring kadi sirā, wruh ring kajanmāning manusā sowang-sowang malsing kahulā nirā ikāng kasyasih, mangampura ring tiwasing daśā daśi, pangebaning kapanasan, amayungi ring kodanān, lanā ngiwehā ring wwang kasemer, śakalor, sakidul, sakawetan, sakakulwan, anginaki budining wadwā, tan maweh laraning tanibalā, sawengkā de nirā, rahāyu pangucaping mosyan, makādi inalem budi nirā, de sang brahmāna, rěsi, sewā …
22a. sogatā, salwiring sang siněnggah panditā, ngastuti, kalungā lungā pocapanirā pinuji dening rat, tan pati-patyā māti-māti, tan pati-pati angdandha, yan tan sadosā, yan hanā wwang pinatya nirā, dinanda nirā, huwus sayogyā dosania, tlas dinulak de nirā, ring ngagamapremana, ya ta samā ngka katon, halaning kawula nirā, kaweyang dūstānia, de sang dharmādhyaksa, irikā ta iniban dhanda, sasedenging dosania, de sang rumaksa bhumi nirā, ananda tuwi sirā, tan tra saikang dinosā, apan sudharmā dhan pangdosa nirā ring wwang dūstā, yan hanā wwang mangkanā , yadyan matya sirā, tumut ikāng dharmā tumut ikāng dharmā, rahāyu, ri ilangnging panda nirā, mandadi muwah kotaman nirā, mancana ring prabhū, yan ring sang prabhū pradhanā ring bhumi, kunang. Nahan lwirning dadi nirā…
22b. Satwa ngaraniā, māwak wani, tan hanā siniringireng paprangan.
Arogya ngaraniā, tan kneng gring salawasing urip.
Rati ngaraniā, kinahāyuan dening rāt, dewā subhakti ngaraniā, apageh kabhakti nireng Bhatāra.
Kanakalabha ngaraniā, sirā pawakning kinasihaning ratu ikā cihnaning wwang mangulah pūniādanā, rahāyu dharmista, ring samā janā, yekā wwang sinangguh tiba sakeng swarggā, ling sang sujanā mangucap.
23. Wwang sinangguh mamukti kembang mas.
Mwah ratu akweh ujar.
Suwarnnā pusyā prětiwi, bhuktinanca twaronarah, upoyajnya śasurancā, krětā widyā priyambadah.
Kālingniā, ikāng wwang sinangguh mamukti kembang mas ring lemah, papat lwirnia, upayajnya ngaraniā, wwang wruh magawe upaya, wruh ring upayaning satru.
Sura ngaraniā, …
23a. wani ring samā ra, tan hanā padha nirā.
Krettiwidya ngaraniā, wicaksana ring ngaji sastragama, ta tan hanā kapungungan nireng sarwwā tatwa.
Priyambada ngaraniā, bahustri ratna, pada wagedhaniwi sang mahapurusa priya, irikā ta sang mahawruhi ring anggaśastrā yan hanā mangkanā kadadining wwang pradhanā mangulahaken, pūniā dharmā, pilih dadining wwang gumga tapā brata, ling sang sujanā angucap.
Wadānam bahuwakyanam, wacananing punah punah, jnana gamyanadustitah, nagrehitwamicaksane.
Kālinganiā, ikāng ngujar tan yogyā idhepen de sang wicaksana, tan yogyā ungganing ngasewita.
Weda ngaraniā, atukar padhania ratu.
Bahuwakya ngaraniā, ratu kakwehan ujar.
Wacana punah-punah ngaraniā, ratu tan pasti ujar, jnyana gamya…
23b. ngaraniā, ratu kakwehan karep, kaduk wiweka ikā tatan ulaha sang ratu, dosa nirā mangkanā , ikāng wadwā kepwan budinirā, apan awdi iwehning budi sang parabhu, tan hanakna tinuting mantri nirā, salah sinewakyanirā, tan kna ginegwan sawuwusirā, sang ratu yang mangkanā kangelan kahulā nirā ling Sanghyang Ngaji.
23. Ratu akras mapanas, sing gawe, tan paweh danā, ring sang panditā.
Tyajet swami namatyugwam, atyugrat swaminantyajet, krepa nada wisesājnyah, awisesātrakaghnaka.
Kālinganiā, ikāng bhretya matinggal ratunia, yan hanā ratu makras mapanasing gawe, byakta sirā tininggal dening wadwā nirā, leheng ikāng ratu makras swapada ratu makumed, tur para dhanda, yan hanā ratu mangkanā tininggaling kahu…
24a. la nirā, ya leheng ikāng ratu makumed para dhanda, swapa diratu amisesa ngaranirā manyarub, tan hanā sor, tan hanā luhur, yan ninggwang kulina janmā sinoranken, yan hanā wangadah jati linuhuraken, yekā nyarub ngaraniā, yan hanā ratu mangkanā tininggal sirā dening kulina janmā, tathapi nian leheng ngikang ratwa nyarub, swapa kretagna ngaraniā edan tan pgat ananewek, tan pgat analyani, amrang wwang tan pakana, angantung wang tan pakarana, angobor-oboring wwang tan padosah salwiring ngulah kretagna linakwaken yan hanā ratu mangkanā antyanta gilaning wadwā mulat, atakut amrem kawes kagirin-girin, kadyangganing masewita ulat arunga, mahaning tanda mantra ni, …
24b. kemangan kanolah, ndan atinia kuantar maras, mangkanā ling Sanghyang Aji.
Na yajnadanāh na tapo gnihotre, na brahmacaryya dasastya wakyah, na sarwwā weda dhyayane bratsca, prapti phalalamyah twadapiwakasya.
Kālinganiā, mapate hetunia, katkan wibawa, ikāng ratu mangkanā , tan ilang tumuli kawirya nirā, agong panmunia laba, apan tan manghanaken yajnya, tan paweh danā ring sang panditā, tan hanā tapā nia, tan pangahaken gnihotra, tan brahmacarya, tan satya ring ngujarnia, tan angawruhing swadodhyana, tan pabrata, tan asihing sang brahmāna, rěsi sewasogatā, tathapi praptang phala, ageng wiryanikā tan tan kanan surud, kunang hetuning prapti phala, gengning tapā brata …
25a. nia nguni, sangkania mungguh laba tan surud, hanā pweka huwus enti phalaning tapā brataniā nguni, mangke taninget ring margining labe, tan manganaken yajnya, tan maweh danā ring sang panditā, yamatayan paratra, mangjanmā ta ya ring hinajanmā, tar pahingan kingkingning janmānia, lewih lewih panmunia duka, pilih-pilih kamalan, salwiring pagawenia haladun ratu katmu, ri panjanmānia mangke, matangyan sang wibhuh aywā ta prayatna, atutura juga sireng dharmā rahāyu, maran takmu muwah wirya nirā, yekā iweh dadi wwang, kadyangganing wwang tani masawah-sawah, tan pahingan labanikā molih pari, dadi kang tahun malih tan pasawah-sawah, ya ta nihan padhania, ikāng sarirangkenang sawah, ikāng kulā yekā pepawinihan, yan ikāng sawah beratan gina …
25b. we, hanā karikā tumuwuh parinia muwah, mangkanā rehnia kewala ikāng sawah katuwuhan suket kayu-kayu, mapa ta sinengguh suket, pasamuhaning indriya tumuwuh, mape tang sinengguh kayu-kayu, gongning lobha, mohā, madā, mana, matsarya, ingsa, yekā sad warga ngaraniā.
Lobhā, ngaraniā, maharep drewyāning len.
Mohā ngaraniā, barangamteng twasnia, mawere dening kasugihan.
Manā ngaraniā, tan hanā kagenganing sāmā-sāmā angletaknawak.
Matsarya ngaraniā, asengiting samā janmā.
Ingsaka ngaraniā, amati-mati keting janmā papa dening sad ripu, apituwi ikāng janmā kasyasih, yan kagengan sad ripu tan sipi denian tan kawes, amangguh papa, tan ucapenikang tiryak, mangkin kadurus, ling Sanghyang Ngaji.
25. Istri halā …
26a. ambek ring laki, mwah candela, janmā, paksi.
Awalātuccalā pungsi, awiwekāska bhumikā, araksanten prayatnebhā, mantra gatwāpiduh ratah.
Kālinganiā, ikāng stri yan halebeknia, yogyā tininggalakna, mangkanā teka sang prabhū, yan halā budhi nirā, kadyambeking rare angwan, tininggalakna ikā dening mantra nirā mangkanā swabhawaning kang stri, yan halā maryana nikā tan raksānen, lunganana rehnia, awya tan mākilaksanang prayatnā, dohanā, ling Sanghyang Ngaji.
Surasut krimidahascā, pranagnuh kumbākarakah, dhātu dagdadasca pancetta, candalāh parikirtitah.
Kālinganiā, ikāng siněnggah candelā ring lokā, lima kwehnia ndy ta, surasut, ngaraniā, wwang ngā…
25b. tuwakan.
Krimidagda ngaraniā, wwāng amalanten.
