Sad Darsana (Filsafat Hindu)

FILSAFAT MIMAMSA
1. Pengertian
Secara etimologis, kata mimamsa berarti ‘bertanya’atau penyelidikan. bagian pertama dari filasfat ini disebut Purwa-Mimamsa (Mimamsa), sedangkan bagian kedua disebut Uttara-Mimamsa (Vedanta). Mimamsa dan vedanta juga seringkali dijadikan satu pasangan. Sistem Mimamsa-Vedanta adalah dua bagian dari satu filsafat yang mewakili unsur paling ortodoks dari tradisi Weda. Kedua sistem ini menjelaskan perkembangan, tujuan, serta ruang lingkup teks Weda.
Filsafat Mimamsa yang akan dibahas adalah Purwa Mimamsa, yang umum disebut dengan Mimamsa saja. Kata Mimamsa, berarti penyelidikan yang sistematis terhadap Veda. Purwa Mimamsa secara khusus mengkaji bagian Veda, yakni kitab-kitab Brahmana dan Kalpasutra, sedang bagian yang lain (Aranyaka dan Upanisad) dibahas oleh uttara Mimamsa yang dikenal pula dengan nama yang populer, yaitu Vedanta. Purwa Mimamsa sering disebut Karma Mimamsa, sedang Uttara Mimamsa disebut juga Jnana Mimamsa.
2. Sejarah Singkat Tentang Mimamsa
Sebagai tokoh aliran Mimamsa ialah Jaimini yang hidup antara abad 3-2 SM dengan ajaran pokok yang diuraikan dalam kitab Mimamsa-Sutra. Dalam jaman kemudian ajaran dalam mimamsa-sutra dikomentari oleh para pengikutnya seperti : Sabaraswamin sekitar abad ke 4 Masehi dan Prabhakarya sekitar tahun 650. Serta yang terakhir oleh Kumarila Bhata sekitar tahun 700. Oleh karena itu dalam perkembangan selanjutnya terjadilah dua aliran dalam Mimamsa yaitu disatu pihak pengikut Prabhakara dan yang lainnya adalah pengikut Kumarila Bhata. Kedua aliran ini tetap berpegang pada pokok ajaran Mimamsa walaupun tujuan mereka masing-masing ada perbedaan.
3. Ajaran Dalam Filsafat Mimamsa
Pokok pembicaraan di dalam Mimamsa ialah peneguhan kewibawaan kitab Weda dan pembuktian bahwa kitab Weda membicarakan upacara-upacara keagamaan. Oleh karena itu Mimamsa juga disebut Karma-Mimamsa. Pada zaman Brahmana sudah dimulai adanya pembicaraan-pembicaraan tentang bermacam-macam hal yang mengenai upacara-upacara keagamaan, dan bahwa hasil dari pembicaraan-pembicaraan itu lalu disusun secara sistematis, yang kemudian menimbulkan kesusateraan yang disebut Kalpa-Sutra. Ajaran Mimamsa dapat disebut pluralistis dan realistis, artinya: Aliran ini menerima adanya kejamakkan jiwa dan pergandaan asas bendani yang menyelami alam semesta ini, serta mengakui bahwa obyek-obyek pengamatan adalah nyata Sendi utama teori pengetahuan Mimamsa adalah pemahaman tentang keabsahan diri pengetahuan. tidak seperti teori pengetahuan lain yang mempertahankan bahwa klaim-klaim pengetahuan diketahui sebagai yang benar ketika mereka berhubungan dengan realitas, atau ketika mereka menuntun orang kepada tindakan yang berhasil, atau ketika mereka berpadu dalam satu sistem yang konsisten. Mimamsa menekankan bahwa kodrat pengetahuan itulah yang memberi kesaksian terhadap dirinya sendiri. Keyakinan kita akan kebenaran klaim yang ditunjuk pengetahuan dari kodratnya muncul sebagi satu sosok pengetahuan itu sendiri. Mengenai alat atau cara untuk mendapatkan pengetahuan Prabhakara mengajarkan lima cara, sedangkan Kumarila Bhata mengajarkan enam cara termasuk yang diajarkan oleh Prabhakara. Keenam cara itu ialah:
1. Pengamatan (Pratyaksa)
2. Penyimpulan (anumata)
3. Kesaksian (Sabda)
4. Perbandingan (Upamana)
5. Persangkaan (Arthapatti)
6. Ketiadaan (Anupalabdi)
Empat bagian diatas sama dengan apa yang diterangkan dalam filsafat Nyaya. Bila keempat cara pertama tidak dapat dipakai untuk mendapatkan pengetahuan (kebenaran) dari suattu peristiwa, maka akanlah dipakailah cara persangkaan. Walaupun disadari bahwa cara ini perlu dibantu dengan cara lain untuk memperoleh cara yang pasti. Bila terlihat seseorang dalam keadaan senyum dan mukanya berseri-seri, maka dapat diduga bahwa orang tersebut mendapat sukses dalam usahanya.
