Siwa di Indonesia

SIWA DI INDONESIA

Sumber Ajaran Tattwa
Tattwa adalah ilmu filsafat. Sumber-sumber ajaran tattwa adalah pustaka-pustaka suci Hindu yang merupakan sumber atau asal ajaran kebenaran atau kenyataan yang disebut tattwa. Vedā adalah kitab suci dan sumber ajaran agama Hindu. Dari Vedā mengalir ajaran yang merupakan kebenaran Agama Hindu. Ajaran Vedā tidak terbatas hanya sampai pada tuntunan hidup individual, tetapi juga dalam hidup sosial bermasyarakat. Dari Vedālah mengalir dan memberikan validitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Seperti yang dikembangkan dalam ,kitab Smāti , Itihāsa, Purāśa, Darśana, Tantra, dan Tattwa yang tersurat dalam lontar-lontar.
Sumber itu ada dua macam yaitu : sumber yang asli dan sumber tak asli. Sumber yang asli merupakan sumber Primer yang merupakan sumber inspirasi serta menjadi dasar renungan dalam perkembangan ajaran tattwa berikutnya. Sedangkan sumber tak asli adalah semua pustaka atau lontar-lontar yang tumbuh dan berkembang dari sumber asli tadi namun tetap menyajikan pemikiran atau pandangan yang bersifat falsafi.
Adapun yang merupakan sumber asli sebagai sumber dari segala sumber Dharma (Ajaran Hindu) adalah Veda, sesuai dengan pernyataan dalam kitab Manawa Dharmaśastra II.6 sebagai berikut :

Idanim dharma pramananyaha,Veda ‘ khilo dharma mulam smāti śile ca tad vidam, Acaraś ca iva sadhunam atmanastustir eva ca. (Manawa Dharmaśastra II.6)

Artinya :

Seluruh pustaka suci Veda adalah merupakan sumber utama dari pada dharma (agama Hindu) kemudian barulah smāti disamping śila dan kemudian acara serta akhirnya atmatusti (kepuasan diri peribadi).

Selanjutnya Manawa Dharmaśastra XII. 95 menyebutkan :
Ya Veda vahyah smātayo yaśca kudāśtayah,
Sarvasta nisphalah pretya tamo nistha hitah smātah.

Artinya :

Semua tradisi dan system kefilsafatan yang tidak bersumber pada Veda tidak akan memberi pahala kelak sesudah mati karena dinyatakan bersumber pada kegelapan.Vedalah sumber Dharma (Agama Hindu).