Pranaghna ngaraniā, wwang anjagal.
Kumbaka ngaraniā, wang andyun.
Dhatudagdā ngaraniā, mwang ngamande mās.
Ikā ta limā inajaraken candalā, tan yogyā paranana umahnia dening wwang menak, yawat ta candalāning, ling Sanghyang Ngaji.
Kaksinangkakak candalām, mregha candalā gardhabah, nara nangkopa candalāh, sarwwā candalā durjjanām.
Kālinganiā, ring paksi candalā, tan hanā kadi gagak, ring mrega candalā, tan hanā kadi burwan gadarbha, yan ring wwang candalā, tan hanā kadi srengen, kunang ikāng wwang durjanā, sakwehning candalā, alah dening durjanā, lwihing candalā ikā , apan angrusak sāmā-sāmā nia janmā kaharepnikā ling Sanghyang Ngaji.
26. Wwang …
27a. makasihan ring nicacandalā, tan luput ring dosa, atat. Gawaksanamnah girikasranopi, anantu raja pranatam sranomi pretyaksametat bhawatah pradhresti, sangsarghajadosanggunam bawentu.
Kālinganiā, yan hanā wwang masang sarga lawan mwang nicha niyata nikā katularan budi durjanā, mangkanā yan sangsarga lawan ikāng wwang sadhu, katularan budi saduh, dhrestopamania, kadyyangganing kang atat rwang siki, mangaran sigawaksa, mwang si girika, ikāng sasiki, inalaping tuwa buru, iningu nika.
Ikang sasiki, inalap de sang panditā, kadacit hanā sirā ratu maburu-buru kasasar ta sirā prihawak, kawawa mare umahing tuha buru, kahananikang atat si Girika, mojar tekang atat, ring sang prabhū, ling nia …
27b. ndah mahamah siwaka phalaniā, mangkanā huwusnia, karengo de sang prabhū, alayu ta sirā rumngā uwusning atat-atat, si Girika, ri wkasan ta sirā, kawowa mareng patapā n sang panditā, ri kahananikang atat si Gawaksa, mojar ta ya duh bhagya ta kita sang prabhū, ascarya ta manah nirā, rumengwaken ujaring ngatat, ri wkasan ta sang prabhū, matakwan ring sang panditā, yan kawawa dening sangsarga nika, sang sadhu janā, ta …
28a. ywa sirā tan papilihi sangsarga nirā, ikāng sayogyāmuhu hanā guna ri sirā, awya sangsarga lawan ikāng durjanā apanna mawa mareng kawah, ling Sanghyang Ngaji.
Dosasyasya gunosyaste, nirdose dewā jayate, karddamat iwa padmasya kale dosasya kantake.
Kālinganiā, ikāng dadi wwang ngaraniā, tan hanā luputa ring dosa, yawat ikāng wwang inalema guna dening lokā, hina ikā calania, dening phadania wwang, yadyan sugiha, pinawruhania mangaji, pita lituhāyunia, rūpa wan, yayanikā cinalan dening padhania janmā, sangksepania, tan hanā juga manulus, tan pacala, kadyangganikang kembang padma inucap pawitra tmenika, hara aparanta yan cinalan ageta lingning lokā …
28b. 27. Bwat hanacala rumaketing wwang kabeh, mwang warah-warah ring anak.
Lalana Putrā.
Amojam kantadham sahima hima girih candanās sarrpa justah surryya tiksna sasangkah sasamā linatenuh sagarah tikta towisnu gopah surendrah capalata ragatih sangkarah nilakantha, etesarwwā swadosah kitabhumi jane dosawan tambawanti. Kālinganiā, tan hanā juga, tan pacala, purwanikang sabda, inucapaken, jungjungā rwi calanika, ikāng gunung ngatis dening hima calanika, ikāng kayu candanā, mesi ula kuwungnia calanika, sanghyang wulan matalutuh ungkuk, calanika. ikāng sagara pahit banyunia, calanika.
Ikang sagara pahit banyunia, calanika.
Sanghyang Aditya mapanas tejā nirā, pinakā calanika, bhatāra ..
29a. Wisnu angon lembu calanika, Sanghyang Indra capala dahat, cala nika.
Bhatāra Sangkara, ahireng gulunirā dening wisa kalakutacalanirā. Sangksepania, tan hanā tan pacala ngaranikā sanistania hyang dewā tuwi hanā cala rumaketing sirā, kimuta sampun karuhun ikāng janmā wwang, tan hanā wastu tan pancala, anghing makdik lawan akweh, prabhedania, kunang kadeyakna de sang sadujanā kabeh, prihen ikāng dosa makdik, ling Sanghyang Nghaji.
Rajawat pancawarsesu, dasawarsesu dasawat, mitrawat sodasa warse, ityate putrā sasanam.
Kālinganiā, dening nganibakna warah-warah ring anak tuwuh nia yan limang tahun, kadi dening ngangiring anak sang prabhū dening nganibani warah i riya, matuhwa pwa ya ikāng swaputrā…
29b. katkaning sadasa tahun, tuwuhnia, irikā ta yan warah hulun dening nganibaken warah iriya, kunang ya tuhwa ikāng anak katkan ring nembelas tahun tuwuhnia, ikā tan yank adi dening ngamarah-marahing mitra dening nganibaken warah-warah iriya, mangkanā kramaning amarah-marah putrā, ling Sanghyang Nghaji.
Lelana abah aho mosah, tancanad batawo gunah, tasmat putresu sisyesu, tadanānantu lalanam.
Kālinganiā, ikāng putrā yan lalana, tuhu nikā yan piniyeran, tan urung mamanguh dosa, kunang ikāng putrā yan pinidanā, tuhu nikā yan sinakitaning warah-warah, tan urung ikā mamangguh guna, matangyan ikāng putrā mwang sisya tadanānika, maranageng pwa gunania, awya wineh lalana, ling Sanghyang Ngaji.
27….
30a. Kapgataning utang, kawehaning kadya, amah sukāning sasirā. Paropihita wanwandu rasya itah sarah, aniatode atowyadih itam arabyamosadhem.
Kālinganiā, ikāng wwang ngapituwi, yan marah-marah sukāning sarira, yekā kadang ngaraniā, ikāng kadang ngapituwi yan hanawe sukāning sarira, nityasa manglarani, yekā wan glen ngaraniā, hanataniadi munggwing ngawak, aharep ta ya mangaranga, yekā satru ngaraniā, kunang ikāng hosadha maweh sukā mamarasakning nghawak, umunggwing alas apituwi, tathapinia winulatan pinet inulik, siapa tinon ta mangkanā , nihan ikā sang sugriwa, kalara nikā dening sanakira, makangaran Bali, kunang ikā sang Rama, Laksamā na, wwang len apituwi sirā, …
30b. tathapinian pinet nikā sirā, ri tengah nikang alas, pinako sadhaning lara sang sugriwa, mangkanā padhaning sanak duwarga, yan ahyun amatyana ring ngawak, mawak satru, ngaraniā, wang lian tuwi yan manguriping sarira, prasida kadang sanak ngaraniā, ling Sanghyang Ngaji.
Kaniadhane renasceta, dharmmadhane dhanarjjane, satru widyagni rogesu, kalaksya panakarilet.
Kalingnia, ikāng tan yogyā suwenana, kawehaning kania kapgataning utang, pawehaning dharmā, kawetaning mas, kailanganing satru, kapetaning widya, kapademaning apuy, kawara saning roga, ikā tatan kalaksepa, kagaweyania kabeh ling Sanghyang Ngaji.
28. Anak suputrā pinakā dharmā, stri pinakā rabi.
Sarwwādiri pakocandrah, prabhate rapini patah…
31a. trekokyadhipako dharmmah, saputrā kulādipakah.
Kālinganiā, yaning wngi sanghyang Candra sirā pinakā dharmār, yainng rahina, sanghyang rawi pinakā dhamar, yan ring lokā, Sanghyang lokā, Sanghyang Dharmā pinakā dhamar, kunang yan ring kulā, ikāng anak suputrā pinakā dhamar ling Sanghyang Ngaji Eko urasamut parnah, ekaksaksatraka dwitah, na bhawanti samā carah, yathawadarakankakah.
Kālinganiā, ikāng anak ngaraniā, yadyan pareng mtu sangkeng garbhawasa tuwi, tunggala ngaranika, de sang bapa muwang ibu, padha ta sodhara kabeh, padha dinania mwang naksastrani antuk mtu, tathapinia ta padha buddhinikā salah siki, kadyangganing rwi sawit, hanā bener, hanā wilut, ya ta padaning budinikang wwang pinakanak, ling Sanghyang Aji …
31b. Naryya bhunggapasasea, putro nehasamā n witah, trěsnā pawaka dagdena, tyasaheta mahonadhih.