Kemudian Ketidak adaan (Anupalabdhi) termasuk cara yang diajarkan oleh Kumarila Bhata dan tidak termasuk diantara cara dari Prabhakara. Ketidakadaan ini dapat diterangkan dengan suatu contoh, misalnya: bila seseorang masuk dan mengamati sekeliling kamar dan mengatakan tidak ada meja di dalam kamar. Dia tidak melihat meja karena memang tidak ada meja di dalam kamar itu. Jadi orang memiliki pengetahuan dalam hal ini karena ketidakadaan (anupalabdhi) dan ketidakadaan itu memang tidak dapat diamati. Diantara cara-cara tersebut didepan maka Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (sabda) yang paling penting dan utama. Karna kesaksian adalah pengetahuan yang berasal dari kata-kata atau kalimat-kalimat. Namun sebagai satu sarana pengetahuan yang sah, kesaksian menunjuk hanya pada klaim-klam verbal yang berasal dari sumber yang dapat dipercayai dan dimengerti secara benar. Dalam hal ini adalah kesaksian kitab weda. Wedalah kebenaran yang tertinggi dan Weda pula sumber pengetahuan yang sempurna. Tidak seperti beberapa sistem yang lain, Mimamsa tidak percaya akan satu pencipta dunia atau satu pengarang ilahi kitab Weda. Sebaliknya, Weda merupakan perwahyuan langsung dan kekal dari realitas itu sendiri.

4. Weda Dan Dharma
Yang menjadi tujuan pokok Mimamsa adalah : Menyusun aturan dan teknik untuk menerangkan ajaran Weda terutama tentang pelaksanaan Dharma. Yang dimaksud dengan dharma disini adalah upacara-upacara keagamaan yang bersumber pada Weda, termasuk pula tuntunan kesusilaan. Dalam prakteknya Mimamsa sangat mengutamakan kesusilaan karna dinyatakan bahwa orang yang kotor secara kesusilaan sangat sulit dibersihkan melalui Weda. Kebersihan dalam kesusilaan merupakan syarat mutlak didalam pelaksanaan upacara. Karna menurut Mimamsa dharma tidak menghasilkan buahnya secara langsung, melainkan dengan pelantaraan, artinya : sekalipun orang melaksnakan segala upacara keagamaan dengan betul dan berdasarkan kemurnian kesusilaa, ia tidak langsung memeetik buahnya perbuatan itu. Hal ini terlebih-lebh berlaku bagi apa yang dianggap sebagai hasil tertinggi segala korban , yaitu sorga. Hasil ini baru akan dicapai setelah orang meninggal dunia.
Menurut Weda, dharma meliputi dua macam tindakan yaitu tindakkan yang diwajibkan, baik berlaku pada umumnya, maupun yang berhubungan dengan upacara-upacara berkala, dan tindakkan yang tidak diwajibkan, yang fakultatip. Mula-mula Mimamsa mengajarkan, bahwa tujuan hidup manusia yang terakhir ialah mencapai sorga, akan tetapi kemudian Mimamsa menyesuaikan diri dengan sistim-sistim yang lain, yaitu Moksa (kelepasan). Jalan untuk mendapatkan kelepasan adalah pelaksanaanupacaraaupacara keagamaan seperti yang diajarkan oleh kitab Weda, yaitu tindakan-tindakan yang diwajibkan dan menjauhkan diri dari perbuatan yang terlarang. Karena keinginan yang berlebih-lebihan untuk mempertahankan kebebasan dan keutuhan Weda, Mimamsa tidak memberikan tempat tempat kepada Tuhan di dalam sistimnya. Weda tidak memiliki penyusun, baik manusia maupun Tuhan di dalam sistimnya. Seandainya dunia ini dijadikan oleh Tuhanyang mahakuasa dan maha pemurah, tidaklah mungkin di dalam dunia ada kesengsaraan. Dunia tidak dijadikan Tuhan, sebab dunia ini tidak berawal dan tidak berakhir. Tidak ada penciptaandan tidak ada peleburan dunia. Tidak ada waktu dimana akan ada dunia yang lain daripada dunia sekarang ini. Oleh karena itu juga tiada Tuhan. Bahkan dewa-dewa, yang kepadanya mula-mula korban-korban dipersembahkan apakah ada dewa atau tidak, bukan soal yang penting. Arti sistim Mimamsa ialah bahwa sistim ini menyusun aturan-aturan untuk menjelaskan Weda. Hal ini memang perlu sekali.