Demikian pula berdasarkan kutipan kedua jelaslah bahwa Tattwa yang merupakan salah satu aspek Agama Hindu, maka itu berarti bahwa tattwa itu pun sumbernya adalah Veda itu pula. Semua sistem kefilsafatan yang juga mempunyai makna sama dengan tattwa bersumber pada Veda, karena jika tidak, tidak akan memberi pahala.
Menurut sifat isinya Veda Śruti dibagi atas tiga bagian yaitu : bagian Mantra, bagian Brahmana dan bagian Upaniśad atau Āranyaka. Maka bagian Upaniśad inilah yang merupakan sumber aslinya ajaran Tattwa. Kata “Upaniśad” itu berarti duduk dibawah, yaitu duduk dibawah kaki guru, untuk mendengarkan ajaran Sang guru. Kamudian kata itu dipergunakan untuk menyebutkan nama kitab-kitab yang memuat ajaran rahasia itu. Ada banyak kitab Upaniśad. Berdasarkan catatan Muktikopaniśad jumlah Upaniśad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku, nama-nama itu adalah sebagai berikut :
1. Kelompok Upanisad untuk Āgveda Saýhitā, yaitu Aitareya, Kauśìtaki,Nādabindu, Tripurā, Ātmaprabodha, Nirvāśa, Mudgala, Akśamālikā, Saubhagya & Baávāca jumlahnya 10 buah.
2. Kelompok Upaniśad untuk Samaveda Saýhitā,, yaitu Kena, Chāndogya, Aruśi,Maitrāyaśi, Maitreyi, Vajraśùcika, Yogacùdamaśi, Vāsudeva, Mahat, Saýyasa, Avyākta, Kuśdika, Sāvitri, Rudrakśajābāla, Darśana, dan Jābāli jumlahnya 16 buah.
3. Upaniśad untuk Yajur Veda Hitam atau Kāśśa Yajur Veda, yaitu Kaþhavali, Taittirìyaka, Brahma, Kaivalya, Śvetāśvatara, Garbha, Nārāyaśa, Amātabindu,Amātanāda, Kālāgnirudra,Kśurika, Sarvasāra, Sukarahasya, Tejobindu, Dhyānabindu, Brahmavidyā, Yogatattva,Dakśiśā mùrti, Skanda, Śarìraka, Yogaśikha, Ekākśarā, Akśi, Avadhùta, Kaþha, Rudrahādaya, Yogakuśdaliśi, Pañcabrahma, Prāśāgnihotra, Varāha, Kalisaýtārana, dan Sarasvatìrahasya, jumlahnya 32 buah.
4. Kelompok Upaniśad untuk Yajur Veda Putih atau Śukla Yajur Veda, yaitu Ìśāvāsya, Bāhadāraśyaka, Jābāla, Haýsa, Paramahaýsa, Subāla, Mantrika, Nirālambha, Piògala, Bhikśu, Sāþyāyanì, Triśikhabrāhmana, Maśdalabrāhmana, Advanyatāraka, Turiyātita, Adhyātma, Tārasāra, Yājñavalkya, dan Muktika, jumlahnya 19 buah.
5. Kelompok Upaniśad untuk Atharva Veda Saýhitā, yaitu Praśna, Muśdaka, Māśdùkya, Atharvaśira, Atharvaśikha, Bāhajjābālā, Nāsiýhatāpini, Nāradaparivrājaka, Sìtā, Sarabha, Mahānārāyaśa, Rāmarahasya, Rāmatāpini, Sāndilya, Paramahaýsa parivrājaka, Annapurśa, Surya, Ātma, Paśupata, Parabrahmana, Tripurātāpini, Devì, Bhāvanā, Brahma, Gaśapati, Mahāvākya, Gopālatāpini, Kāśśa, Hayagrìva, Dattātreya, dan Gārudā dan jumlahnya 31 buah.
Kitab Upaniśad amat sulit dipelajari oleh masyarakat umum. Kemudian muncullah kitab-kitab Sùtra yaitu uraian prosa yang disusun dengan singkat serta dengan kalimat-kalimat pendek dengan maksud supaya mudah diingat. Kitab-kitab Sùtra inilah yang menjadi sumber daripada sistim filsafat India. Misalnya : Darśana seperti Nyāyā Sùtra, Vaiśeśika Sùtra, Saýkhya Sùtra, Yoga Sùtra, Mimāmsā Sùtra (Pùrvamimāýsā, Uttarmimāýsā) Vedānta Sùtra (Astika ) dan Budha, Jaina , Carvāka ( Nāstika ), Tantra, Brahma Sùtra, dan lain – lain. Kitab – kitab Sùtra tersebut jika dipandang dari segi sistimatika Veda menurut Maha Āśi Manu maka dikelompokkan kedalam jenis Nibandha.
Nibandha adalah kelompok kitab yang isinya memberi pandangan tersendiri baik yang sependapat maupun bertentangan dengan alasan-alasan yang meyakinkan tentang kebenaran ajaran yang diketengahkan. Jenis kitab Nibandha ini merupakan hasil karya ilmiah dari tokoh-tokoh agama Hindu. Karya mereka langsung membahas berbagai persoalan menurut bidang ilmu yang tersebar didalam Veda.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya setelah kitab Veda yaitu dari bagian Upanisad dan kitab-kitab Nibandha atau Sùtra itu dalam bahasa Sanskerta maka lahir pulalah sejumlah naskah-naskah dengan berbahasa Sanskerta Kepulauan (Archipelago Sanskrit) dan bahasa Jawa Kuno yang memuat ajaran Tattwa. Adapun naskah Jawa Kuno yang merupakan sumber dari Tattwa tersebut adalah :
1. Bhuwana Kośa
2. Wāhaspati Tattwa
3. Tattwa Jñāna
4. Ganapati Tattwa
5. Jñāna Siddhānta
6. Sang Hyang Mahājñāna
7. Bhuwana Sangkśepa
8. Pamatëlu Bhatara
9. Śiwa Tattwa Purāśa
10. dan lain-lain.
Berdasarkan uraian diatas bahwa Veda Śruti adalah sumber utama, kemudian kitab Śmāti seperti Vedānga , Upaveda, Upaòga, Nibandha, Kitab Āgama sebagai sumber kedua dan akhinya lontar-lontar Tattwa tersebut di atas. Namun patut diingat bahwa lontar-lontar tersebut tidaklah secara mentah menyerap ajaran Veda Śruti mapun Veda Śmāti tersebut namun sudah mengalami suatu seleksi dan penyaringan yang bijaksana disesuaikan dengan alam pikiran dan desa, kala dan patra setempat. Karena luas daerah dan panjangnya waktu yang dilaluinya maka wajahnya dapat berubah, sesuai dengan ruang dan waktu yang di laluinya , namun esensinya tetap esensi Veda. Hal ini memungkinkan untuk lebih mudah memahami dan mempelajarinya.