Kālinganiā, ikāng stri pinakā rabi, yan ahalā ambeknia ya pawakan nagapaso mahileti sarira, umungwing nggulu, tinuting sihning maputrā, kunang ikāng trěsnā gumsenging awak, yekā wisa, kealya tyaga, ling Sanghyang Ngaji.
Wreddadhana witistrica, wirypAtyantā karttaka, sidaridra pasampanah, trayah sewyah wicaksaneh.
Kālinganiā, ikāng wwang narabhi, yan winalap huwustya matuwa wayahnia, yan sugih mas, alapenika, m wah yan halā rūpa nya, antyanta ring prajnyan, alapenika, mwah yan mosel hana, pinenuhan dening ngayu rūpa nya, alapenika, iko tan katlu, siwinen ikā de sang wica ..
32a. ksana, ling Sanghyang Ngaji.
29. Bangsa luwih, kurang widagha, istri susrusa.
Durjanā sakti.
Dhana inkopi kulāja, dewā inopiwa dwijah, bhretya inonrepo loke, brahmane na capipute. Kālinganiā, ikāng wwang yan aluhur kulānia, ndan ikā kasyasih, yogyā katwangana, apan ageng kawonganika, yadnyān hanā ring sanghyang Weda sirā, tathapinian sireki yogyā katwangana dening janmā, mangkanā ta sirā sirā sang ratu yadyan hinala wadwā nirā, akdik katah bala kosawaha nirā, yogyā sirā katwangā ring lokā, apituwi yan sirā ratu pinuji de sang brahmāna, sewasogatā, katwanga, ling Sanghyang Ngaji.
Ingsobalam akaryyaman, ksamā ngguna wahirbalam, rajnyidhandawedheh….
32b. balam, susrusehi balam strinam.
Kālinganiā, ikāng durjanā pinakā saktinia, amatyani ring padhania janmā, kunang sang wwang ageng gunania, kopasamā n pinakā sakti nirā, asih ring sāmā-sāmā nirā manusā yadnyā ning satwa tuwi, kinawlasan de nirā, yan hanā larania mangkanā sirā sang ratu, dhanda Widhi pinakā sakti nirā ikāng andosani sangkeng agama sastra, kunang ikā saktinia, yaning istri kasusra yania satya malaki, anut sabudining swami, ikā pinakā saktinia, ling Sanghyang Ngaji.
Urage piwinsamdantem, cite murrka wisomatah, ahite wandanā wisam, na strisu kutilagatih.
Kālinganiā, ikāng ngula ring untatnia mwang ring untunia, unggwaning wisanika, mangkanā ikāng durjanā muka, ring citania unggwaning wisania …
33a. kunang ikāng wwang tan rowanging enak, amatyani pinakā wisyanika, mwah iki stri canggih ring lakinia unggwaning wisanika, ling Sanghyang Ngaji.
30. Wwang widagda śastrā hala, wang daridra mawisya hanā sangsayanen. Hanabhaye wisancastra, ajirnne bhojanām wisan, daridrasya wisyanggotih, wredasya taruni wisam.
Kālinganiā, ikāng wwang ngabhyasa sastra, yan tan arep-arepen, dadi wisa ya mangkanā , kunang ikāng wwang daridra asingid ucap de nirā pinakā wisya, apan wuwusing janmā kasyasih, dinalih arep dening sugih ling Sanghyang Ngaji. Apadhāyu warangkania, yuwatica rajaswala, kanjapayodarakania, pramadhanca atah smare.
Kālinganiā, ikāng stri anwan, turungana rawating madanā i riya.
33b. yekā kania ngaraniā, hanā pwekāng stri kaptek susunia kunang ikāng stri wahu rajaswala, yuwati ngaraniā, hanā pwekāng stri kaptek susunia, turung ikā sinanggama, yekā kanta ngaraniā, muwah ikāng stri, huwus kasimbating hru sang hyang smara, wahu-wahu mari kasatan panglening senjata yekā premade ngaranika, ling sanghyang Ngaji.
Widya sahasra gunita parisangkaniah, adyapinenca nrepapti parisangkaniah, aswa piwekadhatitah parisangkaniah.
Kālinganiā, ikāng wwang manages padartha nikang slokā, aywā mangucap tlas wirasa nirā sanghyang widya, adyapi gunitanen ping sewukna, rasaning sastra, tathapinia yogyā sangsayanen jagahana nirā sanghyang Ngaji muwah-muwah tan gagampangin de sang mahyun wruheng paneges…
34a. mangkanā ikāng sang ratu, pira sangkepa nirā ring pasamuhaning bala, lawan mantri nirā, tathapinia yogyā sangsayanen ikā dening satru nirā, tan gagampangen dening satru lumaganen ring sirā, mangkanā ikāng stri pinakā barya, sadyapi hanā riki sapwan tuwi, sedengnia kinasihaning lakinia, tathapi yogyā sangsayanen dening wiluting budinia, tan gagampenganinambeknia, mangkanā ikāng kuda, pira kari dresaning pangrapnia, tathapi yogyā sangsayanen dresning gatinia mangrep, tan gagampangan, ling Sanghyang AJi.
31. Sang Prabhūt geneping kasugihan, panditā tan wangde nmu halā hāyu.
Matrepti rajadhana sanggrahena, na sagara, trepti ratojalena, na panditāh trepti subha-subhana, na trepti caksur priya darsanena.
Kālinganiā, sirā sang …
34b. prabhū, pira kari kakwehaning kanaka rajata ratna wastra, bhūsanā, lawan artha sinimpenan de nirā, tathapi tan trepti manah nirā, mahyun muwuhana juga sirā ring sarwwā drewyā ndan santosa nirā de nika, mangkanā tekang sagara, yan sirā kwehaning banyu prapti manambehika, tathapi tan trepti ikā , dening banyu tumambeh ikāng jaladi, tan kataman kbek juga pratidina tka, mangkanā teka sang panditā, yan sirā kwehaning adisastragama katama de nirā, lawan sirā kwehaning karma subhasubha kapangguh de nirā, tathapi datengikā kabeh, tan trepti sirā dening gawe halā hāyu, mwah tan kbek juga wtengira, sumim pning ngaji kabeh, mangkanā tekang caksu indriya, yan sirā kwehaning tumkanana kahyuninka, tathapi tan trepti i …
35a. ka denika, manonasi sahananing manohara winulatan mahyun mangko rahāyu muwah-muwah, mangkanā ling Sanghyang Aji. Sastrantadapi wawasan prakasam, mudhanca santosametat dabah, sah kotmare kambah mkatoniateki, dijanā dipangkutamewa dhresthah.
Kālinganiā, antyanta padhaning nyana nirā sang panditā tekapihen ikāng ngadisastragama ri hati nirā mahaprabhawa, iwa sadhanania nihan, kadyangganing dhamar umunggwing kuwunging kumbha padhania, dumilah ring jro, tan katon ring heng, tathapinia niankatinghalan, hanamatra kukusnia wahu mijil panengrania, mangkanā teka sang wruhing sastra, hanā matra wijiling slokā nirān makara-kara katoning lok, yekā pangawruh ira yan apadhaning jro, kunang ikāng …
35b. wwang mudha, kadyangganing lunggahning lata, yan kapanasan, kumrut mungkered katrek, nda tan pasmi, kewala santosa, sangksepaning jnyana sang widwān kadi damar, takwanakna ring sang wruh ri kalinganing jyana wisesā, tmen-tmen ling Sanghyang Aji.
32. Kanadwā sabda ring lokā.
Kretta, tretta, kali, dwāpara.
Dwijati rabhiwakyanam, dewatana manugrahe, prabhūsca yogha yuktiman, satwaro wyanicarinah.
Kālinganiā, ikāng tan adwā sabda nirā ring lokā, sang brahmāna paripurna ring catur weda sirā tan linyok.
Muwah sang huwus manmu dewā nugraha, sirā tan linyok, muwah sang ratu yan wus prabhū cakrawarti, sirā tan linyok, mwah sang panditā yan sir atlas yukti gumaweyaken yogawisesā, kakawase niska …
36a. la jnana, sirā tan linyok, ikā tan kaphat nda tan kahanan linyok, ling Sanghyang Ngaji.
Tapā h param kretayuga, tratayam jnyanamityahuh, dwāparam, mityahu yajnyah, dhanamawa kaliyoge.
Kālinganiā nguni ulah ring kretayuga, ikāng wwang ngatapā brata sinangguh wisesā, mulya kinalewihakin samā ngka, kunang ring tretayuga, jnyana sinangguh lewih, jnyana ngaraniā, yoga, yekā winisesakening wwang samā ngka, mwang ikāng dwāpura kala, homa yajna wisesāknikang wwang, mapa taluwirnia yajnya, aswamedha yajnyadi, yekā sinangguh lewih, kunang kalaning kaliyuga, mas pira sekul, ulam sinangguh lewih dening wwang, matangnyan sirā sang sadhu, dhuhka sirā ri kalaning kaliyuga, a…