5. Tentang Alam
Berbicara mengenai alam semesta Mimamsa mengatakan bahwa alam ini real dan kekal serta terjadi atom-atom yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat oleh Tuhan karena alam ini ada dengan sendirinya. Kedua aliran Mimamsa baik Prabhakara maupun Kumarila Bhata sama-sama mengajarkan adanya empat unsur di alam ini yaitu : Substansi, kualitas, aktifitas dan sifat umum.
Substansi menurut Prabhakara terdiri dari sembilan (9) yaitu:
• Bumi
• Air
• Api
• Hawa
• Akasa
• Akal
• Pribadi
• Ruang
• Waktu
Sedangkan Kumarila Bhata mengajarkan ada sebelas (11) bagian substansi yaitu sembilan yang diajarkan oleh Prabhakara dan ditambah dengan unsur lagi yaitu : kegelapan (tamasa) dan suara (sabda). Substansi, kualitas dan sifat umum sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dan dibedakan secara mutlak walaupun ketiga-tiganya mewujudkan satu kesatuan yang bulat. Dan substansi-substansi ini bukan terdiri dari atom-atom yang tidak dapat diamati. Hal itu disebabkan karena kitab Weda tidak menyatakan hal demikian itu. Bagian-bagian substansi dapat dapat diamati juga, seperti debu yang tampak di dalam sinar matahari.
FILSAFAT WEDANTA
1.Pengertian Wedanta
Wedanta berasal dari kata weda-anta,artinya bagian terakhir dari weda. Kitab Upanishad juga disebut dengan Wedanta, karena kitab-kitab ini mewujudkan bagian akhir dari Weda yang bersifat mengumpulkan. Disamping itu ada tiga faktor yang menyebabkan Upanishad disebut dengan Wedanta yaitu:
1. Upanishad adalah hasil karya terakhir dari jaman Weda.
2. Pada jaman Weda program pelajaran yang disampaikan oleh para Resi kepada sisyanya, Upainishad juga merupakan pelajaran yang terakhir. Para Brahmacari pada mulanya diberikan pelajaran shamhita yakni koleksi syair-syair dari zaman weda. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran Brahmana yakni tata cara untuk melaksanakan upacara keagamaan, dan terakhir barulah sampai pada filsafat dari Upanisad.
3. Upainishad adalah merupakan kumpulan syair-syair yang terakhir dari pada jaman Weda.
Jadi pengertian Wedanta erat sekali hubungannya dengan Upanishad hanya saja kitab-kitab Upanishad tidak memuat uraian-uraian yang sistimatis. Usaha pertama untuk menyusun ajaran Upanishad secara sistimatis diusahakan oleh Badrayana, kira-kira 400 SM. Hasil karyanya disebut dengan Wedanta-Sutra. Sebelum Badrayana telah ada orangg-orang yang berusaha menyusun ajaran Upanishad, akan tetapi paling terkenal adalah Badrayana, dalam Bhadgawadgita hasil karya beliau disebut Brahma Sutra.
Kitab Brahma Sutra/Wedanta Sutra, Upanishad dan Bhagawadgita, ketiga buku tersebut menjadi dasar filsafat Wedanta.