2.2 Tinjauan Beberapa Sumber Tattwa

2.2.1 Bhuwana Kośa
Bhuwana Kośa adalah lontar tertua yang bersifat Śiwaistis, dan juga lontar yang terpenting di Bali oleh karena konsep-konsep dasar tentang Śiwa Tattwa. (hakekat Śiwa), terdapat di dalam lontar ini yang kemudian mengalir dan berkembang ke dalam lontar-lontar Śiwaistis lainnya, seperti Wāhaspati Tattwa, Gaśapatai Tattwa, Tattwa Jñāna, Bhuwana sangkśepa, Sang Hyang Mahā Jñāna, Jñāna Siddhānta dan lain-lain.
Bhuwana Kośa termasuk jenis Tutur dan keadaan śloka Sanskertanya cukup bagus dan dan jumlahnyapun cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari terjemahaannya atau komentarnya dalam bahasa Jawa Kuna. Bhuwana Kośa adalah teks tertua yang masih ada sebagai pedoman para Pendeta penganut ajaran Śiwa-Siddhānta. Śiwa Siddhānta di sini adalah merupakan bentuk baru dari Śaiwa – Paksa yang dalam kurun waktu tertentu menerima atau menyerap unsur-unsur dari sekta-sekta lain yang pernah berkembang di Bali. Sehingga antara Śiwa Siddhānta yang ada di Bali dengan Śiwa Siddhānta yang ada di India adalah berbeda. Bhuwana Kośa merupakan lontar tertua tentang Śiwa Tattwa di Bali maka ini berarti bahwa ide atau konsep tentang hakekat Bhatara Śiwa itu adalah bersumber dari lontar Bhuwana Kośa. Dengan kata lain Lontar Bhuwana Kośa adalah merupakan babon (induk) dari lontar-lontar Siwaistis yang ada di Indonesia.
Menurut Mardiwarsito (1987;147) secara leksikal Bhuwana Kośa berarti perbendaharaan atau khazanah dunia. (the treasure of the world). Namun dalam hubungannya lukisan ini kata Bhuwana Kośa adalah nama salah satu lontar yang tergolong “Tutur”, sebagai babon (induk) dari lontar-lontar Siwaistis yang terdapat di Bali.
Susunan dan isi pokok dari Lontar Bhuwana Kośa adalah sebagai berikut : Lontar Bhuwana Kośa terdiri atas 11 (sebelas) bab yang disebut dengan Patalaá dengan jumlah śloka 487 śloka. Tiap Patalaá panjangnya tidak sama antara Patalaá yang satu dengan yang lainnya. Seriap Patalaá mempunyai judul tersendiri. Susunan Patalaánya berurutan mulai dari Prathama Patalaá. Kecuali bab VI, VII dan VIII yang seharusnya merupakan Saśþhah- Patalaá, Saptamah – Patalaá, dan Astamah – Patalaá, kembali menggunakan istilah Prathama – Patalaá, Dwitya – Patalaá dan Tritiya – Patalaá.
Selanjutnya setelah itu adalah Nawami – Patalaá dan Tritya – Patalaá. Sedangkan bab XI hanya berisi nama judul dengan tidak mencantumkan nama urutan Patalaá-nya. Sehingga Bhuwana Kośa itu seakan-akan hanya terdiri atas 10(sepuluh) bab (Patalaá). Jadi tepatnya harus dikatakan bahwa Lontar Bhuwana Kośaterdiri dari 10 Patalaá lebih atau 11 bab, karena bab XI tidak disebutkan sebagai Ekadaśamah – Patalaá.
Adapun isi dari Lontar Bhuwana Kośa dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Bagian Brahma-Rahasyam, terdiri dari 5 (lima) bab(Patalaá) mulai dari Patalaá I sampai V. Bagian ini berisi percakapan antara Śrìmuni Bhargawa dengan Bhathāra Śiwa mengenai Śiwa yang bersifat sangat rahasia.
2. Bagian Jñāna Rahasyam terdiri atas 6 (enam) bab(Patalaá), yaitu mulai dari Patalaá VI sampai bab XI. Bagian ini berisi percakapan antara Bhathāra Śiwa dengan Bhaþārì Umā dan Sang Kumāra mengenai pengetahuan untuk memahami Śiwa yang bersifat sangat rahasia.
Adapun ajaran Śiwa Tattwa dalam Bhuwana Kośa dapat dijelasakan sebagai berikut: Sang Hyang Widhi dalam Bhuwana Kośa disebut dengan Bhathāra Śiwa. Beliau adalah Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, berada di mana-mana dan lain sebagainya. Bhathāra Śiwa adalah tak terbatas, namun digambarkan secara terbatas, karena itu Ia sering disebut dengan banyak nama yang berbeda – beda, seperti : Brahma, Wiśśu, Ìśwara, Rudra sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Bhathāra Śiwa bersifat immanen dan trancendent. Immanen artinya meresapi segalanya termasuk pada pikiran dan indria, hadir pada segala tempat, tiada tempat tanpa Beliau.(sira wyāpaka). Trancendent artinya Ia meliputi segala tetapi ia berada di luar batas pikiran dan indria. Meskipun Ia bersifat immanen dan trancendent pada semua makhluk , tetapi Ia tidak dapat dilihat dengan kasat mata, karena bersifat sangat rahasia.
Bhathāra Śiwa adalah asal dari semua yang ada ini (sankeng Bhathāra Śiwasangkanya). Alam semesta (Bhuwana Agung) dengan segala isinya dan manusia (Bhuwana Alit) adalah ciptaanNya juga. Semua ciptaanNya itu merupakam wujud māyāNya yang bersifat tidak kekalkarena dapat mengalami kehancuran. Pada saat mengalami kehancuran semua ciptaanNya kembali kepada Bhathāra Śiwa. Karena Bhathāra Śiwa adalah asal dan tujuan semua yang ada ini (mijil sakeng sira lina ri sira muwah).