36b. pan sinakitan dening wwang durjanā, sangksepania, ikāng wwang durjanā dūstā pinakā wwang, ngawaki sanghara, apan magawe kailanganirā sang sadhu janā, matangyan sang hāyuning budi rahāyu, aywā sirā tumut anglarani ri sang sadumahapanditā, marapwan tan tumuta patakaning janmā ring kaliyuga, ndan tan sinangah pangawaking sanghara, apanikang wwang, pawaking sanghara ring kali sanghara, amukti mahapataka, tmahniaring kalaning kretayuga, tretayuga, duwaparayuga, yekā lawasnia dadi itipning kawah, apan dosania manglarani ri sang panditā, mamati sang panditā, hetunia, mamanggih papa, ikāng kapituganing yuga, yekā sinangguh cakrabhawa, tuhun sukā ri tkaning kaliyuga, kewala, apan pinakā pananghara bu…
37a. di sang panditā, pinakā pawaking pangharuhara rat, ginawe pananghara sarwwā rahāyu, gatinia tinuwuhaken ring kaliyuga, yekā sumirnaken sarwwā dharmā gawenia, ling Sanghyang Aji.
Pradhanām sakahopamam, purusah wrasabhopamah, isah sorati sangyuktah, jagat brahmita cakrawat.
Kālinganiā, ikā wyantining tiga yuga, maganti-ganti lawan kaliyuga, sang pradhanā sirā pangawaking sakata, sang purusa lumakuwaken budi halā hāyu, nimita sang purusa makawak wresabha, kinon de Bhatāra mangirinda sakata, amot pagawening janmā halā hāyu, Bhatāra Iswara sirā pinakā sareti, kinon de Bhatāra mamahulun, namicuta irikang sapi, awak sang purusa, ikāng catur yuga, kipingin pada …
37b. tipatanguler, twasning nginucap, nguni tatwanika, Sanghyang Surya Candra pinakā pamaceking kiping patang nguler, ikāng surya dwādasa candra, hetuning setahun rwa wlas hulan wilangnia, sangsiptani kiping papat, wilangnia, hetuning kiping rowlas kwehnia, ikāng bubungan kalih, rahina wngi tatwania, sanghyang dharhindan tattwa nirā, ikāng rajah tamah lawan dasendriya, lmah katuting kiping tatwania, mwang salwiring reged rumakting kiping, kuna yan reged dūstāmbek-kebeking kang wwang ring kretta treat dwāpara, yan tekaning kalayuga kala, tan tumurun muwah mangjanmā, irikā mulih maring purusa, tatwa, dadi dewa, manganti ring brahmapada, wisnupadha, iswarapadha, yan teka pwa ya kālā masaning kerta treat dwāpara …
38a. mulih ring predhana tatwa, matmahan tiryak, satwa mageng ngadmit, sarwwā kumilip, manganti ring sthawara janggama, kunang yan kapangan kenuning kerta treat dwāpara, ikāng sthawara janggama, dadi manusā, sarining kapangan kenum, anghing kadyangganing jun, wawadahinggu, tan ilang gandania hetuning yuga sangsaya lungsur, kerta yuga, matmah treat, matuah dwāpara, mwah matmah kali, hetuning tan kawaseng tapā , magawe jnyana, tan kaweseng jnyana, magawe yajnya, magawe pūniādhana, maweh mas pirak, skul ulam, yekā wyaktiniangsangsaya, mingsor, ling Sanghyang Agama.
33. Danā, swabudining mausya ring kaliyuga, wruh maśastrā kalingsanghara.
Hana danāngkanistasca, dhana dhananca madhyamam, uta…
38b. mangkania danānca, widhya dhana manamtakam.
Ikang ngawe skul, kanistā danā ngaraniā, ikāng wwang ngā dhana mas manik, madhya madhana ngaraniā, mwah ikāng ngaweh kania, utama dhana ngaraniā, muwah ikāng wwang ngaweh aji amarahing dharmā adi kastragama, manuduh ikāng hala-hāyu ninghulah, anantā dhana ngaraniā, tan pahingan phalaniā ling Sanghyang Agama.
Ekaksara pradatawyam, dattawyam manumaniate, swanayonih prasutanam, candalāmapi jayate.
Kālinganiā, swabudining janmā mausya ring kaliyuga yan hanā sang wruh mangaji sastragama, tinakwanaken pakekes nikang sastra, katandruhniaksara salah tunggal, mwang ling aksara bisa ta ya wkasan, kunang ngujarnia, tan sapanditā ringanu sangkaning nghu …
39a. lun, wruh ring ngagama sastra, aku wruh dawak, mangkanā mbek ning janmā ring kaliyuga, yan hanā wwang mangkanā , huwus ta ya wareg amukti karmaphala, karmaphalā ngaranika, phalaning ngagawe halā hāyu, pjah ta ya wwang mangkanā wekasan mulih ring swana yoni, swanayoni ngaraniā, mangjanmā ring cambra, mangjanmā ring candalā, mapa ta budi nikang candela, nihan wretining janmā candela, tumuwuh ring kaliyuga, hanā wwang tan padosa, angdalih dosa hala, ring sang sadhujanā, anglarani sang sadhu, aneya-neya ring sang panditā, amati-mati wiku, amaling, angrancab, anumpu, amungpang, angrampas, ambegal, angamuk, ambahud anggris, angupas, angracun, anlah, andesti, amemendem, a, …
39b. misunaken aweh ujar capala parusya, awahiri ring wwang sugih, irsya ring wwang manmu bagya, malulut ring drewening para, ahewa ring kasyasih, sampe ring tapā brata, awalepa ring dharmā yukti, anglem mangulah asta dūstā, asta corah, mwang saddhatatayi, amatyani lembu, amatyani brahmāna, bhujangga rěsi sewasogatā, mamatyani guru, mamatyani wwang ngā tuwa, mangrubuhaken dangkahyangan, amet dewedrewyā, mangalap guru, mangalap sisya, walakyarabi samā nia lanang, marabi samā nia wadon, hanā malap ibunia, hanā malap anaknya, hanā malap ipenia, tan paratu, tan pawiku, tan pakabuyut, tan pasanggar, yekā ulaning kalingara, tan hanā sor, tan hanā ruhur, kunang ikāng rat, trang-trang bhyo…
40a. ma, lebumlak, tahun wurung, ilan prang mangenake desa, lara ning wwang tanibalā, sima, kalagyan dharmā, rusaking negara, gringurem, muris, gigil amewih, muah edan kawarangan pambekaning janmā tan atuturing tuwan, tan panolih ram arena, muwang kadang sanak, paling, angling, mangkanā swabhawaning bunining wwang ring kalisanghara, kunang ulaha sang mataki taki dharmā rahāyu, aywā sirā milu kaluluting pracara nikang dūstā citaning kaliyuga, marapwan tan tumibeng kawah, ling sanghyang Ngaji.
34. Papa brunaha, Gowanda, atipataka, kaliyuga sanghara. Brunaha purusaghnasca, kadyasoro grayajatah, ajnyatah sambat sarikah, patakah parikirtitah.
Kalingnia, brunaha ngaraniā, wwang ngama ..
40b. tyani rare jro weteng.
Purusaghna ngaraniā, wwang ngamatyani sang purusa, rwa lwir sang purusa, ndya ta, yan hanā wwang wirya sugih wisesā ring desa nirā, yekā purusadhanawam, ngaranirā, mwah yan hanā wwang bahusastra, tan hanā kapunggungingireng ngaji yekā purusa sastrawan, ngaranirā.
Kaniacora ngaraniā, wwang ngamalik kania larangan.
Ugrajaya ngaraniā, wwang alakya rabi nglumapti kaka.
Tan manut kramaning ngakaka, ari.
Ajnyata sambat sari kangaraniā, wwang ngasawah tan samā sa ning ngasawah.
Yan hanā wwang mangkanā kramania, tiba ring kawah.
Dadi itipning nirāyalokā, ling sanghyang Aji.
Gowandam yuwatiwandam, wala wreddasaca pandyate, aghara dahicatatha, upapathaka mucyate.
Kālinganiā, u…
41a. lah ning wwang ring kaliyuga, Gowanda ngaraniā, wwang amatyani lembu.
Yuwatiwanda ngaraniā, wwang ngamatyani wong wadon.
Walawanda ngaraniā, wwang mamatyani rare durung wruhing idhedp.
Wreddawanda ngaraniā, wwang namatya wwang tuhu wus atuwa, tumakul.
Agaradahi ngaraniā, wwang angrancab andukeni, yekā upapataka ngaraniā.
Yan hanā wwang samā ngkanā ulahnia, tiba ring kawah, dadi itipning kawah maharorawya, ling Sanghyang Aji.
Brahmawandam surapanam, suwarnnastheyamewacca, kania wighnam guroh wandam, mahapataka mucyate.
Kālinganiā, ulah ning wwang ring kaliyuga, brahma wanca ngaraniā, amatyani sang brahmāna.