2. Pokok- Pokok Ajaran Wedanta
Wedanta mengajarkan bahwa nirvana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini,tak perlu menunggu setelah mati untuk mencapainya.nirvana adalah kesadaran terhadap diri sejati.dan sekali mengetahui hal itu,walau sekejap,maka seseorang tak akan pernah lagi dapat di perdaya oleh kabut individualitas.terdapat dua tahap pembedaan dalam kehidupan, yaitu: yang pertama, bahwa orang yang mengetahui diri sejatinya tak akan di pengaruhi oleh hal apapun. Yang kedua bahwa hanya dia sendirilah yang dapat melakukan kebaikan pada dunia
Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa filsafat Wedanta bersumber dari Upanishad. Brahma Sutra/Wedanta Sutra dan Bhadgawadgita. Masing-masing buku tersebut memberikan ulasan isi filsafat itu berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh sudut pandangannya yang berbeda. Walaupun obyeknya sama, tentu hasilnya akan berbeda. Sama halnya dengan orang buta yang merabah gajah dari sudut yangg berbeda, tentu hasilnya akan ber beda pula. Demikian pula halnya dengan filsafat tentang dunia ini, ada yang memberikan ulasan bahwa dunia ini maya (bayangan saja), dilain pihak menyebutkan dunia ini betul-betul ada, bukan palsu sebab diciptakan oleh Tuhan dari diriNya sendiri.
Karena perbedaan pendapat ini dengan sendirinya menimbulkan suatu teka-teki,apakah dunia ini benar-benar ada ataukah dunia ini betul-betul maya. Hal ini menyebabkan timbulnya penafsiran yangg bermacam-macam pula. Akibat dari penapsiran tersebut menghasilkan aliran-aliran filsafat Wedanta. Secara umum aliran filsafat Wedanta ada tiga ya ng terkenal yakni: aliran Adwaita oleh Sankara, Wasistadwaita oleh Ramanuja dan aliran Dwaita oleh Madhwa.
Pokok dari agama Weda seperti yang tampak pada kitab-kitab Weda itu tetap besar pengaruhnya didalam perkembangan agama Hindu. Tetapi walaupun kitab-kitab Weda itu masih tetap menjadi kitab-kitab tersuci orang-orang Hindu, kitab-kitab itu sudah tidak mempunyai arti yang besar lagi bagi praktek agama. Bahkan di jawa nampaknya kitab-kitab Weda itu tidak pernah dikenal. Bahasa yang digunakan didalam weda-weda itu tak lama kemudian tidak terbaca lagi oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu tidak berselang lama sudah ditulis orang berbagai tafsiran(komentar) tentang Weda-Weda itu. Komentar-komentar ini dimulai pada apa yang disebut “Brahmana “. Aliran Filsafat Wedanta Filsafat ini sangatlah kuno;yang berasal dari kkumpulan literatur bangsa Arya yang dikenal dengan nama Veda. Vedanta ini merupakan bunga diantara semua spekulasi, pengalaman dan analisa yang terbentuk dalam demikian banyak literatur yang dikumpulkan dan dipilih selama berabad-abad. Filsafat vedanta ini memiliki kekhususan. Yang pertama, ia sama sekali impersonal, ia bukan dari seseorang atau Nabi.
Sistem filsafat wedanta juga disebut uttara Mimamsa kata”wedanta” berarti”akhir dari weda. Sumber ajarannya adalah kitab upainishad. Maharsi V yasa menyusun kitab yang bernama Wedantasutra. Kitab ini dalam Bhagavad Gita disebut Brahmasutra. Oleh karna kitab Wedanta bersumber pada kitab-kitab Upanishad, Brahmasutra dan Bhagavad Gita, maka sifat ajarannya adalah absolutisme dan teisme. Absolutisme maksudnya adalah aliran yang meyakini bahwa Tuhan yang Maha Esa adalah mutlak dan tidak berpribadi (impersonal God), sedangkan teisme mengajarkan Truhan yang berpribadi (personal God).
1. Adwaita
Sistem Wedanta yang terbesar dan terkenal adalah Adwaita, artinya “tidak dualisme” maksudnya Adwaita menyangkal bahwa kenyataan ini lebih dari satu (Brahman), walaupun demikian sistim ini bukan bersifat monistis yang mengajarkan bahwa segala sesuatu dialirkan dari satu azas saja, melainkan disamping dari Brahman masih ada Atman yang merupakan sumber kekuatan. Penganjur yang terbesar dan terbanyak pengaruhnya dari aliran ini adalah sankara(788-820 masehi). Sankara ragu-ragu akan ketentuan dari Upanisad yang menyatakan bahwa dunia ini diciptakan oleh Brahman, akan tetapi tidak percaya akan keaneka ragaman di alam ini sebagai yang di anjurkan oleh Ramanuja. Kalau dunia betul-betul ada dengan nyata,maka tidak mungkin keaneka ragaman itu,tidak ada. Dengan pemikiran ini berusaha untuk mempertemukan pendapat-pendapat yang bertentangan itu dengan berdasarkan pada upacara dalam Sweta Swatara Upanisad, yang menyatakan bahwa asal (prakrti) dari pada dunia ini terletak pada kekuatan sulap (maya) . Dengan demikian Brahman dengan kekuatannya MayaNya dapat memperlihatkan segala yang kita lihat ini, sehingga menghalangi pengetahuan kita yang sebenarnya itu yaitu Brahman dengan keanekaragamannya. Kekuatan Maya dari Brahman dapat menipu diri manusia,antara lainn:
• Membuat manusia tetipu mengenai dunia yang kita liihat.