2.2.2 Wāhaspati Tattwa
Wāhaspati Tattwa terdiri atas 74 pasal menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuna. Bahasa Sanskertanya disusun dalam bentuk śloka dan diterjemahkan atau dijelaskan dengan bahasa Jawa Kuna dalam bentuk prosa (gancaran). Wāhaspati Tattwa berisi dialog antara seorang guru spiritual yaitu Sang Hyang Ìśwara dengan Bhagawān Wāhaspati. Sang Hyang Ìśwara, bersthana di puncak gunung Kailasa yaitu nama sebuah puncak gunung Hiamayala yang dianggap suci. Sedangkan Bhagawān Wāhaspati adalah orang suci yang merupakan guru dunia (guru loka) yang berada di Sorga. Wāhaspati Tattwa didalam menyajikan ajarannya menggunakan metode yang dirangkum dalam suatu mitologi.
Adapun dialog antara Sang Hyang Ìśwara dengan Bhagawān Wāhaspati dalam Wāhaspati Tattwa dalam Mitologi adalah sebagai berikut :
Tersebutlah seorang Rsi dari Sorga yang bernama Bhagawān Wāhaspati menghadap pada paduka Sang Hyang Ìśwara di puncak gunung Kailasa, guna mohon restu pendidikan dan tuntunan rohani. Diceritakan kemudian terjadi suatu percakapan atau tanya jawab atau diskusi. Diskusi tersebut dilakukan oleh Sang Hyang Ìśwara sebagai seorang guru dengan Bhagawān Wāhaspati sebagai seorang murid Nya .
Adapun isi diskusi antara Sang Hyang Ìśwara dengan Bhagawān Wāhaspati secara garis besarnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ada dua unsur kenyataan yang tertinggi yang disebut dengan Cetana dan Acetana. Cetana adalah unsur kesadaran. Acetana adalah unsur tanpa kesadaran. Kedua unsur ini adalah bersifat sangat halus dan memjadi sumber segala yang ada di dunia ini.
Cetana atau unsur kesadaran ada tiga tingkatan jenisnya yaitu Parama ŚiwaTattwa, Sadā Śiwa Tattwa dan Śiwātma Tattwa. Ketiga tingkatan kesadaran itu tidak lain adalah Sang Hyang Widhi sendiri yang telah berbeda tingkat kesadaranNya. Parama Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat memiliki tingkat kesadaran tertinggi (neti-neti). Sadā Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat memiliki tingkat kesadaran menengah atau sedang (iti-iti). Śiwātma adalah Sang Hyang Widhi pada saat memiliki tingkat kesadaran terendah. Tinggi rendah tingkat kesadaran yang dimiliki oleh Sang Hyang Widhi itu, tergantung pada kuat tidaknya pengaruh māyā, yang mempengaruhi pada masing-masing tingkatannya. Parama Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat bebas dari pengaruh māyā, Beliau masih suci murni atau tanpa sifat (nirguna).Karena itu Ia disebut dengan Nirguna Brahman. Sadā Śiwa adalah Sang Hyang Widhi pada saat telah mendapat pengaruh māyā, sehingga Beliau bersifat Maha Kuasa, Maha Tahu dan berada di mana-mana. Śiwātma adalah Sang Hyang Widhi pada saat mendapat pengaruh māyā yang paling kuat, sehingga Beliau menjadi Avidya, menjadi Jiwa dari makhluk disebut Jiwātma dan mengalami kelahiran serta samsara.
Untuk mengakhiri samsara itu Wāhaspati Tattwa menganjurkan untuk melaksanakan dan memepelajari segala Tattwa (Jñānabhyudreka), tidak tenggelam dalam kesenangan hawa nafsu (Indriyāyogamārga) dan tidak terikat pada pahala baik dan buruk (Tāśśadośkśaya).
Pelajaran itu digubah secara mitologis adalah hanya merupakan suatu metode pendidikan saja. Ajaran filsafat yang tinggi seperti ini memang sukar akan ditangkap dan dipahami dengan cepat secara langsung oleh pikiran dan perasaan biasa. Justru karena itu, maka diperlukan suatu metode, agar mudahnya ajaran tersebut dapat dimengerti.
Demikian pula metode diskusi inipun merupakan suatu metode pendidikan juga. Setiap pelajaran yang diperoleh secara berdiskusi, hasilnya akan lebih memuaskan jika dibandingkan dengan pelajaran yang didapatkan secara pasip. Karena diskusi ini adalah suatu mtode belajaran yang positip, sebab disamping secara langsung dan aktip dapat mengolah pikiran sendiri, juga dapat memperoleh imbangan dan tuntunan logika serta pengetahuan rational dari orang lain, sehingga hasilnya lebih sempurna dan lebih lama melekat dalam ingatan. Jadi metode itu sangat penting, karena metode itu sendiri juga menentukan berhasil tidaknya suatu ajaran.

2.2.3 Tattwa Jñāna
Dari sejumlah naskah Jawa Kuno yang menguraikan ajaran Tattwa di atas maka Wāhaspati Tattwa dan Tattwa Jñāna merupakan Lontar yang isinya dapat dipandang paling sistematis dan mudah dipahami. Lontar Tattwa Jñāna menggunakan bahasa Jawa kuna dalam bentuk prosa (gancaran). Sebagai sumber Tattwa disebutkan bahwa Tattwa Jñāna merupakan dasar semua Tattwa (bungkahing tattwa kabeh).
Tattwajñāna dan Wāharspati Tattwa adalah naskah Jawa Kuno yang menguraikan ajaran Tattwa (kebenaran). Kedua naskah tersebut pada prinsipnya mengandung ajaran yang sama. Sama-sama bersifat Śiwaistis. Sama-sama bersifat dualitis yang theistis, yaitu mengajarkan ada dua unsur yaitu Cetana dana Acetana ditambah unsur theistisnya yaitu Śiwa. Sehingga mirip dengan ajaran filsafat Saýkhya Yoga dalam sistim filsafat India.
Perbedaan terletak pada sistim dan metode penyajiannya dan perbedaan pada beberapa istilah dalam materi ajarannya. Kalau Wāhaspati Tattwa menyajikan ajaran dengan metode dialog atau percakapan tanya jawab atau diskusi sedangkan Tattwajñāna dengan metode penyajian materi secara doktrin.
Wāhaspati Tattwa terdiri dari dua bahasa yaitu Śloka Sanskerta yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno, akan tetapi Tattwajñāna disusun dalam bentuk prosa Jawa Kuno tanpa Śloka Sanskerta.
Beberapa perbedaan istilah dari kedua naskah tersebut misalnya: Śiwātma Tattwa dalam Wāhaspati Tattwa disebut Ātmika Tattwa dalam Tattwajñāna. Dura Sarwajñāna dalam Wāhaspati Tattwa disebut Durātmaka dalam Tattwajñāna. Disamping itu terdapat juga perbedaan materi yang tidak tersebut dalam Wāhaspati Tattwa tapi dalam Tattwa Jñāna itu ada seperti ajaran Caturdhyana yang terdiri dari : tistan, bhojan, gacchan, suptan.
Pemahaman Tattwa Jñāna secara baik akan memberikan pahala yang luar biasa seperti memahami betapa menderitanya menjelma menjadi manusia dan mengetahui jalan untuk kembali kepada asal mula, sehingga lepas dari proses kelahiran sebagai manusia (luputeng janma sangsara)
Tattwa Jñāna dalam menjelaskan ajarannya dimulai dengan memaparkan dua unsur yang universal yang ada dan menjadi penyebab di alam raya ini, yaitu Cetana dan Acetana. Cetana adalah unsur kesadaran (consciousness) yang disebut dengan Śiwa Tattwa yang memiliki sifat “tutur prakasa”. Sedangkan Acetana adalah unsur tanpa kesadaran (unconsciousness) yang disebut dengan Māyā Tattwa, yang memiliki sifat lupa,tan pajñāna, tanpacetana.
Cetana atau Śiwa Tattwa memiliki tiga tingkatan yaitu Prama Śiwa Tattwa, Sadā Śiwa Tattwa dan Ātmika Tattwa, (yang dalam Wāhaspati Tattwa disebut dengan Śiwātma Tattwa).
Prama Śiwa Tattwa, adalah Bhathāra Śiwa dalam keadaan tanpa bentuk (kasthityam Bhathāra ring niskala), yang tidak tersentuh oleh apapun jua.
Sadā Śiwa Tattwa, adalah Bhathāra Śiwa yang sudah mulai tersentuh oleh sarwajñā, sarwakaryakarta,caduŚakti dan jñāna Śakti . Ia disebut Bhathāra Adipramāna, Bhathāra Jagatnatha, Bhathāra Karāśa, Bhathāra Parameśwara, Bhathāra Guru, Bhathāra Mahuln, Bhathāra Waśawaśitwa. Ia berkuasa untuk mengadakan dan meniadakan, tetapi Ia sendiri tidak diciptakan.
Ātmika Tattwa, (Śiwātma Tattwa) adalah Sadā Śiwa Tattwa yang “uta prota” dalam Māyā Tattwa atau Acetana. Uta artinya Ia berada secara gaib dalam Māyā Tattwa, bagaikan api yang berada dalam kayu kering. Prota artinya Ia berkeadaan bagaikan permata bening cemerlang dalam Māyā Tattwa. Tetapi karena dibungkus oleh Māyā Tattwa maka sifat sarwajñā, sarwakaryakarta, caduŚakti dan jñāna Śakti , menjadi hilang. Karena itu disebut Ātmika Tattwa. Disamping itu Tattwa Jñāna juga menjelaskan Tri Guśa dengan perinciannya, yang sangat berpengaruh terhadap sifat manusia. Dan tubuh manusia di bangun oleh intisari zat makanan yang disebut dengan śadrasa dan lain sebagainya.