Surapana ngaraniā, akon anginuma sajeng ring sang bhujangga sewa sidanta.
Swarna ngara…
41b. nia, anyolong mas.
Kania wighna ngaraniā, mangrabini kania tapwan wenang sinanggama, teher agring, maka nguni yan mati.
Guruwanda ngaraniā, amatyani guru, yekā mahapataka ngaraniā yan hanā wwang mangkanā , tiba ring kawah, dadi itipning rorawapada, ling Sanghyang Aji.
Swamputri bajatelastu, bajatelastu mataram, yascat grehnatitalinggam, iti pawaka mucyate.
Kālinganiā, swamputri bhajante ngaraniā, wwang arabi anaknya MAtara bajate ngaraniā, wang arabi ibunia.
Lingga grehna ngaraniā, wang anaha sahandodelingga.
Arca, kabuyutan, angrusak umahning dewā yang, mwang sakaluwiring angrusak lingga, arca, tinugel-tinugelnia, yekā lingga ghrehna ngaraniā, mangkanā pambeking janmā wwang ring kaliyuga, hetunia tan samā la …
42a. wan wwang ring kerta, treat, dwāpara, pambekania, yan hanā wwang manuting pracaranining janmā ring kaliyuga, antyanta ring kuwaka budi, maka nguni lingga ghrehna, yekā tiba ring kawah, dadi itipning maharorawapada, inajaraken atipataka, ling Sanghyang Aji.
35. Dumadi manusā, ring kaliyuga, kadyangganing tunjung. Utpalasya rawindasya, matsasya kumudasyaca, eka yonih prasutanom, tesam ganda pretak pratak.
Kālinganiā, utpala ngaraniā tunjung biru, arawinda ngaraniā, tarate.
Kumudha ngaraniā, tunjung pingel, tunjung bang, tunjung sindura.
Matuya ngaraniā, iwak lowah, pada ikā sakeng banyu, kawijilanika, tathapinia, tan sagandania, bheda juga ring satunggal satu…
42b. Nggal, mangka tikang dumadi janmā, yan tumuwuh ring kaliyuga.
Awya makabudi ring pambekaning wwang ring kaliyuga, anlatata sirā makambekan duhkadi budining wang ring kretayuga ring treat, dwāpara, marapwan umulih dewata muwah, apaning wwang dumadi manusā, dadining dewata nguni, kurang yoga ya ta mangdadi manusā, doning mangkanā salah kālinganiā, huwusning dadi manusya, akreti, kinkinen margining tan dadi tiryak, ikāng janmā ngaraniā, durgama temen , wastania, yan anuting ambek hala, nihan kapratyaksa nika, tontonen ikāng satwa lawan manusā, tan adoh prawretinia, patitah Bhatāra , prabhedania, ikāng satwa tan wruh ring ajnyana wisesā, kuning ikāng wwang kinahananing jnyana wisesā, ikā tatan bheda…
43a. de Bhatāra maweh urip, apaning satwa tiryak, dadining janmā tan areping dharmā rahāyu, nguni, matangniān tan hanaka dadi Sanghyang Dharmā, pinakā ambaling dewata muwah kunang ikā yan tan bhagyaning ngawak, maluyikā manusā, akreti muwah, pilih-pilih prabheda lawan ikāng janmā kasyasih, mapata phalā Sanghyang Dharmā kinawruhan, yan tumuwuh malih rwa pakolihnia, wiryawan, mapa sadhana sang wiryawan, humuluy-rikang kadwātan, dhana dhama pinakā hawanirā, mapa pakolihnia sang sastrawan, phalā nirā kihananing sastra, tapā brata pinakā sadhana, lawan sirā malawas ring sarwwā tatwa, lwirning upti, sthiti, pralina, yekā bhuwana tatwa, kinaweruhanika, kati …
43b. ga de sang sastrawan, engetakna ling Sanghyang Aji.
36. Mas bhūsanā, danā pūniā, bungahing mas sinepah.
Dhanam wibhūsanām lokā, mukasya wimalam dhama, dhanam suwarggāsya sopanam, dhanam durggati maranam.
Kālinganiā, ikāng mas pinakā drewyāning sugih, kinarya bhūsanā, donia ring lokā, muwah ikāng mas, akarya bungahing wadanā phalaniā, kunang yan pinakā sadhahaning swargā sopana, dhanakna ring sang brahmāna weda paraga, mwah ring sang panditā, adulurana suia cita, rahāyuning budi, yapwan ikāng mas tan linwang maring dharmā, tan hanā mas tumutapā ratra ring sumimpen irika, pilih-pilih ikāng mas pinakā hawaning kapatin, pilih-pilih marghaning kalebu ring ka …
44a. wah, yan salah dening maningkah, yekā hetu sang panditā tan arep sirā unggwaning mas, kewala sanghyang pinakā mas mahikira, lana sinempening hati, adyati tkaning kapati nirā, ling sanghyang Ngaji.
Dagdang dagdang puranapi punah kancanangkanti, ghresta ghrestom punarapi punah candanā carugandam, cinang-cinang punarapi punah iksu tanda sakanda, bhawantopi prakerti wikreti jayate kotamani.
Kalingnia, ikāng mas ngaraniā, inaluban ta ya muwah-muwah ri wkasan suteja warnnania, makarya arsaning tumon, palania mangkanā ikāng candanā, cinacal-cacal linwang muwah, tkeng daleming twasnia, ri wkasan sangsaya ring atisaya wanginia makarya arasning mangambung phalaniā, nihan ikāng tbu, tinugel ta…
44b. ya sakanda-sakanda, saking tungtungnia, ri wkasan ta ya rinasa-rasa ya pinangan sarasaning manisnia, ndi ta ya mangrasani ngamangan, kālinganiā, sang tumoning rūpa warna rahāyu, masajining warna, ndi ta wkasing panon sang panon, mangkanā ikāng candanā, mawangi inambung de nikang ganda, ndi taw kas ikāng ganda mwang ngikang ngangambung, lawan ikāng manisning tebu, rinasaning jiwa manisnia, ndi teka wekasing rasa, kālinganiā, rūpa , ganda, rasa, reh yekā mulaning janmā tumuwuh, yekā prakerti, lawan wikreti, mareng prekreti, dadi nirā, ikāng aksara, na, ta, sangkan tkania, ikāng aksara, ra, langgeng hanania ring rat, sangksepania, ikā na, amor ring ra, hetu nirā tumuwuh, hetuning rat, tmahan pati, yekā i …
45a. ngetakna tkania, lawan ulihnia, ling sang wruh.
Ikang mtu, kalawan lungha, tan hanā kotamania, matangyan, mangke tangabyasanen, prih-prih lungha, aywā tke ling Sanghyang Ngaji.
37. Kataman sukā duhka, tapā brata.
Sukosyanantara sukām, cakrawat magatah sarwe, tathat stahwara janggamam.
Kalingnia, ikāng rat ngaranika, tan hanā tan katamanana sukā duhka, ikāng sukā lawan duhka, tan pakahletan, jatinia, tan apilih unggwania, ring sugih tuwi, tan ucapan ikāng kasihan, huwus karuhun ikāng jagat kabeh, sahananing sthawara janggama, tan hanā kaliwatan, hetuning tan hanā tapā brata, yoga Samā dhi, pūniādhana, dharmā, mamrih kdhika…
45b. ning dhuhka, nimitaning sang wruh ring dharmā, tan arep aweha duhka ring sang masameng tumuwuh, prih nirālitaning duhka nirā ring janmāntara muwah, apan kramaning jagat kabeh, weweh-wiwehan, ahutang, anahur, apihutang, sinawur amalat, karaning sang wruh ring dharmā, tan arep amalat drewyāning len, mangkanā ila-ilania, akinkinem anginakne budi ning sāmā-sāmā tumuwuh, aywā weh laraning hatining len ling Sanghyang Ngaji.
Atithicapawadisca, dwāwate mamandegaweh, apawandi aretya panghatithi sargga gaminah.
Kālinganiā, atithi ngaraniā, wwang kasyasih sasangkania, sambramanening skul iwak, sakawasa, awya ta makadon pamalesanwa, pa …
46a. lania ri tkaning kapatih, ikāng dharmā nanuntun maring swargā, yekā puja titi ngaraniā.
Apawandi ngaranika, aywā mandalih, dalih ring nora, aywā mangucaping hala, yan tan tuhuning nghalah salwiraning andalih ring ngahala, tatan tuten ikā , kahila-hilaning ngapawanda, anganteni sapapa patakaning dinalih, mwang nginucaping nghala, yekā apawadhi ngaraniā tmen, ling Sanghyang Dharmā.
Slokāntara.
Tlas sinurat ring rahina, su, u, wara Warigadyan, tithi, tang, ping, 9, sasih, karo, rah, 1, tenggek, 1, Isaka, 1911 warsaning lokā.
Kasurat antuk Ida Bagus Madhe Jlantik, ring griya Kacicang Amlapura, Karangasem, Bali.