• Tertipu tentang apa yang sebenarnya Tuhan itu.
Ramanuja juga menguraikan tentang Maya, tetapi Maya yang dibayangkan adalah sesuatu kekuatan yang maha indah dari pada Tuhan. Untuk benar-benar menciptakan segala yang kita lihat di dunia ini, yaitu sesuatu kekuatan yang menjadikan dunia dari kekuatan MayaNya, sebagai yang digambarkan di depan, antara api dengan kekuatan membakarnya adalah merupakan satu kesatuan yang permanen. Demikian pula Tuhan dengan kekuatanNya adalah merupakan satu kesatuan. Pandangan ini berbeda dengan Sankara yang mengakui juga maya itu kekuatan Tuhan, tetapi tidak permanen.
Menurut Ramanuja, praktik yang merupakan bagian Tuhan benar-benar mengalami suatu perubahan. Sedangkan Sankara berpendapat bahwa Tuhan tak mengalami suatu perubahan dan segala yang kita lihat berubah, hanya kelihatannya saja demikian, sebenarnya tidak. Sebagai suatu contoh perubahan itu dapat dilihat antara lain:
• Perubahan wiwarta yakni; perubahan pandangan terhadap kenyataannya. Sesungguhnya tidak berubah, tetapi kelihatannya saja yang berubah. Seperti melihat ular sebagai tali, melihat awan sebagai orang-oranga, dan lain sebagainya. Apa yang dilihat tidak sesuai kenyataannya.
• Parinama, adalah perubahan dari bentuk aslinya menjadi bentuk yang lain. Seperti perubahan kelapa menjadi minyak, beras menjadi jajan dan lain sebagainya.
Ramanuja berpendapat, bahwa perubahan itu benar-benar Parinama, sedangkan Sankara menganggap bahwa perubahan itu hanyalah Wiwarta. Walaupun demikian, tetapi keduanya percaya pada Sat-Karya-Wada (Samkhya) yakni semuanya bersumber dari Brahman. Dari Brahmanlah timbulnya segala yang nampak beraneka ragam ini.
Hubungan Brahmana dengan Atma. Menurut Sankara hubungan antara jiwa dengan Brahman tidak sama dengan hubungan alam semata atau dunia dengan Brahman. Jadi jiwa tidak boleh dipandang sebagai kenyataan Brahmana, sebab jiwa telah kena pengaruh rajas dan tamas, walaupun jiwa adalah Brahmana seutuhnya. Jika hubungan Brahmana dengan alam semesta digambarkan sebagai ular yang berasal dari tali, maka hubungan jiwa dengan Brahmana digambarkan sebagai telur yang dilihat dengan kaca kuning. Telur yang putih, jika dilihat dengan kaca kuning akan tampak kuning juga. Sedangkan telurnya sendiri akan tetap putih, hanya tampaknya saja kuning karena ada alat tambahan yang disisipkan diantara telur dengan yang melihatnya. Telur disini menggambarkan Brahman, sedangkan telur yang kelihatan kuning adalah jiwa. Jelaslah bahwa jiwa bukanlah bayangan seperti halnya dengan alam semesta atau dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari pengertian jiwa atau “aku”mengandung dua pengertian yakni:
• Unsur yang identik dengan Brahman.
• Keadaan yang membatasi unsur yang identik dengan Brahman tadi,yaitu alat bathin (Bhudi,ahamkara,manas termasuk panca Budhindra dan panca Karmendhia),manusia. Satu-satunya realitas yang ada, adalah Brahman. Menurut Sankhara Brahman tidak dapat diuraikan dengan perantara sesuatu yang serba terbatas. Sankhara memberikan suatu ulasan bahwa Brahman memiliki dua rupa,dua bentuk atas dua wujud yakni;
• Para-rupa yakni rupa yang lebih tinggi.