2.2.4 Ganapati Tattwa
Ganapati Tattwa adalah salah satu lontar Tattwa, lontar filsafat Śiwa, yang disampaikan dengan methode tanya jawab. Bhathāra Śiwa sebagai maha guru memberikan pelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan rohani yang bersifat abstrak dan rahasia. Bhathāra Ganapati yang disebut pula Sang Hyang Gaśapati atau Ganadipa adalah putra Bhathāra Śiwa adalah berperan sebagai penanya yang sangat cerdas, ingin mengetahui ajaran tentang kebenaran sumber ciptaan yang ada serta proses kembalinya kepada sumber asalnya. Dan Bhathāra Śiwa adalah juga Bhathāra Maheśwara, sebagai maha guru yang menjabarkan ajaran Rahasya Jñānā, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya, terutama tentang hakekat manusia misalnya: dari mana ia dilahirkan, untuk apa ia lahir, ke mana ia akan kembali dan bagaimana caranya agar bisa mencapai alam kelepasan atau mokśa.
Lontar Gaśapati Tattwa ditulis di dalam 37 lembar daun tal (lontar), disusun dalan 64 bait śloka dengan canda Anustubh Sanskerta, dan disertai dengan ulasan bahasa Jawa Kuna. Penjelasan masing-masing śloka Sanskerta itu, ada yang cukup singkat ada pula yang panjang, terutama pada śloka permulaan.
Adapun isi ringkas Gaśapati Tattwa adalah sebagai berikut : Oýkara adalah sabda śunya, nada Brahman, asal mula dari mana Pañca Daiwātmā (Brahma, Wiśśu, Ìśwara, Rudra dan Sang Hyang Sadā Śiwa)dilahirkan. Dan Pañca Daiwātmā adalah sumber dari mana Pañca Tan Matra diciptakan. Pañca tan Matra meliputi : ganda;unsur bau, rasa ; unsur rasa atau kenikmatan, rupa ; unsur bentuk, sparsa ; unsur rabaan atau sentuhan, dan sabda ; unsur suara . Itu adalah sumber dari Pañca Mahā Bhuta yaitu : akāśa ; ether, bayu ; angin, teja ; sinar, apah ; zat cair; dan perthiwi ; zat padat. Dari Pañca Mahā Bhuta inilah alam semesta beserta isinya diciptakan, dan Sang Hyang Śiwātma menjadi sumber hidup yang menggerakannya segala ciptaanNya.
Gaśapati Tattwa juga mengajarkan Yoga yaitu Sadangga Yoga yang meliputi : Pratyahārayoga, Dhyānatoga, Pranayāmayoga, Dharanayoga, Tarkkayoga dan Semadhiyoga. Sadangga Yoga adalah merupakan jalan spiritual untuk mencapai kelepasan atau mokśa. Padma Hati sebagai Śiwalingga dimana Beliau harus direnungkan. Hanya ia yang bijaksana berhati suci dan penuh keyakinan yang dapat mengetahui Beliau. Beliau hendaknya setiap saat dipuja dengan sarana Sang Hyang Caturdaśākśara.
Selanjutnya Ganapati Tattwa juga menerangkan anggapan orang yang bodoh dan sombong tentang ātma, dan menjelaskan sthana Bhathāra Wisnu, Brahma, dan Siwa pada badan jasmani. Sang Hyang Bheda Jñāna adalah ajaran Rahasia tentang manusia. Yang berhak menerima ajaran Rahasia ini adalah ia yang sungguh-sungguh melaksanakan Dharma.
Pada bagian selanjutnya dari Ganapati Tattwa juga menjelaskan tentang kelepasan atau mokśa. Ada tiga perilaku orang yang mengutamakan kebebasan dan pengetahuan yang suci adalah sarana untuk mencapai penyatuan diri dengan Sang Roh Yang Agung. Selanjutnya menjelaskan tentang penglukatan Sang Hyang Ganapati dan Sarana Upakara yang diperlukan, mantra yang mesti dipergunakan dan kegunaan penglukatan tersebut. Pada bagian yang terakhir Ganapati Tattwa adalah memuat mantra yang ditujukan kepada Sang Hyang Gaśapati dan Saraswati. Demikianlah ringkasan isi dari Ganapati Tattwa.