Dharmagita

A. Pengertian Dharmagit

Dharmagita adalah suatu lagu atau nyanyian suci yang secara khusus dilagukan atau dinyanyikan pada saat upacara keagamaan Hindu, dan untuk mengiringi upacara ritual atau yadnya. Istilah Dharmagita berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata Dharma yang artinya kebenaran, agama atau keagamaan, dan Gita yang artinya nyanyian atau lagu.
Tradisi menyanyikan kidung-kidung suci merupakan tradisi yang sangat kuno. Kita mengenal adanya kitab Sama Weda yang merupakan salah satu dari kitab Catur Weda. Kitab Sama Weda ini berisi lagu pujian atau pujaan untuk dinyanyikan dalam pelaksanaan upacara yadnya. Dalam berbagai kegiatan keagamaan, penggunaan Dharmagita sangatlah dibutuhkan karena irama lagunya memiliki berbagai jenis variasi yang sangat membantu untuk menciptakan suasana hening atau khidmat yang dipancari oleh getaran kesucian sesuai dengan jenis yadnya yang dilaksanakan.
Saat ini Dharmagita sudah mencapai kemajuan yang cukup pesat. Bahkan pemerintah melalui Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), secara rutin menyelenggarakan Utsawa Dharmagita, yaitu suatu ajang perlombaan untuk menjalin hubungan cinta kasih sesama umat di seluruh tanah air. Adapun yang biasa digelar dalam Utsawa Dharmagita adalah membaca Sloka, Palawakya, dan tembang-tembang kerohanian, serta hal-hal lain sebagai ciri budaya daerah masing-masing yang dijiwai oleh agama Hindu.

B. Jenis-Jenis Dharmagita
1. Sekar Rare
Biasanya Sekar Rare dalam lirik atau baitnya mengandung pesan-pesan moral, budi pekerti, cerita-cerita tentang tingkah laku atau kesusilaan dan pengetahuan.
Contoh:
a) Bebeke putih jambul makeber ngaje kanginan
Teked kaja kangin, ditu ya tuwun mekelang
Briyak-briyuk msileman (2x)
b) Putri cening ayu
Nongos ngijeng jumah
Meme luas malu
Ke peken meblanjah
Apang ada daharang nasi
Meme tiang ngiring
Nongos ngijeng jumah
Sambilang mempumpun
Ajak tiang dadua
c) Kotak wadah gerip
Jaja megenepan
Ane luwung luwung
Megenep isine
Apang ada aji satus

2. Sekar Alit
Sekar Alit sering disebut juga geguritan, pupuh atau tembang. Isinya mengandung pengetahuan, kesusilaan, kerohanian, ataupun yang bersifat romantis. Sekar Alit dapat dibedakan atas beberapa bentuk, seperti berikut ini.
a. Pupuh Sinom
b. Pupuh Mijil
c. Pupuh Ginada
d. Pupuh Pucung
e. Pupuh Maskumambang
f. Pupuh Ginanti
g. Pupuh Dandang
h. Pupuh Durma
i. Pupuh Pangkur
j. Pupuh Semarandana
Pada Lingsa Sekar Alit
Nama Pupuh Jumlah suku kata dan huruf hidup akhir pada setiap baris kalimat tembang beserta nomor barisnya
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Sinom 8a 8i 8a 8i 8i 8u/o 8a 8i 12a
Ginada 8a 8i 8a 8u 8a 4i 8a
Pucung 4u 8u 6a 8i 12a
Maskumambang 4a 8i 6a 8i 8a
Ginanti 8u 8i 8a 8i 8a 8i
Durma 12a 8i 8a 8a 8i 5a 8i
Pangkur 8a 12i 8u 8a 12u 8a 8i
Semarandana 8i 8a 8o 8a 8a 8u 8a
Mijil 10i 6o 4e 10e 8i 6i 8u

Dangdang 14a 14e 8u 8i 8a 8u 12a 8i 8a
Contoh Sekar Alit:
1. Pupuh Sinom

a. Pakukuh dasar agama
Panca srada kepuji
Sane lelima punika
Brahman sang kaping singgih
Atman yukti kaping kalih
Karma kaping telu mungguh
Samsara kaping empat
Moksa kaping lima sami
Bwat sesuduk
Bapa jani maritatas

b. Ring carike sane linggah
Pantun nyane sampun kuning
I cetrung ngelah pianak
Nanging kantun alit alit
Rawuh sang madrebe carik
Sane benjang jadi durus
Kaanyi padi punika
I cetrung sedih ngurunik
Ratu agung
Kengken jani ban madaya

2. Pupuh Miji

a. Madak sweca Ida Sang Hyang Widhi
ngicen karahayon
di carike luputing marana
gemuh landuh sang para patani
dulurin pangaci
seleg ngarap mangda mupu
b. Mesat ngapung putra sang Arimbi,
Jeung mega geus awor
Beuki lila beuki luhur bae,
Larak lirik ningali ka bumi,
Milari kang rai,
Pangeran Bimanyu.
3. Pupuh Pucung

a. Dagang jamu
Mangkin tiang meli jamu
Meli duang gelas
Janginang base abedik
Dagang jamu
Ingetang mani medagang
b. Ni luh Putu
Beli tresna teken iluh
Tresna apit due
Nanging beli sube ngerti
Ni Luh Putu
Sube ade ne ngelahang
4. Pupuh Maskumambang

a. Bunga kertas
Nike bunga pulau Bali Wenten akeh warna
Bunga sane paling suci
Bunga kertas, Bunga sayang.
b. Rasa sayang
Rasa sayang ne di hati
Nike madan tresna
Rasa tresna ne sujati
Rasa sane paling liang