• Apara-rupa yakni rupa yang lebih rendah. Atman bukanlah sebagian dari Brahman, melainkan Brahman melainkan Brahman seutuhnya. Oleh karena Atman adalah Brahman seutuhnya, maka Atman memiliki sifat yang sama pula dengan Brahman yakni; berada dimana-mana, tanpa terikat kepada ruang, Mahatahu,Mahakuasa,Mahaadil dan bijaksana.
Pendapat Sankara terhadap pengetahuan Menurut Kamarilah,Weda tidak memiliki penyusun,baik manusia maupun Tuhan, akan tetapi Sankara mengajarkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan ajaran Weda. Sekalipun demikian Weda bukanlah hasil karya Tuhan dalam arti yang biasa, sebab Tuhan menurunkan wahyu yang diterima oleh para Resi yang dihimpun menjadi Weda. Sankara juga mengatakan Weda akan tiada kembalipada saat dunia pralaya (akhir jaman) kemudian akan muncul kembali pada jaman berikutnya.
Ada dua macam pengetahuan yaitu; pengetahuan yang lebih tinggi (para widya) dan pengetahuan yang lebih rendah (apara widya) pengetahuan yang lebih tinggi didalamnya mengandung segala macam kebenaran,meliputi sesuatu yang lebih mewujudkan segala macam kebenaran, meliputi segala sesuatu yang mewujudkan kesatuan segala sesuatu yaitu Brahman. Pengetahuan yang lebih rendah mengenai pengetahuan dunia yang tampak ini, yang sebenarnya adalah khayalan belaka. Sarana untuk mencapai kelepasan atau menunggalnya dengan Brahman adalah:
1. Melakukan disiplin yang praktis yang disebut dengan Wairagya yaitu sikap tidak tertarik kepada duniawi. Orang yang berhasil melakukan itu, akan mendapatkan kecakapan untuk membedakan antara hal-hal yang bersifat sementara dan yang bersifat kekal, untuk meniadakan keinginan guna menguatkan kegairahan melaksanakan disiplin dan menghindari kesusahan untuk mendapatkan ketenangan dan kesederhanaan serta kesediaan menangkal diri.
2. Berusaha mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran yang tertinggi (jnana) dan mengubah pengetahuan itu menjadi pengalaman yang langsung, yaitu dengan belajar kepada guru mengenai ajaran adwaita, sehingga pengetahuan benar-benar bahwa Brahman adalah Atman, sehingga lanjutnya berusaha mencerminkan pengetahuan itu didalam hidupnya dan akhirnya merenungkan pengetahuan yang langsung.
Tuhan yang berpribadi sebagai, satu-satunya kenyataan yang berdiri sendiri (swatantra) dengan kata lain Madhwa mengakui/percaya. Dengan adanya manifestasi dari Tuhan yang beraneka ragam. Sistem Dvaita mengaggap dirinya sama tuanya dengan kitab-kitab Upanisad. Pokok ajaran Dvaita adalah perbedaan, dimana Madhva membuat perbedaan yang mutlak antara Tuhan, obyek-obyek yang bergerak maupun yang tidak bergerak, dan hanya Tuhan saja yang merupakan realitas yang merdeka. Dvaitamengakui bahwa alam semesta ini nyata (realistis), dan menerima adanya Tuhan yang berpribadi sebagai suatu kenyataan yang tertinggi (theistis). Segala sesuatu yang ada tergantung sepenuhnya kepada Tuhan, Wisnu (Sumawa dan Raka Krisnu, 1993 : 261).
Madvacharya menegaskan lima perbedaan besar, yaitu :
1. perbedaan antara Tuhan dan roh pribadi.
2. perbedaaan antara Tuhan dan materi.
3. perbedaan antara roh materi dan pribadi.
4. perbedaan satu roh dengan yang lainnya.
5. perbedaan antara materi yang satu dan yang lainnya.
Filsafat Madhva memiliki banyak titik persamaan dengan filsafatnya Ramanuja. Dalam sistem filsafat Madhva, Hari atau Wisnu merupakan keberadaan tertinggi. Alam adalah nyata dan perbedaannya adalah benar. Semua jiwa bergantung kepada Tuhan. Tuhan Hari hanya dapat diketahui melalui Weda. Pemujaan kepada Sri Krsna seperti yang diajarkan dalam Bhagavata Purana merupakan pusat dari keyakinannya. Hal ini merupakan intisari dari ajaran Madhvacharya (Sivananda, 1997 : 236-237)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s