2.2.5 Jñāna Siddhānta
Lontar Jñāna Siddhānta terdiri dari 27 bab dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sanskerta dan dijelaskan dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Kuna.
Jñāna Siddhānta sebagai salah satu sumber ajaran Tattwa pada intinya mengandung ajaran tentang kelepasan atau mokśa yaitu menyatunya ātma dengan sumbernya. Untuk memperoleh kelepasan seseorang dapat melaksanakan yoga melalui enam tahapan (Sadanggayoga). Keenam tahapan itu adalah : Pratyāhārayoga, Dhyānatoga, Prānayāmayoga, Dhāranayoga, Tarkkayoga dan Samādhiyoga.
Sang Hyang Widhi dalam Jñāna Siddhānta disebut Bhathāra Śiwa. Deliau adalah Maha Esa (sa eko, ekatva).Ia merupakan kekuasaan tertinggi. Bhathāra Śiwa Yang Esa sering dipandang lebih dari satu (aneka), karena bercirikan empat yaitu yaitu : Sthùla, Sùkśma, Para dan Śùnya. Sthùla artinya beliau dibayangkan tampat dalam śabda māyā, śabda māyā artinya dituturkan dalam bentuk mantra. Sùkśma artinya beliau dibayangkan terjelma dalam citta māyā, citta māyā adalah isi dari pikiran yang terwujud dalam pengetahuan. Para artinya Beliau dibayangkan terjelma dalam citta -wirahita, citta-wirahita artinya ditinggalkan oleh akal budhi. Śùnya artinya beliau dipandang sebagai citta-rahitantya, citta-rahitantya artinya tidak memiliki ciri-ciri apapun. Bhathāra Śiwa adalah sumber utama dari semua yang ada termasuk Dewa-Dewa dan manusia. Bhathāra Śiwa menciptakan tubuh manusia sebagai sebuah misteri yang sulit dipahami. Tubuh manusia dikatakan sebagai tiruan dari dunia yang besar (Bhuawana agung) karena itu disebut dengan Bhuwana Alit, yang juga ditempati oleh Dewa-Dewa.Tubuh manusia dilukiskan sebagai lambang Omkara atau Pranawa. Demikianlah sedikit tinjauan tentang isi Jñāna Siddhānta.

2.2.6 Sang Hyang Mahājñāna
Sang Hyang Mahājñāna terdiri dari 87 pasal dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Sanskerta dalam bentuk śloka dan diterjemakan atau dijelaskan dengan bahasa Jawa Kuna.
Sang Hyang Mahājñāna mengandung ajaran yang bersifat Śiwaistik yang pada intinya mengajarkan mengenai cara untuk mencapai kelepasan, bersatu dengan Sang Pencipta yaitu Bhathāra Śiwa. Ajaran Sang Hyang Mahājñāna disampaikan dalam bentuk dialog, tanya jawab, antara Bhathāra Guru sebagai guru rohani dengan Sang Hyang Kumara sebagai siswa, mengenai hakekat tertinggi tentang Bhathāra Śiwa.
Sang Hyang Mahājñāna mengungkap rahasia diri manusia dalam hubungannya dengan Dewa-Dewa dan alam semesta. Di mana hal tersebut mutlak harus diketahui bila seseorang menginginkan kelepasan. sepuluh indriya (Daśendriya) yang ada dalam diri manusia bersifat tidur, tidak ada gerak, diam. Sedangkan lima unsur tenaga hidup (Pañcawāyu) dan teja memiliki sifat jaga, penuh dengan gerak.
Alam Paramakewalya yang merupakan sthana Parama Śiwa adalah merupakan tujuan setiap orang yang menginginkan kelepasan dan kebebasan dari proses tumimbal lahir (māyā kajanma sangsara) setelah mengalami kematian. Karena ia adalah inti dari kelepasan.