5. Pupuh Ginanti
a. Tambe te ngawinang lacur
bulak balik manumadi
bingkih malaibin dhuka
dekah nguber sukan hati
ngalih idup mati bakat
ngalih bajang tua panggih
b. saking tuhu manah guru
mituturin cening jani
kaweruh luir senjata
ne dadi prabotang sai
kaanggen ngaruruh mertha
sahanuning ceninge urip

6. Pupuh Dandang
a. Buin pidan manyi padi kuning manyidayan
kadi makunyit di alas
katemu lamun idepe
sarin tanah tiang ibuk
blahan payuk bas bebeki
beruk tanah sarat pisan
dakin karna uling ilu
daluang bisa ngumbara
mangulayang
kayun ira tumas manik
jeron dewa ampurayang
b. Saksat ratu nuduk pitik bengil
Mami lara
Nyapat pitra ksasar
Gela-gela ring kawahe
Urip titiang sampun lampus
Keto upaminya adi
Manyadia mamarekan
Ni Nyonyah raris masaur
Minab tan wenten utang tiang
Memarekan
Ring beline kadi mangkin
Sarat tuduhing batara
7. Pupuh Durma
a. Titiang melajah ngae pupuh durma
Pupuh sane luung gati
Ten je sukeh ngae pupuh
Ngae sareng timpal – timpal
Liang rasayang di hati
Diastun liang
Ngae pupuh durma kenjel gati
b. Titiang demen gati mbalih wayang
Wayang sane uli Bali
Mebalih di desa Pau
Dalange saking Kamasan
Diastun ujan – ujanan
Atine liang
Sebet atine wayange mulih

8. Pupuh Ginada
a. Pulau Bali sane aman
Teken Bali sane asri
Patut iraga ajegang
Warisan Para leluhur
Patut iraga lestariang
Pulau Bali
Pulau sane mabudaya
b. Tiang mlajah ring Ekasma
Sekolahne luung gati
Gedungne matingkat dua
Gurune jegeg lan bagus
Ngranayang titiang tresna
Nenten lali
Ngaturang antuk suksema

9. Pupuh Smarandana
a. Jeroning manusa urip
Dini di mretya bawana
Duang palih ya abahnya
Pertama to dewi sampad
Ane ngelah abah dewa
Asuri sampad buin bagus
Ento agol karaksasan
b. Magantung ban bok akatih
angkihane yan umpama
kadi manyuhun gedahe
matatakan batu lumbang
yana pelih magunjitan
tan urungan pacang labuh
dekdek buyar tan tuptupang

10. Pupuh Pangkur
a. Sujati ning sadu dharma
nyadia ngungsi rahayune mangda punggih
duluraning karma patut
idep teleb ring kadharman
rawos dabdab mupuhang kadang manyulur
anggen titi manyinahang
iwang patut mangda uning
b. Subalang jani di manah,
buka cêning malajah sanuné urip,
nika wênang nomêr satu,
nanging pang satya dimanah,
êda ganjih,
né plajahin malu hitung,
apang da nuwut né iwang,ngundukang bênêh né pasti

3. Sekar Madya
Sekar Madya disebut juga tembang tengahan atau kidung (jumlah dan jenis-jenisnya sangat banyak), adalah lagu-lagu yang dipakai untuk mengiringi upacara agama, isi lagu sesuai dengan acara pelaksanaan upacara agama Hindu.
Contoh:
• Kawitan Wargasari
a. Purwakaning angripta rum,
ning wana ukir,
kahadang labuh,
kartika panedenging sari,
angayon tangguli ketur,
angring-ring jangga mure.
b. Sukaniya arja winangun winarna sari,
sampuni riris samahura ingoling tangi,
rumruming puspa pryaka,
munggwing srenggangning rejeng.

• Butha Yadnya
a. Kidung pangundang ring butha,
basa lumbrah pupuh jerum,
butha asih widhi asung,
caru presajine reko,
genep saha upacara,
manut warna lawan ungguh,
sekul iwak pada bina,
olah-olahan sadulur.
b. Pangideran panguripan,
kangin panca putih mulus,
kelod siya barak mungguh,
kawuh kuning pitu enggon,
kaja selem hurip patpat,
manca warna tengah brumbun,
akutus panguripannya,
babutane manut ungguh.
• Manusa Yadnya
a. Wuwusan bhupati,
ring petali nagantun,
wirya siniwi,
kajrehin sang para ratu,
salwaning jambu warsadi,
presama tur kembang tawon.
b. Tuhu tan kenengapi,
pratapa sang prabu,
kesyanirutyen sajnyari,
wyakti yan ari wisnu,
nityangde ulaping ari,
sridara patra sang katong.

• Dewa Yadnya
a. Ida ratu saking luhur,
kawula nunas lugrane,
mangda sampun titian tandruh,
mengayat betara mangkin,
titiang ngaturang pejati,
canang suci lan daksina,
sarwa sampun puput,
pratingkahing saji.
b. Asep menyan majegau,
candana nuhur dewane,
mangda ida gelis turun,
mijil saking luring langit,
sampun medabdaban sami,
maring giri meru reko,
ancangan sadulur,
sami pada ngiring
4. Sekar Agung
Sekar Agung disebut juga kekawin atau wirama. Bangunnya diikat oleh Guru lagu. Guru berarti berat atau panjang dan lagu berarti pendek atau ringan. Bentuk atau jenis Sekar Agung sangat banyak. Bahasanya menggunakan bahasa jawa kuno atau bahasa pabencangah. Isinya mengandung nilai-nilai kerohanian dan mengandung filsafat kehidupan yang sangat tinggi.
Contoh Sekar Agung :
WIRAMA SRONCA
a. Sira ta tri Wikrama pita
Pinaka bapa bhatara Wisnu mangjanma
Inaka nikang bhuwana kabeh
Ya ta donira nimitaning janma
Artin nyane:
Ida wantah ajin Sang Hyang Tri Wikrama
Kanggen aji rikala sang Hyang Hari manumadi
Jaga ngerahayuang jagate sami
Sapunika tatujon Ida mawinan manresti
b. Gunamantra Sang Dasaratha
Wruh sira ring Veda bhakti ring Dewa
Tar malupeng pitra puja
Masih ta sireng swagotra kabeh
Artin nyane:
Lewihing guna Ida Sang Dasaratha
Wikan Ida ring Veda bhakti ring Dewa
Tan lali Ida ngastawa Sang Hyang Pitara
Sweca Ida ring sameton Idane sami

WIRAMA MERDUKOMALA
a. Ong sembahninganatha tinghalana de tri loka sarana
Wahyadhyatmika sembahing hulun ijongta tanhana waneh
Sang Iwir agni sakeng tahen kadi minak sakeng dadhi kita
Sang saksat metu yan hana wwang ngamuter tutur pinahayu
Artin nyane:
Ratu Sang Hyang Maha suci, pangabhaktin titian inista suryaning ugi, santukan wantah paduka Bhatara kantin jagat tigane.
Sekala nikala pangabhaktin titian ring paduka Bhatara tan wenten tiyos
Paduka Bhatara kadi geni mijil sakeng taru sane letuh, kadi minyak mijil saking santene
Paduka Bhatara nyalantara medal yening wenten anak ngincepang tutur kabecikan pisan
b. Wyapiwyapaka sarining purama tatwa durlabha kita
Icchan tangha tan hana ganalalit lawan hala hayu
Utpatti sthitti linaning dadi kita ta karana nika
Sang sangkan paraning srat sakala niskalatmaka kita
Artin nyane:
Nyusup ring sahaning sarwa bhawa meraga sariningtattwane sane mahuttama, sane sengka pikolihang paduka Bhatara
Saking pani ah paduka Bhatara punika, sane wenten sane tan wenten, sane ageng sane alit, miwah kawon becike punika
Lekad hidup matinnya sang numadi, paduka Bhatara ugi maka lantaran ipun
Paduka Bhatar meraga sangkan paraning jagate sami, sekala niskala paragayan paduka Bhatara