2.2.7 Bhuwana Sangkśepa
Bhuwana Sangkśepa adalah salah satu lontar penting yang memuat ajaran Śiwa Tattwa, yang disajikan dalam bentuk dialog antara Bhaþārā Śiwa (Ìśwara) dengan Bhaþārì Uma istriNya dan Bhaþārā Kumara putraNya.
Lontar Bhuwana Sangkśepa terdiri dari 128 Śloka Sanskerta dengan terjemahan ke dalam bahasa Jawa Kua, namun tidak seluruh Śloka ada terjemahannya ke dalam bahasa Jawa Kuna.
Adapun inti dari pada isi Lontar Bhuwana Sangkśepa adalah mengenai cara untuk mencapai Kelepasan dengan melaksanakan ajaran Yoga .
Bagian pertama dari lontar Bhuwana Sangkśepa adalah menjelaskan tentang proses penjadian, sebagai berikut : ketika tidak ada apa-apa, air, tanah, cahaya, angin, bulan, matahari, angkasa, bintang-bintang pun juga tak ada. Yang ada ketika itu hanyalah “ Śùnya “ belaka yang bersifat kekal abadi (langgeng). Kemudian dari “Śùnya “ atau disebut juga “Niśkala” secara berurut lahirlah matra  nadānta  nada windu  ardhacandra  triyākśara Pañca  Brahma- Pañcākśara Sarwākśara  Swara dan Wyañjana yang merupakan tubuh para dewa, seperti dewa Ìśwara  di Timur, Maheśora  di Tenggara, Brahma  di Selatan, Rudra  di Barat Daya, Mahādewa  di Barat, Śangkara  di Barat Laut, Wiśśu  di Utara, Śambhu  di Timur Laut, Śiwātma  di Bawah, Śadāśiwa  di Tengah, Paramaśiwa  di Atas dan sebagainya, serta wujud dari masing-masing dewa tersebut. Pemahaman akan dewa-dewa tersebut merupakan dasar untuk melaksanakan Smarana. Lontar Bhuwana Sangkśepa menjelaskan pula mengenai tata cara sang Yogiśwara melaksanakan Yoga.
Lontar Bhuwana Sangkśepa juga menguraikan mengenai kwalitas dari Pañcākśara, Triyākśara, yang pada akhirnya yang paling utama adalah Ongkara yang merupakan sarana untuk mencapai Kelepasan. Lontar Bhuwana Sangkśepa menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini sifatnya tidak kekal yang pada akhirnya lenyap menjadi Ākāśa.
Secara berturut-turut dijelaskan bahwa Bhaþārā Kāma lenyap menjadi  Wiśwa. Bhaþārā Wiswa lenyap menjadi  Krodha. Bhaþārā Krodha lenyap menjadi  Mātyu. Bhaþārā Mātyu lenyap menjadi  Kāla. Bhaþārā Kāla lenyap menjadi  Dharma. Bhaþārā Dharma lenyap menjadi  Santhya. Bhaþārā Santhya lenyap menjadi  Paśupati. Bhaþārā Paśupati lenyap menjadi  Brahma. Bhaþārā Brahma lenyap menjadi  Wiśśu. Bhaþārā Wiśśu lenyap menjadi  Rudra. Bhaþārā Rudra lenyap menjadi  Mahādewa. Bhaþārā Mahādewa lenyap menjadi  Puruśa. Bhatara Puruśa lenyap menjadi  Śiwa. Bhaþārā Śiwa lenyap menjadi  Nirbhana. Nirbhana lenyap menjadi  Niraśraya.
Itulah Jalan menuju Nirbhana. Yang disebut Nirbhana itu tempatnya tidak jauh namun juga tidak dekat. Tidak di luar namun juga tidak di dalam, tidak di atas tapi juga tidak di bawah. Ia ada di mana-mana. Wujudnya adalah sepinya dari yang paling sepi, gaibnya dari yang paling gaib, amat mulia. Untuk itu orang patut melaksanakan Yoga Nidra serta mampu melepaskan pikiran dari obyeknya.
Pada bagian belakang dari Lontar Bhuwana Sangkśepa menguraikan tentang Saptaloka, Saptapātāla, Sapta Samudra, Saptatirtha, Saptadwìpa, yang terdapat dalam tubuh manusia, beserta nama dewa-sewanya. Lontar Bhuwana Sangkśepa juga menguraikan Pañcawāyu, yaitu : Prāśa, Apāna, Wyāna, Sāmana dan Udana. Pada bagian akhirnya menguraikan mengenai dewa-dewa Nawasanga dengan senjatanya masing-masing.

2.2.8 Pamatëlu Bhathāra
Lontar Pamatëlu Bhathāra adalah salah satu dari sekian banyak lontar Tattwa yang ada di Bali. Lontar ini berisi ajaran yang bersifat Śiwaisti. Ada kecendrungan lontar ini ditulis di Bali dengan menggunakan teks-teks Tattwa yang lebih tua sebagai sumbernya, seperti umpamanya Wāhaspati Tattwa. Karena apa yang diuraikan dalam Pamatëlu Bhathāra ada dalam Wāhaspati Tattwa, tetapi uarainnya sangat singkat. Berdasarkan hal tersebut dapat diasumsikan bahwa Pamatëlu Bhathāra adalah naskah “cantungan” artinya naskah itu dibuat dengan mengambil dari sumbernya sesuai dengan kepentingan penulisnya.
Pamatëlu Bhathāra adalah pembagian Sang Hyang Widhi atau Tuhan atas tiga yaitu Śiwa, Sadā Śiwa dan Parama Śiwa. Pembagian ini didasarkan atas kadar pengaruh māyā yang terdapat pada sifat-sifat Sang Hyang Widhi atau Tuhan.
Parama Śiwa tidak memiliki substansi sehingga sulit untuk dapat dibayangkan apalagi dapat dilihat karena, Ia adalah perwujudan Sepi Śunya yang tertinggi (śunya taya paramārtha), Tanpa aktivitas, acintya, tak dapat dipikirkan. Pada tingkatan Śadā Śiwa pengaruh māyā sudah mulai tampak. Karena tarikan pengaruh māyā Tuhan mulai aktif mencipta semua yang ada baik yang bersifat nyata maupun yang bersifat tidak nyata. Pada tingkatan Śiwa pengaruh māyā sudah kuat sekali mengikat, ia memiliki banyak substansi, memenuhi makrokosmos, mikrokosmos dan semua makhluk dengan baik, tanpa ada yang kurang yang dikenal dengan sebutan ātman atau jiwātman.
Śiwa, Sadā Śiwa dan Parama Śiwa dianggap tiga adanya namun sesungguhnya Ia adalah satu yaitu unsur kesadaran atau roh. Hal ini diumpamakan sebagai cahaya matahari di Timur sebelum terbit, cahaya matahari diatas sana dan bayangan matahari dalam tempayan. Seolah-olah ada tiga matahari yaitu sebelum terbit, setelah terbit dan dalam tempayan.
Menurut Pamatëlu Bhathāra ketika badan ini diciptakan sebagai benih kehidupan pertama pada saat itu pula sudah berisi unsur roh, karena kehalusan māyā sama dengan kehalusan sifat-sifat Tuhan. Karena itu māyā selalu menyertai sifat-sifat Tuhan sebagai umpama tempayan yang berisi air dengan matahari, bayangan burung Kuntul, bayangan bintang beralih, asap lampu ketika padam dan sebagainya.
Kemudian roh dan badan terus berkembang mengikuti hukum Utpetti (lahi), Sthiti (mengada) dan Pralina (meniada) melalui tiga wujud kuasa Tuhan yaitu Brahma, Wisnu dan Rudra yang disebut Bhatara Tri Purusa.
Pada saat terjadi penyatuan roh dengan badan telah disertai dengan setia oleh tri guśa, sadwarga, trimala, śubha-aśubha karma, yang menyebabkan adanya tiga tingkatan ātma yaitu ātma rendah , ātma menengah dan ātma utama. Ātma-ātma yang ada pada tingkatan ini masih mengalami proses kelahiran (reinkarnasi). Hal ini terjadi karena pada saat ātma berpisah dari Pañca Mahā Bhuta akan masuk ke wilayah Pañca Tan Mātra yang merupakan wilayah antara ada dan tidak ada. Ātma yang ada di sini akan mudah berinkarnasi karena ditarik oleh śubha aśubha karma pada saat purwa janma. Sedangkan ātma yang bebas dari tingkatan itu akan mencapai kelepasan atau moksa, menyatu dengan Parama Śiwa.
Kegagalan seseorang mencapai kelepasan(moksa) disebabkan oleh adanya perasaan-perasaan seperti tdak mau berpisah, rasa cinta dan sebagainya yang merupakan noda-noda bagi ātma. Perasaan-perasaan seperti itu hendaknya dibakar habis dengan api ilmu pengetahuan, sehingga ātma betul-betul bersih dari noda yang merupakan kunci untuk mencapai kelepasan.
Kelepasan (moksa) adalah suatu keadaan lenyapnya semua selubung ātma tanpa bekas yang tinggal adalah yang utama (menyatu pada Parama Śiwa). Badan kasar semua makhluk berasal dari tidak ada karena itu akan kembali pada tidak ada. Dalam teks kelepasan itu diumpamakan tempayan, air, api, mahahari, dan laut. Badan diumpamakan sebagai tempayan. Air adalah pradhana, Pikiran adalah api, Laut adalah kemoksan. Matahari adalah Parama Siwa (sedangkan ātma adalah bayangannya matahari). Bilamana tempayan di bakar dengan api kristal matahari, lama-kelamaan tempayan akan terbakar habis dan airnyapun akan lenyap. Demikian pula bayangan matahari itupun tidak ada. Apabila abu tempayan dibuang ke laut, abu itu akan tidak tampak, dan bayangan matahari pun tidak ada tampa bekas. Kemana ? Karena bayangan itu lenyap bersama lenyapnya tempayan dengan air itu. Demikian pula dengan ātma akan lenyap bersama-sama dengan lenyapnya jasad. Itulah kelepasan atau mokśa.(Sura,tt;137-138).

2.2.9 Śiwa Tattwa Purāna
Śiwa Tattwa Purāna adalah salah satu dari sekian banyak lontar yang mengandung ajaran Śiwaisti. Śiwa (Sanghyang Jagatpati), mengajarkan Acara Agama kepada putra-putraNya. Ajaran ini diuraikan dengan metode dialog dan juga ceramah.
Lontar Śiwa Tattwa Purāśa, yaitu hanya terdiri dari 20 lembar lontar. Jika ditinjau dari segi bahasa dan latar belakang budaya yang melatarinya, teks lontar Śiwa Tattwa Purāśa rupa-rupanya ditulis pada jaman Bali Tengahan. Dapat dikatakan sebagai teks minor yang isinya bersumber dari beberapa teks yang lebih tua. Bahasa Kawi yang dipergunakan sebagai media, banyak menyerap istilah budaya dan kosa kata bahasa Bali Tengahan. Mengenai struktur bahasanya kurang terpelihara. Struktur sosial masyarakat Bali Tradisional sangat dominan menentukan perbedaan sistem pelaksanaan upacara yang diajarkan. Lontar Śiwa Tattwa Purāśa pada intinya menguraikan tentang perbedaan sarana upacara Ngaben dari masing-masing keturunan seperti Brahmana, Kesatria, Wesia dan Sudra.
Adapun isi inti dari Lontar Śiwa Tattwa Purāśa adalah sebagai berikut : Di Śiwaloka pada bulan Kartika, Sang Hyang Jagatpati mengadakan pertemuan dengan putra-putraNya, yaitu Sanghyang Brahma, Wiśśu, Ìśwara, Mahesora, Śangkara, Rudra, Indra, Yama, Sùrya, Gaśapati dan lain-lainnya. Pada kesempatan itu Sanghyang Jagatpati mengajukan pertanyaan kepada putra-putraNya. Śabda Sanghyang Jagatpati : “Apakah yang akan kau lakukan sehandainya aku meninggalkan badan wadag-Ku ini. Demikian pula jika aku meninggal sebagai seorang Brahmana, Kesatria, Wesia dan Sudra “ Demikianlah pertanyaanNya Sang Hyang Jagatpati.
Menanggapi pertanyaan itu, dengan penuh rasa bhakti, maka putra-putranya menguraikan tentang Pitra Yajña dari tingkatan nista, madia dan utama. Upacara ini diantaranya diterangkan adalah : Ngaben,Nyekah, Mamukur, Maligia dan Angluer.
Setelah putra-putraNya menguraikan hal tersebut di atas, Sang Hyang Jagatpati kemudian mengajarkan dan menitahkan tentang : Manusa Yajña mulai dari upacara Magedong-gedonagn, Miyakśih, Macolongan, Mapetik, Otonan, Matatah, Pawiwahan, Madudus Agung dan Mapodgala. Kemudian Sang Hyang Jagatpati mengajarkan Upacara Bhùta yajña yaitu mulai dari : Macaru, sabuhrah, Tawur Eka Daśa Rudra, Otonan untuk senjata, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Mengenai Dewa Yajña Sang Hyang Jagatpati mengajarkan tentang Galungan dan Kuningan, Ngusaba Desa, Pagerwesi, Suguhan dan Nyepi. Disamping itu lontar Śiwa Tattwa Purāśa juga menguraikan tentang Wariga yaitu Tri Wara, Pañca Wara, Sapta Wara, Pangelong dan Pananggal, Sasih dan Wuku. Demikianlah isi ringkas dari Lontar Śiwa Tattwa Purāśa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s