WIRAMA RAJANI/MANDAMALON
a. Artha ripejah nikang Tri Sira sighra hulunya tiba
Dadi ta maso masenghit ikanang kara Dhusana weh
Saha bala manglayang kadi tamegha katon ahireng
Karatala kadga cakra winawanya ya tulya kilat
Artin nyane:
Risampune padem I Trisirah gelis tenggek ipun ulun
Dados nyagjag nguwales ipun sang Kara miwah sang Dusana
Rawuhing prajurit ngindang waluya gulem kanten ipun selem
Pedang, keris, cakra baktan ipun punika saksat tatit
b. Hana mamanah waneh kadi ta bajra panahnya bisa
Talinipanahnya rodra kumupak kaharan gelapa
Raghu suta bayu bajra ya padhani panah nirabap
Yata kumenekanang kala tiba sahananya pejah
Artin nyane:
Wenten malih niwakang panah tan bina kilat panah ipun maupas
Talin panah ipun kabinawa ngrebek tan pedah suaran kilat
Panah Ida Sang Rama walua bayu bajra akeh pisan
Punika sane ngenen I Raksasa ulung sakatah ipun padem

WIRAMA SIKARINI
a. Kunang sang wwang nissreyasa sira tatan siddhiringulah
Nda tan puja tan yoga rinegepira nisbhawa sada
Luput sangkeng bhawa karma pati hurip tan panga-wara
Apan saksat sangkan paranika sira cintya bhawana
Artin nyane:
Anake sane ngemanggehang nirasraya tusing sidha sajeroning laksana
Nenten ja puja nenten ja yoga ane ening, sakewenten ida setata ngamanggehang kadyatmikan
Luput sakeng palinder suka duhka, mati hidupe tusing ja ngaduk-aduk
Dwaning satmaka pasuk wetu ida, Ida sampun paragayan Acintya bhawana
b. Sireka drwaya jnana tiga huriping bhumi sahana
Bangun phalweng wwai tan milu banu sireng duhka suka ren
Guna neka lit tan lega maseki nglwabhuta temen
Ageng tan mopek manjingi ngahetika suksma sumilib
Artin nyane:
Ida punika sane madrebe jnyana tiga, hurip gumine makejang
Waluya jukung di toyane, nenten milu teken pajalan toyane sane pinaka suka duhka
Pigunan idane alit, sakewanten nenten goloh macelep (ngeranjing) ring genahe sane linggah, ngagawokin
Ageng sakewanten nenten kelet macelep (ngeranjing) ring genah sane cupek (alit), dahat suksma tur singid

WIRAMA SARDULA WIKRIDHITA
a. Ambek sang paramartha pandita huwus limpad sakeng sunyata
Tan sangkeng wisaya prayojananira lwir sanggraheng lokika
Siddhaning yasa wiryya dinira sukaning rat kininkin nira
Santosaheletan kelir sira sakeng Sang Hyang Jagat karana
Artin nyane:
Pakayunan ida sang wicaksana sane sampun mikolihang kaparamarthan, sampun langkung saking sunyata
Boya sangkaning wisaya tatujon ida kadi sane sampun ketah sajeroning desa pakraman
Kasiddhan yasa miwah kapurusanne saratang ida, miwah karahajengan jagate sane bobot utsahayang ida
Degdeg kahyun ida yadiastun mabelat kelir saking Sang Hyang Siwa

b. Um putrangku Bhatara Buddha kinabhaktyanta pramaneng hulun
Swastyastu prabu dharma murti ngusirenta ngraksa dharma sthiti
Apan byakta hilang geleh-geleh ikang ratyankite kandhiri
Panglinggan ri wijita nguni magawe tusta pramaneng jagat
Artin nyane:
Uduh cening putran aji, Pangawataran Sang Hyang Buddha, sane patut bhaktinin, satmaka iwan ajine
Dumadak rahajeg cening jumeneng prabhu, utsahayang paragayan dharmane muwah ngeraksa dharmane apang ajeg
Wireh pastika lakar hilang pakeweh gumine, yan idewa suba nyeneg agung
Pinaka bukti dugas embas ceninge imalu, ngawe suka salwir ane maurip digumine
5. Sloka
Sloka adalah bagian ayat atau bait dari kitab suci yang dibaca dengan irama mantra. Isinya mengandung pujaan-pujaan atas kebesaran Tuhan beserta manifestasinya.
Contoh:
a. Ye yatha mam prapadnyante tamstathaiwa bhajami aham,
Mama wartmanu manusyah partha sarwasah (Bhagawadgita, IV.11)
Artinya:
Jalan apapun orang memujaku, pada jalan itu aku memenuhi keinginannya, Wahai Partha, karena semua jalan yang ditempuh mereka, semuanya adalah jalanku.
Maknanya:
Dengan keanekaragaman budaya di tiap-tiap daerah yang dijiwai oleh Agama Hindu, menyebabkan pelaksanaan ajaran Agama Hindu nampak berbeda. Namun semua itu adalah jalan menuju Tuhan. Hal ini sesuai dengan konsep desa kala patra. Sloka ini juga bermakna menjaga toleransi/kerukunan antar umat beragama.

b. Daridraya-nasanam danam
Silam durgati-nasanam
Ajnana-nasim prajnya
Bhavana bhaya-nasini.(Bhagawadgita V.XI)
Artinya :
Kedermawanan menghapuskan kemiskinan, perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan, kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan, dan bahaya atau rasa takut bisa dihilangkan dengan merenungkannya baik-baik.
Maknanya :
Kedermawanan, perbuatan yang baik, kecerdasan rohani, dan merenungkan segala sesuatu dengan baik-baik, niscaya semua kemiskinan, kebodohan, dan bahaya atau rasa takut bisa dihilangkan. Sebagai contoh di masyarakat, perbuatan-perbuatan seperti yang diatas akan menghantarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Tuahan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai segala pencipta alam semesta ini. Karena seperti yang kita ketahui kecerdasan rohani yang dimiliki manusia akan mampu menempatkan dirinya selalu dalam keadaan sadar. Namun tak jarang kita melihat banyak orang-orang di masyarakat terutama para pemuda yang justru terlibat dalam dunia-dunia kegelapan, seperti meminum-minuman keras, berjudi dan sebagainya. Hal seperti harus dihindari dengan meningkatkan kecerdasan rohani bagi paa pemuda dengan melakukan dan menekuni ajaran dhama. Dan apabila mulai dari sejak dini kita menanamkan kedermawanan, maka kemiskinan akan terhapus, seperti ketika ada salah satu orang kaya di desa saya yang sangat senang untuk berdana punia dan memberikan sedekah bagi mereka yang mengalami kesusahan serta dengan usahanya yang mampu menyerap langan kerja yang banyak. Selain itu, saya sering merenungi kegiatan-kegiatan salah yang saya lakukan, karena dengan begitu kita akan tahu dan menyadari kesalahan yang kita lakukan dan bahaya atauun rasa takut yang kit alami akan dapat dihindari.

6. Palawakya
Palawakya adalah suatu bacaan terjemahan sloka dengan irama tertentu, dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno. Dalam kitab Sarasamuscaya yang menggunakan bahasa Jawa Kuno sering dibaca menggunakan irama Palawakya.
Contoh:
a. Paramarthanya pengpenge ta pwa ka temwaniking si dadi wwang
Durlabhawiya ta, saksat handaningmara ring swarka ika Sanimittaning ta tiba muwahta pwa damalakena (SS.6)
Artinya:
Tujuan terpenting pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan lahir menjadi manusia. Ini sungguh sulit untuk memperoleh laksana tangga menuju surga. Segala yang menyebabkan tidak akan jatuh lagi, itu hendaknya supaya dipegang.
Maknanya:
Dalam kesempatan yang sangat istimewa ini, hidup sebagai manusia, bagaikan sebuah tangga menuju surga, rasanya sangat sulit untuk diperoleh maka dari itu usahakan berbuat dan berpegang pada Dharma, segala hal yang menyebabkan terpeleset dan jatuh agar dipikirkan dan dihindarkan, jika sudah terlanjur jatuh, untuk kembali meraihnya sangat sulit
b. Kalinganya, yan ing wĕngi, sang hyang candra sira pinaka damar. Yan ring rahina, sang hyang rawi pinaka damar. Yan ing triloka, sang hyang dharma pinaka damar. Kunang yan ing kula, ikang anak suputra pinaka damar, ling ning aji.
Artinya :
Hakikatnya pada malam hari, bulanlah sebagai lampu penerang. Jika pada siang hari, mataharilah menjadi penerang. Jika di tiga dunia, dharmalah sebagi penerang. Adapun dalam keluarga, anak yang suputra sebagai penerang, demikian menurut ajaran suci.